Artidjo dan Mimpi Buruk Koruptor

“Melalui ketokan palunya Artidjo menjelma menjadi mimpi buruk bagi para koruptor uang rakyat. Setiap sepak terjangnya merupakan bukti integritas dan kejujuran, ” Kata Andy F. Noya, Jurnalis dan Host Kick Andy dalam endorsementnya.

Musuh terbesar negara ini ialah para koruptor yang berpolitik. Mereka telah membuat peta masa depan negeri ini suram. Padahal, seluruh rakyat berhak melihat dan menikmati masa depan Indonesia yang lebih baik. Mengingat besarnya mudarat yang ditimbulkan oleh para koruptor yang berpolitik, maka tak ada toleransi bagi para koruptor. Itulah jawaban hakim agung Artidjo Alkostar ketika ditanya oleh koleganya mengapa para pejabat yang melakukan korupsi dijatuhi hukuman berat (hal. 431). “Melalui ketokan palunya Artidjo menjelma menjadi mimpi buruk bagi para koruptor uang rakyat. Setiap sepak terjangnya merupakan bukti integritas dan kejujuran. Di zaman edan ini, bangsa Indonesia membutuhkan sosok seperti dia.” Kata Andy F. Noya, Jurnalis dan Host Kick Andy dalam endorsementnya. Hal senada diungkapkan jurnalis Mata Najwa, Najwa Shihab. Dalam endorsementnya Najwa menyatakan dunia hukum di Indonesia membutuhkan sosok yang punya prinsip zero tolerance terhadap korupsi seperti Artidjo Alkostar. Sosok hakim yang selalu mengedepankan akal sehat, nurani, logika hukum, dan rasa keadilan masyarakat. Putusanputusan hukumnya seolah mewakili hati nurani publik yang lama merindukan keadilan. Usulan pemiskinan, pencabutan hak politik, dan pemberatan vonis hukum bagi terpidana korupsi yang selalu ia gaungkan adalah horor bagi para pengemplang uang rakyat. Artidjo Alkostar bergulat dengan dunia hukum sejak ia menjadi pengacara jalanan yang memperjuangkan keadilan bagi rakyat kecil yang termarginalkan secara hukum. Melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta ia berani menangani perkara-perkara yang masuk kategori kejahatan luar biasa, seperti kasus wartawan Udin, kasus Petrus, petani tebu di Sumenep, kecurangan pemilu 1997 di Pamekasan dan insiden Santa Cruz di Dili.

Pria kelahiran Situbondo, 22 Mei 1948, itu adalah sosok yang kuat dalam memegang prinsip, berpihak pada keadilan dan ketukan palunya tanpa kompromi sehingga disegani kawan maupun “lawan”. Kiprahnya di dunia penegakan hukum Indonesia itu tidak dapat diragukan lagi. Bahkan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para pelaku korupsi dan pengedar narkotika. Hingga ada bisik-bisik penuh harap di kalangan para koruptor: “Asal bukan Artidjo hakimnya!” Kehadiran alumnus Fakultas Hukum UII Yogyakarta tersebut di Mahkamah Agung mendongkrak kepercayaan publik. Dengan semangat kejujurannya, suami Sri Widyaningsih, itu tidak kenal lelah berjuang untuk membebaskan republik ini dari ancaman para koruptor. Yusril Ihza Mahendra, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Kabinet Persatuan Nasional adalah orang pertama yang meminta Artidjo untuk maju mendaftar sebagai Hakim Agung dari jalur nonkarier. Selain itu yang merekomendasikan adalah tokoh penting seperti Bismar Siregar, Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Asmara Nababan. Namun, Artidjo menolak tawaran itu dengan alasan dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk mengemban amanat sebesar itu. Menjadi hakim itu sangat berat dan tuntutannya sangat berat di akhirat nanti (hal.15). Tawaran Yusril akhirnya diterima setelah Artidjo melakukan salat istikharoh, mempertimbangkan berbagai hal selama berhari-hari. Termasuk berkonsultasi dengan kiai di kampungnya. Dalam konsultasi, mantan aktivis kampus itu bercerita jika menolak tawaran Sang Menteri untuk menjadi hakim karena takut terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Maka dijawab oleh kiai itu, untuk melalakukan dosa tidak harus menjadi hakim terlebih dahulu. Karena perbuatan dosa bisa dilakukan di manapun dan kapanpun dan dengan cara apapun. Maka terimalah tawaran itu semoga jabatan itu membawa kebaikan dan membawa manfaat untuk umat manusia, khususnya rakyat Indonesia. Setelah mendengar nasihat tersebut akhirnya Artidjo menerima tawaran Yusril untuk maju mengikuti serangkaian tes calon hakim Agung. Hingga akhirnya Artidjo dinyatakan terpilih oleh DPR dan pada 2 September 2000 ia dilantik sebagai hakim agung oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid. Suatu ketika di ruang kerjanya di Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 9-13 Jakarta Pusat, Artidjo kedatangan tamu pengacara yang merupakan teman lama sesama pegiat aktivis kampus. Artidjo tetap menghormati tamunya dengan wajar selama yang dibicarakan bukan berkaitan dengan perkara hukum. Sampai tiba saatnya ketika teman lamanya menyampaikan maksud kedatangannya. Ia meminta pertimbangan dan bantuan agar perkara yang sedang ditanganinya bisa cepat selesai dan menyampaikan janji kliennya untuk memberi hadiah mobil mewah, uang tunai sesuai dengan jumlah yang diminta. Namun saat itulah kemarahan Artidjo meledak (hal.11). “Sebagai orang yang mengerti hukum, aku rasa kamu tidak pantas berkata seperti itu di hadapanku. Jadi tujuanmu datang kesini untuk menyuapku? Kamu berusaha ingin menyogokku?” Kata Artidjo dengan nada keras dan tegas. Kalimat itu membuat nyali pengacara itu meredup dan gemetar hingga akhirnya keluar ruangan dengan wajah ketakutan (hal.12). Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, mengatakan jangan pernah berpikir, siapapun bisa mempengaruhi Artidjo untuk melenceng dari penegakan hukum dan keadilan. Palunya selalu menggelegar, menghantam pelaku kejahatan yang masuk ke mejanya untuk diadili. Artidjo tak takut pada ancaman fisik, tak risau dengan gertakan santet, tak mempan dengan uang, dan tak peduli dengan persahabatan jika semua itu akan menodai integritasnya sebagai penegak hukum. Bagi Artidjo, kehidupan kita akan baik jika secara pribadi kita bertakwa kepada Allah dan dalam hidup bersama kita menjaga tegaknya hukum dan keadilan. Artidjo adalah salah satu contoh hakim yang ideal dalam sejarah kekuasaan kehakiman di Indonesia. Secara garis besar Haidar Musyafa merekonstruksi biografi Artidjo Alkostar dalam buku ini sejak kecil hingga menjadi hakim agung dengan menggunakan bahasa populer dan diramunya dalam bentuk novel dengan ruang imajinasi yang cukup luas. Haidar Musyafa berjuang keras mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengkaji dan mengambil informasi paling penting yang mendekati kebenaran. Buku ini ditulis dengan tujuan agar generasi muda saat ini lebih mudah dan meneladani perjuangan Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung, itu yang berani, tegas peduli, jujur dalam memperbaiki dunia penegakan hukum di Indonesia.

Secara substansi ide gagasan penulisan biografi Artidjo Alkostar merupakan karya besar karena karakter Artidjo sangat kuat dan merupakan aset paling berharga Mahkamah Agung saat ini. Namun, karena biografi tokoh direkonstruksikan dalam sebuah novel, maka dialog dalam setiap fragmen tentu tidak persis sebagaimana kejadian aslinya. Ada penambahan dan pengurangan dalam setiap dialog mengikuti selera penulisnya meskipun sudah konfirmasi kepada tokoh tersebut. Apabila dibandingkan dengan buku Biografi Tokoh Wahyu Widiana; Bekerja Tiada Henti Membangun Peradilan Agama, maka gaya penyajian dalam buku yang ditulis Muslim dan Edi Hudiata terasa lebih efektif, formal, singkat, padat namun sudah mengakomodir semua sisi perjuangan hidupnya. Model penulisan Buku Biografi Wahyu Widiana pada bagian akhir dilengkapi dengan catatan “autentik” teman dan sahabat merupakan selling point sehingga karya ini menjadi berbobot. Sementara dalam novel biografi Artidjo Alkostar catatan teman dan sahabat kurang signifikan. Penulis Buku Biografi Wahyu Widiana menampilkan beberapa foto yang menggambarkan suasana pada saat itu seperti foto Wahyu Widiana di masa kecilnya dan foto di rumah kos sederhana. Sedangkan penulis novel biografi Artidjo Alkostar tidak menampilkan foto sama sekali, padahal karya buku biografi perlu tampilan foto tokoh karena satu foto dapat mewakili 1000 kata. Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan Haidar Musyafa dalam menyajikan karya terbarunya, namun kekurangan itu telah terhapus dengan semangat ruh buku ini yaitu agar pembaca meneladani akhlak dan pribadi Artidjo yang berani, tegas, peduli, jujur dalam memperbaiki carut marut dunia penegakan hukum di Indonesia. Bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kedekatan Artidjo Alkostar dengan Adnan Buyung Nasution, menjadi aktivis kampus, perjuangan di LBH dan pergaulan yang seru bersama teman-temannya maka patut membaca buku ini.

Peresensi: Muh Irfan Husaeni, Hakim Yustisial pada Badan Pengawasan MARI, MAJALAH PERADILAN AGAMA Edisi 13 | Juni 2018

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *