ISLAM YANG TOLERAN

Judul: Buku Pintar Islam Nusantara
Penulis: Muhammad Sulton Fatoni
Penerbit: Iiman
Rilis: Juni 2017

Kategori: Islam, sejarah

Ketika agama masuk ke wilayah tertentu, perlu adaptasi dengan kebudayaan setempat. Begitu pula saat Islam masuk Nusantara. Sunan Kalijaga misalnya, harus berdakwah mengenai ajaran Islam lewat epos besar identik agama Hindu, wayang.

Namun, dari adaptasi itulah masyarakat mulai memperhatikan Islam. Jelas, Islam yang dapat menggabungkan kebudayaan setempat dalam praktik hidup sehari-hari, akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat, ketimbang Islam yang memaksakan kehendak syariat.

Buku Pintar Islam Nusantara mencoba memberikan pandangan-pandangan mengenai Islam yang toleran, terbuka pada kebudayaan apa pun. Pasalnya, selama ini banyak orang gagal memahami tentang Islam Nusantara.

Ada yang menuduh Islam Nusantara merupakan gerakan anti-Arab, aliran baru, sekularisasi, pendistorsian, dan pendangkalan Islam. Ada pula yang menggugatnya sebagai bentuk sinkretis antara Islam dan agama Jawa. Bahkan ada yang menganggap ide Islam Nusantara ditunggangi oleh liberalisme dan kapitalisme.

Padahal, Islam Nusantara jauh dari pandangan itu semua. Islam Nusantara hanya mencoba mengambil kekayaan budaya yang ada di Indonesia dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan berarti, kebudayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam perlu dimusuhi. Sebaliknya, kebudayaan yang telah lahir lebih lama dari Islam itu sendiri harus ditransformasikan dalam kehidupan, tanpa melanggar kewajiban yang ditentukan.

Buku ini tidak hanya berisi kumpulan kata-kata mutiara yang selalu indah. Hampir di setiap halaman, ada gambar terkait dengan tulisan, sehingga pembaca akan lebih mudah memahami suatu permasalahan Buku tak sebatas bagi para pemikir Islam.

Selain itu, untuk mengantarkan pada pemahaman yang utuh atas konsep Islam Nusantara, Muhammad Sulton Fatoni sebagai penulis, mengawali dengan uraian tentang agama asli manusia di Nusantara, yang dilanjutkan kajian atas delegasi Nusantara yang menemui Rasulullah.

Fatoni cakap menggunakan pendekatan historis untuk menggiring pemahaman pembaca. Dengan begitu, pemahaman mengenai Islam Nusantara tidak dari pendekatan definitif semata. Lebih dari itu, pemahaman dilatarbelakangi oleh sejarah kuat.

Sumber: http://harnas.co/2018/06/08/islam-yang-toleran

Reportase : Bayu Adji Prihammanda

Editor : Nurul Hanifah

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =