WALI SONGO DAN ISLAM DI TANAH JAWA

Oleh: Ratnani Latifah

Siapa yang tidak mengenal Wali Songo?  Dalam sejarah Islam di Indonesia—tepatnya di sekitar Jawa, nama mereka sangat mahsyur di kalangan masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.  Hingga sekarang makam para Wali Songo masih sering dikunjungi para umat Islam untuk berziarah untuk mengambil berkah. Sayangnya sejarah para Wali Songo masih sangat minim dalam literatur Indonesia. Tidak banyak buku yang mengupas secara tuntas bagaimana perjuangan mereka atau awal mula penyebaran Islam. Buku ini hadir mencoba menjawab berbagai pertanyaan tentang  sejarah Wali Songo secara detail dan akurat.

Uniknya buku tidak langsung membahasa tentang Wali Songo. Terdiri dari  tujuh bab, buku ini diawali dengan sejaraha panjang  tentang asal mula keberadaan nusantara. Baik dari segi geografi, etnik penghuni,  agama yang ada di Nusantara serta pengaruh budaya Cina, Yunani—Champa, India—Persia dan Arab.  Kemudian dilanjutkan dengan jejak-jejak  pembawa Islam sebelum era Wali Songo.  Seperti  adanya makam Fatimah  Binti Maimun, Syaikh Syamsuddin al-Wasil, Sultan Malik ash-Shalih, Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Syaikh Jumadil Kubra dan banyak lagi.

Ada pula paparan menarik tentang runtuhnya kerajaan Majapahit dan mulai berkembangnya dakwa Islam, hingga mengenal Lumajang, Kerajaan Islam Tertua di Jawa. Baru kita diajak memasuki penyebaran Islam  era Wali Songo secara lengkap. Menurut pemahaman yang berkembang dalam masyarakat Jawa, istilah Wali Songo atau sembilan wali, dikaitkan dengan sekelompok penyiar agama di Jawa yang hidup dalam  kesucian sehingga memiliki kekuatan batin tinggi, berilmu kesaktian luar biasa, memiliki ilmu jawa kawaijayan, dan keramat (hal 142).

Berdasarkan nama “Wali Songo” maka jumlah tokoh yang ada pun berjumlah sembilan orang. Sayangnya banyak perbedaan nama-nama Wali Songo, yang kadang  menimbulkan kesulitan  untuk mengidentifikasi siapa yang sebenarnya  yang benar-benar  merupakan tokoh lembaga dakwah Islam tersebut.

Namun jika ditelusuri akan ditemukan nama-nama Wali Songo berjumlah lebih dari sembilan. Di antaranya adalah, (1) Raden Rahmat bergelar Sunan Ampel, (2) Raden Paku  bergelar Sunan Giri,(3) Raden Mahmud Ibrahmi  bergelar Sunan Bonang, (4) Raden Qasim bergelar Sunan Drajat, (5) Syarif Hidayatullah bergelar Sunan  Gunung Jati, (6) Raden Sahid bergelar Sunan Kalijaga, (7) Raden Umar Said bergelar Sunan Muria, (8) Jakfar Shadiq bergelar Sunan Kudus,  (9) Syaikh Maulana Malik Ibrahmi dan banyak lagi (hal 149).

Kenapa mereka diberi gelar Sunan, hal itu diambil dari kata suhun-kasuhun- sinuhun, yang dalam Bahasa Jawa Kuno bisa berarti junjungan, menghormati, meletakkan kaki seseorang di atas kepala, lazim digunakan untuk gelar menyebut guru suci (mursyid thariqah dalam Islam) yang punya kewenangan melakukan upacara penyucian yang disebut diksa  (bait dalam thariqah) dalam agama Hindu.

Para wali berdakwah lewat seni dan budaya. Cara ini dilakukan baik melalui proses pengambil-alihan lembaga pendidikan atau dukuh maupun melalui pengembangan sejumlah seni pertunjukan dan produk budaya tertentu untuk disesuaikan dengan ajaran Islam. Dari sini, lahirlah bentuk-bentuk baru kesenian hasil asimilasi dan sinkretisasi kesenian lama menjadi kesenian tradisional khas yang memuat misi ajaran Islam.

Salah satu proses islamisasi yang dilakukan Wali Songo melalui pendidikan adalah usaha mengambil-alih lembaga pendidikan Syiwa-Buddha yang disebut “asrama” atau “dukuh” yang diformat sesuai ajaran Islam menjadi lembaga pendidikan pondok pesantren (hal 166).  Selain itu ada pula pageralan dakwa melalui seni wayang dengan menceritakan epos Ramayana dan Mahabarata dalam versi Islam.   Selain memalui seni budaya, beberapa wali—di antaranya Sunan Ampel membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan-perkawainan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit. Dengan begitu ikatan kekeluargaaan di antara umat Islam menjadi kuat.

Wali Songo  dengan sistem dakwah yang damai dan  mengayomi,  telah memberikan banyak sumbangsih dalam mengenalkan Islam. Di mana mereka tidak memaksa namun melebur dalam budaya sehingga masyarakat perlahan tapi pasti bisa menerima Islam dalam keseharian mereka.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik dan patut dibaca bagi semua pihak. Apalagi bagi penikmat sejarah. Karena di sini kita akan menemukan fakta-fakta baru tentang sejarah dakwa Wali Songo di Tanah Jawa.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *