Menanti Sosok Hakim Agung Pengganti Artidjo Alkostar

Hakim Agung Kamar Pidana pada Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar telah memasuki masa pensiunnya pada 1 Juni 2018. Tentunya, satu posisi Hakim Agung di kamar pidana akan kosong.

Selama 18 Tahun jadi Hakim Agung, Artidjo mengetuk palu keras untuk para terdakwa korupsi. Ia jadi momok menakutkan dan disegani di antara Hakim Agung lainnya.

Bila menengok ke belakang sebelum menjadi Hakim Agung, perjalanan karier Artidjo dimulai sebagai aktivis jalanan dan aktif di LBH Yogyakarta. Hal itu tertuang dalam buku ‘Biografi Artidjo Alkostar: Sogok Aku Kau Kutangkap’ karya Haidar Musyafa.

Hingga awal tahun 2000-an, Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra meminta Artidjo mendaftar menjadi Hakim Agung. “Selain saya, ada Pak Bismar Siregar, Pak Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Pak Asmara Nababan yang menginginkan Bang Artidjo mendaftarkan diri sebagai calon Hakim Agung di MA melalui jalur nonkarier,” ucap Yusril, dalam buku yang dikutip era.id.

Artidjo tak mengira jika orang-orang penting dalam dunia peradilan yang merekomendasikan dirinya untuk menjadi calon Hakim Agung di Mahkamah Agung. Mantan Direktur LBH Yogyakarta itu dibuat gundah dan tidak yakin pada profesi hakim, apalagi menjadi Hakim Agung.

“Aku justru merasa ragu untuk menerima tawaran itu. Maksudnya aku meragukan kemampuanku sendiri, karena aku memang tidak memiliki keahlian dan bekal yang cukup untuk masuk di lembaga peradilan tinggi negara, tempat rakyat memperoleh keadilan,” jawab Artidjo kala itu.

Kegundahan itu membuat Artidjo sampai harus meminta restu kepada para kiai di Madura yang dihormatinya. Hingga pada akhirnya, Artidjo menyanggupi tawaran itu dan lolos ke Medan Merdeka Utara, tempat Gedung Mahkamah Agung (MA) berdiri.

Pensiunnya Artidjo bisa jadi membuat para koruptor tersenyum senang. Pasalnya sosok hakim yang selalu mengedepankan akal sehat, nurani, logika hukum dan rasa keadilan masyarakat sudah harus menggantung palunya.

Lembaga antirasuah (KPK) juga merasa kehilangan dengan pensiunnya Artidjo Alkostar. KPK menilai Artidjo sebagai sosok sangat berjasa dalam pemberantasan korupsi, termasuk banyak memutuskan perkara korupsi secara tegas di tingkat Mahkamah Agung.

“Kontribusi terhadap pemberantasan korupsi yang jejak-jejaknya jelas dan tegas. Begitu banyak putusan-putusan penting yang memberikan penguatan terhadap pemberantasan korupsi,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada awak media, Selasa (22/5).

DPR sebagai mitra dari Mahkamah Agung juga merasa kehilangan dengan sosok Artidjo yang pensiun. “Beliau salah satu aset bangsa yang mampu menjadi pengadil yang sangat baik. Memperlihatkan wujud dan karakter serta watak kekuasaan kehakiman yang sesungguhnya,” kata Arteria saat dihubungi era.id.

Lalu siapakah sosok yang bakal jadi pengganti Artidjo?

Sejak akhir 2017, MA meminta Komisi Yudisial (KY) mencari pengganti Artidjo Alkostar dan Hakim Agung lain yang memasuki masa pensiun melalui seleksi calon Hakim Agung (CHA) periode II 2017/2018.

Seleksi CHA periode II 2017 ini, MA membutuhkan enam hakim agung untuk mengisi kamar perdata (2 orang), kamar pidana (1 orang), kamar militer (2 orang), dan kamar tata usaha negara (1 orang, yang memiliki keahlian hukum perpajakan) baik untuk hakim karier dan nonkarier.

Dalam proses seleksi CHA mulai seleksi administrasi, kualitas, kesehatan dan kepribadian, hingga seleksi wawancara, baru ada dua CHA yang berasal dari kamar pidana yang lolos hingga tahap wawancara. Yakni Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Jayapura, Bambang Krisnawan dan Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Sumatera Barat, Syamsul Bahri.

Sumber : https://www.era.id

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *