Banalitas Pemikiran Pengusung Khilafah

Judul buku : Catatan untuk Felix Siauw

Penulis : Muhammad Sulton Fatoni

Penerbit : Pustaka Iman

Cetakan : Februari 2018

Tebal : 225 halaman

ISBN : 978–602-8648-23-3

 

Buku ini berisi kritikan tajam terhadap fatwa-fatwa Felix Siauw, tokoh muda berpengaruh dalam organisasi pendukung khilafah yang memiliki backing jutaan remaja yang bersedia menjadi makmumnya di dunia maya. Tentu saja, makmumnya di dunia nyata lebih banyak lagi. Pengantar dari Nadirsyah Hosen dalam buku ini sudah terasa sensasi panasnya. Dosen Senior Monash Law School ini mengatakan bahwa Felix pada dasarnya hanya pintar mengolah kata dan melakukan framing terhadap persoalan. Ide-idenya dangkal dan mentah. Namun bak gayung bersambut, remaja yang menjadi makmumnya sedang galau. Mudahlah argumen Felix merasuki mereka dan menjelma sebagai kebenaran. Buku ini membahas tema-tema yang pernah disebarkan Felix Siauw lewat media sosial, di antaranya yang selalu kontroversial adalah kewajiban menegakkan khilafah di Indonesia, keharaman mengucapkan selamat hari raya agama lain, keharaman bunga bank, halalnya barang bajakan, keharaman menaikkan harga bensin dan batasan hijab syar’i. Gaya pemikiran khas Felix adalah membenturkan fakta dengan teks-teks agama yang dipahami secara tekstual. Mirip penganut mazhab al-Zhahiri dalam konteks fikih klasik, namun dengan gaya yang lebih miskin: mencomot satu dua hadis atau ayat lalu menyimpulkannya berdasarkan analisisnya sendiri.

Idealnya, semua ayat atau hadis terkait dikumpulkan lalu dicermati bagaimana ulama mutjahid menafsirinya sebagai fundamen argumen pribadinya terhadap teks-teks sakral tersebut. Gaya pemahaman tekstual nan sempit inilah yang menjadi titik kritik Muhammad Sulton Fatoni, penulis buku ini. Menurut Fatoni teks agama yang berasal dari Alquran dan Hadis tidak bisa dipahami dengan mengandalkan common sense saja. Pesan teks agama baru bisa diformulasikan oleh mereka yang telah menguasai puluhan kompetensi, diantaranya menguasai bahasa Arab dari sastra, bayan, ma’ani, musthalah hadis, usul fikih, hafal ribuan hadis, qiyas, tafsir dan menguasai pendapatpendapat ulama sebelumnya. Sejak abad ke 4 H., menurut kiai Nahdlatul Ulama ini, tidak ada ulama yang memiliki semua kompetensi tersebut. Sebab itu, ketika berhadapan dengan teks Alquran dan Hadis merupakan keniscayaan untuk membaca pendapat-pendapat ulama mujatahid mazhab yang hidup sebelum abad ke-4 H. di mana yang kanun kaulnya sudah mapan. Nampak kemudian fatwa Felix tentang kewajiban khilafah ditegakkan di Indonesia, kewajiban yang harus panjang berjuntai menutupi dada, keharaman mengucapkan selamat hari besar agama lain, keharaman bunga bank serta keharaman menaikkan harga BBM oleh pemerintah dicukupkan pandangan Felix sendiri terhadap satu dua ayat atau hadis saja. Padahal ayat dan hadis tersebut dipahami para mujtahid mengandung varian hukum, tergantung pada amatan bahasa, sosio-kultural dan maqasidnya. Khusus menyangkut khilafah – tema inti dari seluruh dakwah Felix – hanya urusan ijtihad ulama klasik yang merupakan usaha mubazir di zaman nation state seperti sekarang. Bahkan – Fatoni mengutip pandangan Imam Al-Ghazali – masalah khilafah berpotensi melahirkan fanatisme. Fatoni, saya lihat, curiga Felix Siauw tidak bisa membaca teks bahasa Arab sehingga ia tidak leluasa mengeksplorasi kekayaan pemahaman keagaman yang ada dalam jutaan kitab turats. Menurut Fatoni, pandangan Felix ini sangat berbahaya. Terdapat kesempitan dalam pandangannya yang mudah keruh, intoleran, formal dan bebal. Pentingnya penguasaan data-data keagamaan akan menemukan valian pilihan pendapat ulama sehingga tidak konfrontal melihat perbedaan. Menurut Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, buku ini sudah lama diharap kehadirannya untuk mengkonter sepak terjang Felix Siauw yang tanpa tanding di tengah remaja muslim kota. Sesuai dengan harapan, buku ini memang benar-benar berhasil membetot argumen Felix secara argumentatif. Namun bukan tanpa cela, terutama dari gaya bahasa, dibandingkan gaya bahasa Felix yang gaul komunikatif sehingga mudah diterima kalangan remaja, buku ini masih terasa sedikit berat. Di samping itu ada inkonsistensi dari Fatoni tentang Khilafah. Di bab pengantar dia mengatakan khilafah yang diperjuangkan Felix jauh melenceng dari konsep khilafahnya Taqiyuddin An-Nabhani (hlm 6-7). Namun di halaman 55, Fatoni justru mengakui argumen khilafah Taqiyudddin An-Nabhani selaras dengan apa yang diperjuangkan Felix sehingga dia mengkritiknya sampai babak belur.

Peresensi: Habibullah, Mahasiswa Magister Studi Islam Interdisipliner

Sumber: Koran Duta Masyarakat, Edisi 7 Juli 2018

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *