Dunia dalam Genggaman Bung Karno

Judul : Dunia dalam Genggaman Bung Karno

Penulis : Sigit Aris Prasetyo

Tebal : 354 + XIIhalaman

Cetakan : I, Februari 2017

Penerbit : Imania

ISBN : 978-602-7926-33-2

Bung Karno (BK) merupakan salah satu pemimpin Indonesia yang luwes bergaul. Dia menjalin persahabatan dengan kepala negara dari berbagai belahan dunia. Keakrabannya dengan para tokoh dunia melampaui sekat ideologi, budaya, dan agama. Hal itulah yang diungkap buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno.

Pribadi Presiden pertama Indonesia ini memang menarik. “Datanglah dan bertanyalah kepada Pamanmu, Soekarno, jika memiliki pertanyaan-pertanyaan sulit,” kata Nehru kepada putrinya, Indira Gandhi (hal 86). Bahkan, Charles de Gaulle yang semula sinis pun luruh. “Saya baru saja bertemu dengan orang yang paling cerdas di muka bumi ini. Orang tersebut adalah Soekarno,” kata pemimpin Prancis itu (hal 189).

Singa podium ini tidak kaku dan pintar bercanda. Dia tak segan berlarian bersama Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Krushchev, untuk menangkap kupu-kupu di Istana Bogor. Soekarno menjawab santai protes Fidel Castro tentang cerutu buatan Inggrisnya. Katanya, “Kaum imperialis dan kapitalis itu harus diisap jadi asap dan debu.” Jawaban itu membuat Castro terbahak.

Ketika mengetahui kesengsaraan negara lain, “Penyambung Lidah Rakyat” ini berusaha membantu. Dia mengirim 500 ribu ton beras kepada rakyat India yang kelaparan. Alumnus ITB tersebut memberangkatkan Kontingen Garuda I ke Mesir guna menjaga perdamaian.

Saat menyaksikan tangisan Ben Yahya yang menceritakan penderitaan bangsa Aljazair, ayah Megawati ini berkata, “Republik Indonesia membela Aljazair. Malam ini juga saya perintahkan menteri luar negeri berangkat ke PBB,” (hal 271).

Menariknya, persahabatan dengan para tokoh dunia tidak membuat prinsip Putra Sang Fajar tergadai. Meski bersahabat dengan Charles de Gaulle, dia tetap mendukung Aljazair merdeka dari Prancis. Menurutnya, dukungan itu justru sesuai dengan ajaran revolusi Prancis: liberte, egalite, fraternite (kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan).

Bagi pemimpin yang pernah dididik Tjokroaminoto itu, perbedaan pandangan tidak boleh menghancurkan persahabatan. Alih-alih menggali perbedaan, dia mencari persamaan dalam menentang kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Bung Karno tampil sebagai nasionalis yang membenci praktik pembedaan derajat berdasarkan faktor suku, ras, dan agama. Politik luar negerinya nonblok.

“Kita ingin mendirikan satu negara semua buat semua, bukan negara untuk satu orang. Bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun kaya. Tetapi, kita mendirikan negara semua untuk semua,” tegasnya (hal 326).

Di era media sosial yang membuat komentar-komentar merusak persatuan bangsa berhamburan secara bebas, buku ini perlu dibaca. Setidaknya, dialog BK dengan Josip Broz Tito mengingatkan pentingnya Pancasila. Saat tokoh Yugoslovakia itu berpikir mewariskan tentara tangguh dan berani untuk melindungi negara, Bung Karno berpikir tentang pegangan hidup berbangsa.

“Aku tidak khawatir, karena telah meninggalkan bangsaku dengan sebuah way of life, yaitu Pancasila,” ungkapnya. Pada tahun 1990, Yugoslovakia pecah menjadi negara-negara kecil, seperti Serbia, Kroasia, dan Bosnia. Indonesia hingga kini masih utuh.

Diresensi Dedi Setiawan, Alumnus Universitas Telkom Bandung

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/persahabatan-bung-karno-dengan-para-tokoh-dunia/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *