Gus Mus Sang Guru

Oleh: K.H. Husein Muhammad dalam Pengantar Buku Cinta Negeri Ala Gus Mus, terbitan Penerbit Imania, 2019

Gus Mus. Nama ini begitu populer dan menjadi perbincangan publik luas dalam kurun waktu yang panjang. Seakan tak ada hari tanpa menyebut namanya. Ini karena pandangan-pandangannya dalam banyak aspek kehidupan begitu mengagumkan, kadang kontroversial. Demikian pula dalam caranya berkehidupan. Ia seorang ulama besar yang bersahaja, meski sebenarnya bisa saja menjadi majikan dengan seluruh kemegahannya. Rumahnya seperti tak pernah direhab agar menjadi lebih baik dan megah. Kendaraannya juga satu—dan itu saja untuk waktu yang panjang.

Gus Mus adalah seorang kiai, seorang pemimpin pondok pesantren. Tetapi beliau kiai unik. Ia bukan hanya menguasai kitab-kitab Islam klasik, tetapi ia sekaligusadalah seorang budayawan: seniman, penyair, sastrawan, dan pelukis. Ini yang eksklusif dari Gus Mus. Keahlian ini amat jarang dimiliki oleh kiai lain—untukmengatakan tidak ditemukan. Kita mungkin belum tahu ada kiai model ini di negeri ini selain beliau. Ia acap membaca puisi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan di tempat lain. Bukan hanya di Indonesia, Tanah Airnya, melainkan juga di negeri lain. Ia menulis novel, cerpen, dan esai.

Pergaulannya sangat luas dan terbuka. Ia bisa berkenalan dengan siapa saja, berlatar belakang apa saja, agama apa saja, jabatan apa saja, profesi apa saja, dan seterusnya. Dan semuanya diperlakukan dan didudukkan secara sama; menyambutnya dengan hangat, bersahabat, dan rendah hati. Tiap pertama kali bertemu beliau, biasanya orang-orang tiba-tiba merasa seperti bersua sahabat lama.

Sambil tetap mengaji kitab kuning di pesantrennya, Gus Mus acap keliling memenuhi undangan untuk memberikan pengajian, berceramah, atau membaca puisi. Ia adalah penceramah andal. Istilah yang populer bagi tugas ini adalah “muballigh” atau “dai”. Tetapi bukan muballigh atau dai profesional, sebab ia tak punya asisten juga tak punya tim manajemen. Pesan-pesan profetik disampaikannya dengan menawan, bisa serius, bisa bak seorang intelek, kadang kocak dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Di tengan-tengah pidato, ceramah, tausiyah, dan sebagainya, ia tak lupa menyelipkan kritik-kritik tajam yang dikelola dengan gaya sarkastik—tanpabermaksud menghina. Gus Mus tak suka menggurui atau mengindoktrinasi. Ceramah-ceramahnya menyentuh pikiran, menggugah hati, membikin segar jiwa raga dan berhasil melepaskan kegelisahan dan penderitaan. Tausiyah-tausiyahnya dalam momentum apa pun selalu dihadiri banyak orang, bisa sampai ribuan orang, dari berbagai daerah. Kata-katanya selalu disimak dan dicatat pendengar dan pengagumnya.

Pada banyak momen bersejarah, Gus Mus diinginkan banyak orang, terutama para santri dan banyak umat Islam, untuk menjadi pemimpin spiritual tertinggi dari organisasi Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama. Tetapi ia selalu saja dengan rendah hati menolak tawaran yang diimpikan dan diperebutkan banyak orang itu. Sepertinya beliau tak betah jika harus duduk di kursi resmi. Gus Mus ingin menjadi orang biasa saja yang bersahabat, bebas mau ke mana saja, mau apa saja, serta tak ingin terlibat atau terjebak dalam sistem yang tak membuatnya nyaman.

Terlalu panjang bicara indah tentang pribadi Kiai Musthofa Bisri ini. Tetapi, hal yang tak kalah penting adalah soal pandangan dan pikiran keagamaannya. Pikiran-pikiran Gus Mus,  sepanjang yang saya baca dalam tulisan-tulisannya dan dalam perbincangan bersamanya jika bertemu, begitu mendalam, luas, inklusif, dan untuk banyak hal melampaui ruang sosialnya—seperti teman akrabnya yang telah pulang, Gus Dur. Sebagian ditulis di media masa, sebagian dalam buku, dan mungkin masih disimpan di dalam buku catatan hariannya.

Nah, hari ini saya bersyukur kepada Allah, M. Zidni Nafi’, telah berhasil melacak lalu menghimpun pikiran-pikiran Gus Mus itu, yang disampaikannya dalam berbagai momen dan merekam berbagai dimensi persoalan sosial keagamaan. Saya mengagumi ketekunannya untuk kerja seperti itu. Semoga dia tidak berhenti melakukan kerja-kerja baik ini. Saya berharap buku ini dibaca masyarakat luas, siapa pun, karena pikiran-pikiran beliau bukan hanya mencerahkan dan menggairahkan,melainkan juga menggerakkan pikiran, inspiratif, dan bermanfaat. Dalam situasi sosial negara kita seperti sekarang ini, kita amat membutuhkan banyak orang dan pikiran-pikiran seperti K.H. Ahmad Musthofa Bisri alias Gus Mus ini.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *