Muhammad Membaca hingga Membaca Muhammad

—Emha Ainun Nadjib, Tulisan Epilog Buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw., karya Prof. Dr. Husain Mu’nis, diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Nursamad Kamba, terbitan Pustaka IIMaN, April 2018.

Andaikan kaum Muslimin adalah sebuah barisan besar, dulu aku merasa berada di bagian paling belakang dan pojok, tetapi semakin lama rasanya aku seperti tidak lagi merupakan bagian dari barisan itu. Aku tidak keluar dari barisan itu, hanya mungkin tak sengaja mengambil jarak, sebab semakin lama semakin berkurang pemahamanku kepada mereka. Pengambilan jarak amat diperlukan sebagai cara untuk lebih objektif dan adil memahami pasukan itu, sebab aku mencintai dan bangga pada mereka. Akan tetapi, hasilnya adalah aku semakin merasa asing kepada diriku sendiri, apalagi kalau aku melihat diriku dari maqam barisan itu. Arah perjalananku (Sabil) sama dengan derap barisan itu, yakni menempuh As-Shirath Al-Mustaqim men-tauhid ke Allah Swt. Jalan (Syari’) yang kami tempuh juga sama, karena Allah-lah yang melapangkan jalan itu. Tetapi, caraku menempuh (Thariq) jalan, pola haluan, dan presisi konsentrasiku berbeda dengan mereka. Itu ternyata juga membuat “ujung jarum tauhid” kami pun berbeda.

Misalnya, Allah memerintahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan tawaran-Nya kepada umat manusia: “Kalau memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah jejakku. Niscaya Allah pun mencintai kalian, mengampuni dosa-dosa kalian. Sebab Ia sungguh Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. Aku tidak mampu menghindari kesimpulan, bahwa itu adalah informasi dan penjelasan sangat eksplisit bahwa manusia ini hidup tak lain untuk menempuh proses percintaan dengan Allah swt. Jadi, hidup ini urusannya adalah cinta, kesetiaan, komitmen, kerinduan, dan pencapaian kebahagiaan tertinggi dan sejati. Kalau klausul ini disebut transaksi, maka yang ditransaksikan adalah kadar cinta. Kalau sebutannya adalah perhitungan, maka yang utama dihitung adalah kesungguhan dan kedalaman cinta. Siapakah pelaku utama cinta kepada Allah dan pejuang “rahmatan lil’alamin”? Muhammad Saw. Allah menyuruhnya menyampaikan fattabi’uni. Maka, pelajaran paling mendasar dan pasal utamanya adalah mempelajari, belajar dan mengikuti “Al-Sirah Al-Nabawiyah”, dari buku ini maupun buku-buku Sirah lainnya. Meng-Islam adalah lelaku “fattabi’uni”: mengenali dan meneladani Muhammad bayi, Muhammad balita, Muhammad remaja, Muhammad dewasa, hingga Muhammad alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radlitu lakumul islama dina. Maka, kesempurnaan dan keutuhan Islam seseorang mungkin harus dicapai lebih dari membaca dan melaksanakan Al-Quran, melainkan juga membaca Muhammad. Sampai pun pangkal dan ujung Nur Muhammad.

Muhammad sebagai manusia, dengan segala rincian perilaku kemanusiaannya. Muhammad manusia, yang sebisa mungkin kita temukan presisi penguraiannya dengan Muhammad Nabi dan Muhammad Rasul. Bukan sekadar Muhammad dalam peta sejarah, Muhammad dalam peristiwa-peristiwa dakwah, politik, kebudayaan dan akhlak. Tetapi yang lebih bernuansa dan berkarakter dari itu, yakni kepribadian Muhammad. Kisah-kisah tentang energi hidupnya, keluasan jiwanya, kelembutan hatinya, ketekunan perjuangannya.

Tentu benar bahwa muatan primer Islam adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul Muhammad Saw. Tetapi dalam pasal perjanjian yang ditawarkan oleh Allah itu substansi utamanya adalah “mengikuti Muhammad”. Mungkin Quran dan Sunnah adalah bagian dari Muhammad, dan bukannya Muhammad bagian dari Quran dan Sunnah. Makhluk manusia ditetapkan oleh Allah sebagai ahsanu taqwim, dan yang paling ahsan dari segala ahsan adalah Muhammad.

Di dalam pernyataan Allah itu Muhammad adalah subjek utama pekerjaan cinta. Muhammad bukan sekadar seseorang yang kebetulan dipilih untuk menyampaikan firman Al-Quran dengan lelaku Sunnah. Dengan bahasa yang mungkin lemah: Muhammad lebih utama dibanding Al-Quran. Cintaku kepada Muhammad Saw. bahkan membawaku seakan-akan melihat bahwa jika Al-Quran ini diaduk menjadi satu adonan dengan alam semesta, dengan semua Malaikat dan para Nabi dan Rasul— jadinya adalah Muhammad Saw. Sedemikian sibuk dan gugup aku dalam cinta kepada Muhammad Saw. karena Allah Swt., sehingga saya terseret makin jauh dari barisan kaum Muslimin. Tatkala Allah menyatakan Ashhabul jannati humul faizun, para penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung —yang sampai ke rasa jiwa dan pemahaman akalku juga berbeda. Anggapan umum terhadap firman itu adalah bahwa dalam barisan kaum Muslimin: laba terbesar dan tertinggi bagi kehidupan manusia adalah surga. Bagiku surga adalah kampung sangat indah permai yang disediakan oleh Allah Swt. untuk dihuni oleh manusia-manusia yang beruntung. Surga bukan keuntungan itu sendiri, sekurang- kurangnya bukan keuntungan utama atau primer sebagai hasil dari pengabdian manusia. Surga adalah tempatnya, bukan “harta benda termahal”. Keuntungan tertingginya adalah perkenan cinta Allah Swt. itu sendiri, dengan seluruh perwujudan kemesraan-Nya.

Dan itu menurut Allah Swt. bisa dicapai dengan “fattabi’uni”. Mengikuti jejak Muhammad, dengan segala keutuhan maupun rincian perilaku kemanusiaan maupun kenabian dan kerasulannya. Totalitas Muhammad tidak bisa direduksi hanya menjadi Al-Quran, tidak bisa dipersempit hanya menjadi Sunnah beliau, apalagi dibatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan Syariat dan Fiqih. Itulah spektrum Shalawat. Itulah dialektika Syafaat. Itulah “Segitiga Cinta” Allah dengan Muhammad dan siapa pun saja yang ikhlas mencintai Beliau “berdua”. Getaran cintaku yang mengalir, dan aliran cintaku yang bergetar dalam semesta dan cakrawala yang ditawarkan oleh Allah secara terang-terangan itulah yang membuat aku tidak berpikir panjang untuk bersedia diminta menuliskan sesuatu di buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw. ini. Aku terkejut sendiri oleh kesediaanku itu, sebab dengan berbagai perbedaan mendasarku dengan barisan kaum Muslimin itu, sebenarnya aku merasa tidak pada tempatnya untuk memenuhinya. Tetapi, aku tidak bisa berbalik langkah karena fattabi’un”.

*

Demikianlah. Tugas dibebankan ke pundakku untuk menuliskan Epilog bagi buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw., padahal Islamku masih tahap Prolog. Islam pada aku, pada hati dan pikiranku, atau di dalam diriku, di dalam hidup dan perjalanan perilaku sejarah pribadiku, masih Prolog, Al-Fatihah pun belum.

Aku tergolong fasih mengucapkan Al-Fatihah, Ibuku memperdengarkan dan melatihku untuk itu sejak aku di dalam kandungannya. Usia 4 tahun aku sudah berkeliling sebagai Qari`. Yang biasa kubawakan adalah “Qul shadaqallahu fattabi’u millata Ibrahima hanifa …”, “Tabarakalladzi biyadihil-Mulku wa huwa ‘ala kulli syai`in Qadir …” dan “Ar-Rahmanu ‘allamal Qur`ana khalaqal insana ‘allamahul bayan …”

Fasih bibirku. Tetapi hingga usia Abu Sittin sekarang ini tak kunjung fasih hatiku, pikiran dan apalagi kelakuanku. Oleh karena itu, pernyataan pribadiku kepada Allah Swt. yang paling relevan adalah “La ilaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu mindhdholimin”. Juga “Robbana dholamna anfusana wa in-lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal-khosirin”. Teman-temanku segenerasi, kakak-kakak maupun adik-adik generasi, bapak-kakek maupun anak-cucu generasi, berlari Islam mereka jauh melampaui perjalanan Islamku. Mereka menjadi Ulama, Kiai, Ustaz, Habib, Mursyid, bahkan Gus. Sedangkan aku pra-Muslim. Aku cucu Adam yang bodoh, miskin, dan malang. Aku lembek terhadap godaan Iblis. Aku bagaikan mualaf abadi, sehingga berteman juga dengan hanya sesama mualaf, di bagian-bagian bawah dan pinggiran dari kaum Muslimin. Aku tidak mungkin ada di arena elite para ulama, ustaz, dan Kiai. Aku tidak terletak di peta ilmu mereka. Aku tidak bisa lolos memasuki area kehebatan dan kecanggihan kecendekiawanan mereka. Tak mampu kupenuhi syarat-rukun untuk menjadi bagian dari beliau-beliau.

Aku cucu Adam yang didatangi oleh makhluk agung yang kusangka Malaikat, karena penampilan dan kostumnya—namun ternyata Iblis. Iblis melakukan pencitraan yang sempurna, sehingga aku tertipu. Kakek Adam tertipu di surga, sedang aku cucunya tertipu di Bumi, di Negara, politik, kebudayaan, perekonomian, perdagangan, yang kemudian juga memengaruhi dan mensifati perilaku keagamaan. Iblis-Iblis merajalela di setiap strata dan segmen kehidupan di Negeri dan Bumiku. Pencitraan dan pencitraan dan pencitraan. Dari pemimpin nasional hingga kopi saset. Dari Demokrasi hingga Sertifikasi Halal. Dari angka Lembaga Beras hingga Rapor Sekolah. Dari Buku Nasional hingga Baliho tepi jalan.

*

Padahal aku mualaf tak sudah-sudah. Sejak kecil aku mengikuti pengajian-pengajian untuk meningkatkan Iman dan Taqwa, tanpa pernah meningkat itu iman dan taqwa. Aku “Balita Islam” tak berkesudahan. Sebagian telah meningkat menuju dewasa, tetapi mandeg dan tersandera di stratum “Puber Islam”. Islam tidak tumbuh subur, karena aku dan para sejawat di masyarakat di mana aku berada, sangat sibuk dengan harta benda, kikis usia untuk menanggung kecemasan akan tidak bisa hidup. Maka kami masuk Sekolah, agar punya tiket untuk mudah mencari pekerjaan, sehingga demikian berkurang kekhawatiran akan tak bisa hidup.

Kalau sudah memperoleh tiket bisa hidup dari Universitas, kami harus memastikan akan bisa numpang di Lembaga Bisa Hidup, di Birokrasi Negara atau Perusahaan Swasta. Seluruh proses itu ditempuh dengan bekal ketidakpercayaan kepada tanggung jawab Allah atas makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Dengan modal ketidakyakinan bahwa Allah adalah Rahman dan Rahim sampai ke ujung kuku, pucuk rambut hingga ke lepas cakrawala, bahwa Allah adalah Halim Karim ‘Aziz Hakim dari tepian langit hingga ke lubuk Bumi, dari galaksi-galaksi raksasa hingga pori-pori terkecil di mengalirnya darah dan melingkar-lingkarnya usus.

Aku harus memulai kembali Islamku dari momentum perjanjian azali “Alastu birabbikum”, hingga janin di dinding rahim Ibunda, sampai ke rumah-rumah tetangga, masyarakat luas, tanah air yang menghampar, bahkan Negara yang berwajah campuran Malaikat dan Iblis. Tak bisa lagi kuteruskan mengucapkan Syahadatain tanpa berada dan mengalir dalam dialektika dengan segala sesuatu yang tak ada sezarah apa pun yang tidak terkait dengan Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Tak bisa kuucapkan Basmalah dengan Rahman dan Rahim yang tak tecermin pemaknaan dan kesadarannya pada setiap langkah kaki dan segala perilaku hidupku.

Tak mungkin lagi kuucapkan Maliki Yaumiddin dengan tanganku menggenggam erat lembar Sertifikat “Pemilikan” Tanah, serta dua kaki berlari mengejar kekuasaan dunia. Hancur martabatku dengan hidupku yang sekarang tatkala mulutku melantunkan Iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’in. Setan-setan dan seluruh isi jagat raya yang tidak punya kelaziman untuk tertawa, mungkin akan tertawa ketika kumohon kepada Allah Ihdinash-shirathal mustaqim. Karena Allah sudah menjawab dan memenuhinya beribu-ribu kali, namun jalan petunjuk-Nya itu tak pernah benar-benar kujalani dan kulewati. Seluruh Al-Fatihah-ku menyumbang partikel gempa, longsor tanah, letusan gunung, dan badai raksasa. Aku mencitrakan diri di hadapan Allah Swt. dengan pura-pura memohon agar ditempatkan di Shirathalladzina an’amta ‘alaihim, padahal aku tak pernah mau berhijrah dari Ghoiril maghdlubi ‘alaihim waladl-dholin. Dan aku merasa aman-aman saja, karena sedemikian Shobur dan Halim-nya Allah. Karena ada semacam perlindungan sesaat di Amhilhum ruwaida.

*

Maka tulisan Epilog ini adalah mengingat kembali wilayah yang selama berabad-abad ini bukan tak dirambah dan dikembarai, tetapi belum pernah disadari keutamaannya dalam proses bercocok tanam Islam dalam diri manusia. Buku ini dimaksudkan untuk mendorong pengetahuan dan keyakinan betapa pentingnya membaca “Sirah” Rasulullah Saw., untuk men-janin-kan kembali Islam dalam jiwaku, melahirkan kembali Islam dan hidupku, memproses pengutuhan keislamanku, serta siapa sajayang Islamnya masih serendah aku. Secara dinamis (mutaharrik, ijtihadiyah) “peng-utuh-an” itu mungkin bisa juga ditempuh dari atau pada “penggenapan” dari keganjilan atau kondisi ganjil. Atau “penyempurnaan”(mutakamil) dari kondisi cacat. Sempurna bukan keadaan tanpa kelemahan dan kekurangan, sebagaimana dimengerti oleh pengetahuan umum, serta sangat dimutlakkan kebenarannya. “Sempurna” adalah suatu maqam dan wujud di mana makhluk, alam atau manusia, berkondisi “se-presisi mungkin” terhadap atau dengan yang Allah maksudkan tatkala menciptakan mereka. Kekurangan, kelemahan atau relativitas, dengan demikian, adalah bagian dari kesempurnaan makhluk, yang berbeda dibanding kesempurnaan Khaliq. Kesempurnaan Allah itu absolut, mutlak. Kesempurnaan makhluk itu nisbi, relatif.

Sedangkan aku hidup di tengah para bukan Tuhan yang memutlak-mutlakkan pendapat dan ucapan-ucapannya. Bagaimana mungkin tetumbuhan Islam di dalam hidupku tidak menjadi kerdil dan mogol? Seorang Muslim yang tidak mengalami urutan dan pemetaan pengetahuan tentang “Sirah Nabawiyah”, ibarat seorang pengkuliner yang melahap makanan tanpa mengerti asal-usul makanan itu. Makan hasil masakan tanpa mengetahui bahan-bahannya, tanpa menghayati bagaimana makanan itu dimasak, siapa saja yang memproses masakan itu, bagaimana “ilmu” dan “politik” dapur masakan itu, apalagi menganalisis kenapa bahan-bahan sekaya dan sedahsyat itu menghasilkan makanan yang sama sekali tidak sepadan dengan bahan-bahan dasarnya.

Atau mengenyam dan menikmati bebuahan tanpa mengingat kembang dan daun-daunnya. Tanpa pengetahuan tentang ranting, dahan, pohon, dan akarnya. Tanpa penghayatan tentang asupan dari dalam tanah yang membuat pohon itu hidup dan berbuah. Apalagi menemukan tanah adalah bumi, bumi adalah bagian dari langit alam semesta yang tak terjangkau keluasan dan kekayaannya. Terlebih lagi merasakan atau mengembarai rentangan garis-garis antara setetes rasa manis dalam sebiji buah dengan pembagian kerja para Malaikat. Muslim yang Muslim ketika merasakan sapuan angin, menatap gunung, rumbai dedaunan, merasakan hangat dari cahaya matahari, serta mengalami penglihatan, pendengaran atau perabaan dan perasaan apa pun saja—tidak bisa tidak ingat kepada Allah. Aku belumlah seorang Muslim yang Muslim yang seperti itu, yang keislamannya dibimbing oleh proses panjang perjalanan Iman-nya, di mana ia mengimani Allah dengan menemukan keimanan di setiap pengalamannya dengan setiap ciptaan dan segala kehendak-Nya. Aku belum manusia dengan ke-Muslim-an di mana tidak mungkin tidur kalau tidak di pembaringan keridaan dan ranjang kepasrahannya kepada Allah. Tidak mungkin bangun dari tidur tanpa pertama-tama mengingat Allah.

Tidak pernah mengalami kebahagiaan dan dukacita, kegembiraan dan kesedihan, kemudahan dan kesulitan, tanpa menemukan keterikatannya dengan qadla dan qadar Allah Swt.

*

Mungkin aku tergolong di antara para Muqallidin dari kalangan kaum Muslimin yang mengenal Islam sebagai “barang jadi”, sebagai “produk baku” yang diproduksi oleh “Pabrik” kaum ulama, ustaz, kiai atau masyayikh. Mereka disebut dan menyebut diri mereka “masuk Islam”, bukan “Islam masuk ke mereka”. Mereka diperkenalkan kepada Islam dalam packaging mazhab-mazhab, aliran-aliran, dan tipologi-tipologi. Aku dan mereka bukan Tabiit-tabiinar-Rasul, melainkan pengikut pengikut ulama, kiai, dan ustaz. Dengan mohon maaf apabila memakai bahasa jujur dan transparan, namun pasti terasa vulgar dan kasar: Al-Muqallidin, termasuk aku itu, adalah konsumen dari para “Makelar” atau “Broker” Islam, yang bahkan mendirikan dinding tebal tinggi jangan sampai mereka merasa sah dan mampu untuk memperoleh akses langsung dari sumber primer Islam dan Sirah Rasul. Atau para Muqallidin itu semacam Narapidana di Penjara Mazhab, di mana setiap akses mereka dengan wilayah di luar penjara sepenuhnya ditentukan oleh otoritas “Majelis Sipir”, bahkan “Ormas Sipir”, “Gank Sipir” ataupun “Mafia Sipir”. Para Narapidana di-brainwash, dicuci otaknya, dibuat meyakini tiga hal yang memosisikan mereka. Pertama, kaum narapidana tidak memiliki kredibilitas keilmuan untuk mengakses dunia sejati dan alam luas di luar Penjara. Kedua, kaum narapidana tidak memiliki hak politik untuk mengakses langit dan bumi di luar penjara. Dan ketiga, mereka wajib taat kepada “Mafia Sipir”, sebab jika tidak, mereka akan kehilangan peluang untuk mendapatkan rida dan memperoleh berkah dari Allah Swt. Para narapidana menjalani hidup dengan pendapat dan keyakinan bahwa segala hal yang menyangkut kuasa dan kasih sayang Allah, jalannya hanya melalui “Mafia Sipir”.

*

Oleh karena pada “stratum” inilah maqamku dan banyak kaum Muslimin sampai detik sekarang ini, maka Epilog ini harus bersegera menyatakan bahwa jangan sampai tulisan ini ternyata berasal dari “Sipir yang lain”. Epilog ini harus segera menyatakan bahwa yang direkomendasikan kepada para pembaca adalah membaca buku ini, bukan epilognya. Tulisan tempelan di akhir buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw. ini harus dihalangi oleh para pembaca jangan sampai menjadi tambahan masalah. Jangan menjadi embrio “Mazhab” baru.

Jangan sampai tulisan Epilog ini diperlakukan oleh para pembaca sebagai berposisi qath’i, sebagaimana kebiasaan berabad-abad kaum Muslimin memosisikan kitab-kitab tafsir, fatwa para ulama, buku-buku kaum cendekiawan Muslim, serta muatan tausiyah para kiai dan ustaz, sebagai seakan-akan firman Allah itu sendiri. Sebagaimana tradisi pengetahuan kebanyakan kaum Muslimin selama 1,5 milenium yang tidak memahami gradasi dan stratifikasi substansial dari atau antara firman Allah, hadis mutawattir, hadis sahih, syubhat, pendapat ulama, omongan kiai, klaim ustaz, obrolan di beranda Masjid dan celekopan di Gardu.

Mungkin karena kemiskinan ilmu dan kekhawatiran eksistensial, tidak sedikit ulama, kiai atau ustaz, juga mufassirin, yang “meng-Quran-kan” pendapatnya, sampai terjungkal “meng-Allah-kan” dirinya. Sehingga tercipta tradisi pemahaman kaum Muslimin yang menyangka fatwa ulama, pernyataan kiai dan pendapat ustaz, disangka berposisi sama bakunya dengan firman Allah atau hadis Nabi. Kaum Muslimin disuguhi “prasmanan makanan” Islam tanpa diajak untuk mengerti kebun dan sawah asal-usulnya, apalagi spektrum bumi dan langitnya. Sampai-sampai tidaklah tepat menyebut kaum Muslimin, karena “agama” mereka adalah mazhab, golongan, aliran, bahkan ormas, paguyuban, klub atau gank.

*

Dengan kondisi seperti itu, maka yang paling aman bagi para pembaca adalah “jangan percaya kepada tulisan Epilog” ini. Yang Insya Allah afdal dilakukan oleh kaum Muslimin adalah memulai kembali mengenali Islam dengan autentisitas pemahaman ilmu dan keutuhan historis. Itulah sebabnya buku seperti Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw. ini perlu diperbanyak, diterbitkan, dan disosialisasikan.

Kaum Muslimin pada abad ini berada di tengah peradaban dunia yang zalim kepada Allah, yang sistem kepercayaannya, konsep berpikir dan aplikasi peradabannya berpanjang-panjang meremehkan fakta Nubuwwah dan Risalah. Peradaban umat manusia di dunia yang tak pernah berhenti membangun kebencian dan permusuhan. Dari formula-formula baru penjajahan global—sejak perang Timur-Barat, Kiri-Kanan, Huntingtonism, Balkanisasi, Arab Spring, hingga proxy war, perang asimetris, strategi-strategi Talbis, perebutan Israel-Palestina, padahal hingga kisaran diameter Masjid Al-Aqsha dan Masjid Al-Haram adalah pusat berkah Allah bagi penduduk bumi. Pada diameter itu pulalah terletak refleksi paling nyata dari informasi- informasi Allah.

Peradaban abad 21 di Bumi tidak akan bisa menyembuhkan dirinya karena iman global mereka adalah kesengajaan mensalahpahami hakikat manusia, makhluk dan Khalifah, membiaskan makna Agama dan sudah terlanjur membakukannya dalam Ilmu dan Konstitusi. Kaum Muslimin, terutama di Timur Tengah asal-usul kampung halaman pilihan Allah untuk hidayah Islam, bukan hanya tidak memosisikan dirinya sebagai mujahid tauhid, mushlihin atas kemusyrikan ilmu global dan kekufuran sistem modial yang kini bergulir. Kaum Muslimin, bahkan pun Tuan Rumah Haramain, justru menjadi bagian dari penzaliman Allah dan peleceh Rasulullah. Menjadi komponen penghancuran manusia dan umat. Menjadi onderdil, mur dan baut, roda dan gir, dari mesin raksasa Iqamidh-dhulumat dan Intisyaril-Fasad.

Ungkapan-ungkapan itu bukan kutukan, keluhan atau keputusasaan. Andaikan kalimat-kalimat di atas alinea ini adalah penyadaran dan kesadaran, yang kemudian menghasilkan kesepakatan bersama Kaum Muslimin dunia untuk “Jihad Fi Sabilillah”, “Perang Sabil” total hingga Syahid-Syuhada—penulis Epilog ini menyetujuinya secara ghirah dan rasa keagamaan, namun menawarnya secara ilmu dan siyasah. Sebab apalagi “Qital” dan “Qishash” itu salah satu klausulnya adalah “membunuh para Kafirun”, maka pertama-tama yang kita bunuh adalah diri kita sendiri. Yang langsung harus kita tikam adalah dada kita sendiri.

Tetapi di tengah proses itu dilaksanakan, muncul perdebatan: apakah Muslim, musyrik, munafik, dan kafir itu identitas ataukah perilaku? Kalau identitas, ia baku dan dasarnya formalisme teknis dan simbolis. Kalau perilaku, ia dinamis berdasarkan proses perilaku setiap orang, yang membuat tak seorang pun bisa disimpulkan secara permanen bahwa ia Muslim atau kafir. Sebab tak seorang manusia pun yang perilakunya seratus persen baik dan benar, juga tak seorang pun yang sepenuh-penuhnya buruk dan salah, atau total Muslim atau kafir di mata Allah.

*

Maka aku sendiri memulai masuk ke wilayah sebagaimana yang direkomendasikan oleh buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw. ini dengan premis dasar bahwa aku berada di tlatah terbodoh, terfakir dan terendah, serta pada stratum di mana selama ini inni kuntu minadh-dholimin. Untunglah Allah Swt. membukakan peluang “Taubah Nashuha” dan “Husnul Khatimah”. Andaikan pada awal perjuangan melahirkan Islam kembali di dalam diriku ini, Ia memanggilku, semoga yang diulurkan oleh-Nya adalah tangan Al-Ghofur, Al-Ghaffar, Al-‘Afuww, Ar-Ro’uf serta gelombang Al-Wadud-Nya.

Ya Allah wa Ya Muhammad. Ke mana saja gerangan aku diseret oleh kebodohanku? Terjerembap terjungkal dibanting oleh kemiskinan akal pikiranku? Haus dan kering oleh dangkalnya jiwaku dan tipisnya imanku? Akan sampai berapa lagi harus kutempuh jalan untuk mengislamkan diri faqirku ini? Di senja usiaku hari ini baru kusadari betapa aku baru akan memulai Islam pada hidupku. Wallahua’lam entah kapan di tengah antrean ini aku dipergoki oleh Baginda Izroil, padahal baru kumulai kembali Membaca Muhammad, agar suatu hari nanti bisa sedikit kupahami bagaimana Muhammad Membaca. Aku mengawali kembali perjalanan memasuki hutan rimba dan sekolah semesta “Iqra`”. Sejak Baginda Jibril Malaikatullah ‘alaihis-salam mengantarkan perintah “Iqra`” di Gua Hira kepada Muhammad, sampai 14 abad kemudian, telah diijtihadi, dieksplorasi, dan disimulasi oleh ribuan Ulama dan ratusan juta kaum Muslimin tentang “membaca apa”. Misalnya membaca segala sesuatu fil afaqi wa fi anfusikum: informasi Allah di jagat raya atau alam semesta, informasi Allah di dalam diri manusia, serta “Al-Quran literer”, informasi teks, firman yang berupa kata, kalimat, dan susunan makna-makna. Kemungkinan besar aku selama ini salah atau “kuper”, sehingga tidak cukup menjumpai ijtihad dan kreativisasiku, serta kaum Muslimin termasuk para Ulamanya—tentang wilayah “siapa yang membaca” (man-il Qari`) dan juga misalnya “bagaimana cara membaca” (kaifiyatul qiro’ah), serta wilayah-wilayah lain yang terkait secara “komprehensi dan keutuhan formula kaaffah”. Telah datang kepadamu dan kepadaku Muhammad dengan Al-Quran di tangannya: apakah keluarga dan Sekolah pernah melatih kita untuk mengerti bagaimana membaca Muhammad dan Al-Quran?

Peradaban abad 20-21 ini menyiapkanku dan engkau menjadi manusia stratum berapa? Manusia utuh atau cacat? Manusia luas atau sempit? Manusia memanjang-pandangan atau memendek? Manusia mendalam atau mendangkal? Manusia penghayat kehidupan atau manusia penyembah benda yang dihartakan? Manusia pentauhid uang, keduniaan, ilmu katon, materialisme? Manusia tidak takut mati tetapi cemas tak bisa hidup, sehingga menjilat penguasa dunia? Manusia mono-dimensi? Manusia tak genap pengolahan komponen-komponen kemanusiaannya? Manusia pra-manusia? Manusia pra-Jahiliah? Manusia pasien kebodohan? Manusia narapidana kedunguan Negara? Manusia sistem penganiaya kemanusiaan? Manusia pagar-pagar kebun yang lalai bercocok tanam? Manusia supremator hukum dan fiqih tanpa hikmah akhlak dan jagat raya takwa yang melingkupinya? Manusia pembaca huruf tak paham makna? Manusia pengkutu teks tanpa pencarian makna? Dengan modal kemanusiaan yang sangat rendah, retak-retak dan tidak utuh: seberapa jauh kita mampu mengakses Muhammad dan Al-Quran? Mungkin aku adalah seekor dari ribuan kambing yang digembalakan oleh para Nabi. Kambing yang makan rumput tanpa mengerti rumput dan tidak pernah menyadari bahwa aku makan rumput. Jangankan lagi mengerti kenapa memakan rumput? Bagaimana memakan rumput? Untuk apa memakan rumput? Kenapa Nabi yang menggembalakanku dan kambing-kambing lainnya? Seberapa rumput layak kumakan? Bagaimana sangkan-paran hubunganku dengan rumput, dengan pemilikku dan pemilik rumput?

Kubaca kembali Iqra`, dengan setiap kali becermin pada Sirah Muhammad. Kubaca kembali Sirah Muhammad, dengan selalu menemukan firman Allah di baliknya. Kucari pelan-pelan kenapa tidak hanya Iqra` melainkan harus bismi-Rabbik. Ketelusuri, kukembarai, kuteliti, kunikmati dengan cinta kata demi kata berikutnya, beserta logika dan dialektika rentang timbal baliknya.

Pada suatu tahap kutemukan bahwa sejauh-jauh Iqra`, tak kan kucapai keutuhan dan rasa sempurna tanpa Iqra` Muhammad. Semoga kelak bisa kualami pengertian betapa Muhammad telah lulus sangat terpuji ber-Iqra` sebelum kata Iqra` itu sendiri diwahyukan. Aku belajar membaca mengikuti bagaimana Muhammad membaca. Sampai datang kelak hari di mana Allah membukakan pintu perkenan untuk sedikit sanggup memulai Membaca Muhammad.

Yogyakarta, 23 Januari 2018

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *