Jendral Qasem Soleimani

Oleh Ahmad Firman Ashari

Sehabis berbuka puasa pada lima malam yang lalu, seorang senior mengirimiku sebuah pesan bergambar via whatsapp. Dalam gambar itu terlihat dirinya sedang memegang sebuah buku baru dengan gambar sampul mendiang Jenderal Qasem Soleimani yang berjudul: Jalan Cinta Sang Penumpas ISIS. Isi pesannya kurang lebih seperti ini: buku ini dibagikan cuma-cuma, buruan datang sebelum kehabisan.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan. Setelah menanyakan alamat lengkap si pembagi buku, saya bergerak cepat menyusuri lengangnya jalan raya dari Mawang ke salah satu kompleks perumahan di Tamalanrea sana. Dan syukurnya, saya masih kebagian.

Buku ini bagi saya istimewa. Bukan hanya karena saya mendapatkannya secara cuma-cuma dari seseorang yang baik hati melalui perantara seseorang yang baik hati pula, tetapi juga karena buku ini khusus mengulas tentang sosok jenderal legendaris pejuang kemanusiaan yang begitu saya kagumi. Begitu pun mungkin dengan anda sekalian.

Disebut-sebut bahwa buku ini adalah buku pertama mengenai sosok Soleimani yang terbit di Indonesia pasca teror terhadapnya di awal januari silam. Adalah Irman Abdurrahman, Alfian Hamzah dan Musa Kazim yang sukses menghadirkan buku ini dengan gaya penulisannya yang sungguh sangat memikat.

Sejak pertama kali menimangnya malam itu, saya tidak ragu bahwa buku ini adalah buku yang sangat layak untuk dibaca. Saya berdasar pada testimoni Dina Sulaeman dan Zuhairi Misrawi yang tertera di sampul belakang buku. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dua orang ini adalah pakar Timur Tengah yang paling kredibel.

Buku ini adalah buku yang luar biasa, narasi berceritanya seru, saya sangat menikmati buku ini, begitu sepenggal ungkapan dari Dina Sulaeman. Sementara Zuhairi Misrawi mengatakan bahwa buku ini merupakan karya yang sangat mendalam dikarenakan ditulis dengan data-data yang sangat kuat dalam menggambarkan sosok sang martir.

Saya tak kuasa membendung rasa haru yang datang bergulung-gulung bak tsunami tatkala membaca wasiat sang jenderal yang cukup panjang di halaman awal buku ini. Wasiat itu tak ada bedanya dengan munajat cinta dari seorang pesuluk. Salah satu penggalannya berbunyi seperti ini:

“Aku datang kepadamu tanpa bekal [tapi] dengan harapan jamuan maaf serta kedermawanan-Mu. Aku belum mengambil bekal; karena apa perlunya seorang fakir membawa bekal di sisi Yang Maha Dermawan? Jiwa dan ragaku penuh dengan harapan kepada-Mu, keutamaan serta kedermawanan-Mu”.

Soleimani sejatinya adalah pesuluk, seorang serdadu yang berjalan di koridor cinta. Soleimani jatuh cinta pada Allah dan Allah mengganjarnya dengan menjadikan semua orang mudah terpengaruh dan jatuh cinta padanya. Demikian kata Ali Akbar Raefipour, seorang pemikir strategis Iran yang lama mengamati sosok sang jenderal.

Apa yang dikatakannya itu mungkin masih bisa diperdebatkan. Tapi kata penulis, tidak ada yang bisa membantah terangnya kenyataan bahwa tak ada orang Iran yang mampu menggerakkan gunung-gunung hati begitu banyak orang di Timur Tengah seperti Soleimani. Dia bisa menjalin persaudaraan dengan kalangan Sunni di Palestina dan Afganistan, orang-orang sekuler di Suriah, orang Kristen dan Syiah di Libanon maupun di Irak.

Mengenai hal itu, mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Marco Cornelis (Eks Duta Besar Italia di Bagdad), bahwa Soleimani itu adalah orang yang tidak fanatik. Dia adalah seorang pendengar yang sabar, dia memfasilitasi dialog dengan banyak jaringan penghubung. Dan kualitas ini yang kurang dimiliki oleh AS, Israel dan Arab katanya.

Sepanjang bagian pertama buku ini, penulis mengisahkan dengan detail detik-detik sang jenderal diteror hingga pada bagaimana Teheran membalasnya dengan sikap kesatria. Bagaimana mereka menggelar arsenal rudalnya secara terbuka, mengumumkan pula secara terbuka rencana aksinya, serta mereka hanya menyasar personel dan instalasi militer AS semata.

Yang patut kita renungkan dari sikap iran menyikapi pembunuhan jenderal terbaiknya itu adalah dia tidak membalas membabi buta dengan mengabaikan norma-norma agama. Dia masih memikirkan agar dalam pembalasan itu sebisa mungkin menghindari kematian yang tidak perlu. Pembalasan itu bagi Iran harus punya basis moral agar dapat menyisakan celah bagi lawan untuk tahu kadarnya dan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya.

Pada bagian kedua, pembaca akan dibawa ke tenggara Iran, yakni di sebuah desa pegunungan di provinsi Kerman bernama Qanat-e Malek. Disanalah Soleimani dilahirkan dari sepasang keluarga petani yang miskin. Di usianya yang baru 13 tahun, dia memutuskan mengadu nasib ke kota Kerman. Namun kemudian memilih kembali ke desanya setelah delapan bulan bekerja.

Menjelang revolusi Iran 1979, dia kembali ke kota Kerman. Disana dia bekerja di perusahaan air minum. Di masa-masa itu pula dia kerap mengikuti ceramah agama dari seorang ustad bernama Hojjay Kamyab yang kabarnya adalah murid Imam Khomeini. Dari situlah semangat revolusi mulai tumbuh dalam dirinya. Cerita selanjutnya, dia ikut berperang selama delapan tahun perang Iran-Irak, hingga akhirnya nasib mengantarkannya menjadi jenderal top di Iran.

Tapi kendati dia adalah jenderal top dengan segala pengaruhnya, dia ternyata adalah orang yang sangat sederhana. Di Teheran, dia tinggal bersama istri dan dua orang anaknya di rumah yang sederhana. Ruang tamu rumahnya lebih mirip tempat pengajian katanya. Dalam berbagai kunjungannya, dia juga dikenal tak pernah meminta prosedur pengamanan ketat atas dirinya.

Di bagian ini pula, penulis mengurai banyak hal tentang politik Timur Tengah. Mulai dari bagaimana strategi pecah belah Amerika, siapa dibalik lahirnya ISIS, ego kesukuan di Irak, kelompok resistensi, perang 33 hari di selatan Lebanon, rencana negara Sunni di Irak, bulan sabit Syiah, kota rudal bawah tanah di Iran, kemerdekaan Palestina hingga pada bagaimana Soleimani membuka peta timteng dihadapan Putin untuk meyakinkan betapa pentingnya Kremlin turut serta dalam gerakan pembebasan Aleppo.

Sedangkan pada bagian terakhir buku ini, penulis membahas tentang hal yang paradoks dalam diri sang jenderal. Dimana di satu sisi dia adalah seorang komandan perang yang setiap saat memikirkan cara mengalahkan musuhnya, merancang strategi militer, menimbang taktik dan sebagainya, tapi di sisi lain juga memiliki cita rasa mistik yang identik dengan damai, sunyi, menyendiri, indah serta tanpa nafsu dan amarah.

Kata penulis, jika tak menengok pandangan dunia, pikiran dan kepribadiannya, orang tak akan bisa memahaminya. Dimana titik pijak dari itu semua bermula dari realitas. Realitas menurut Soleimani itu bertingkat-tingkat laksana spektrum. Realititas yang kasat mata ini adalah realitas paling dasar, namun kita kebanyakan terperangkap di realitas itu. Sebagaimana syair Rumi:

“Wahai sobat! Yang kau lihat pada diriku hanyalah cangkang. Selebihnya milik cinta”

Oleh karena itu, menurut Soleimani, agar kita tidak terperangkap dalam realitas itu, maka kita harus berperang melawan diri sendiri atau apa yang disebut Ali Syariati sebagai penjara ego agar dengan itu kita bisa melakukan perjalanan tanpa henti menuju kesempuurnaan.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang berbau spritualitas yang dibahas di bagian ini. Oleh karena saya papah akan hal itu, maka saya sarankan anda untuk membacanya sendiri.

Terakhir, buku ini penting dibaca oleh siapa saja yang tertarik ingin mengenal lebih jauh tentang sosok sang jenderal legendaris itu, serta ingin mengetahui situasi terkini politik timur tengah. Termasuk juga kepada mereka yang selama ini hanya memamah berita-berita timur tengah dari media-media mainstream. Ada banyak hal mengejutkan di buku ini. Termasuk dengan apa yang dikatakan Abdillah Toha dalam testimoninya di sampul depan buku:

“Membaca buku ini kita akan tahu asal usul dan siapa sebenarnya dibelakang terorisme internasional”

Olehnya itu, bacalah.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *