Gus Dur, Madura dan Kelakar

Sudah jelas dari membaca judul bahwa ada tiga poin penting yang menjadi pokok utama dalam buku ini, yakni Gus Dur, Madura dan kelakar. Ketiganya memang terkenal sebagai rangkaian yang sering saling terhubung, atau kalau dalam bahasa bulenya mutual relationship. Ketiga poin ini masing-masing bias berdiri sendiri, tapi begitu terhubung, maka terjadilah simbiosis mutualisme yang ciamik.
Tidak percaya? Coba kita lihat penjabarannya.

Gus Dur dan Humor (kelakar)

Semua yang mengenal (atau minimal tau) Gus Dur pasti juga tau bahwa Gus Dur sesungguhnya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai Presiden, Kyai, Budayawan dan Penggerak sosial. Hal ini dengan mudah terlihat dari koleksi joke yang dimilikinya. Ada yang hasil dari mengumpulkan joke-joke dari berbagai macam tempat, tapi banyak juga yang buatan sendiri hasil dari observasi sekeliling. Bukti lainnya juga jauh sebelum lawakan tunggal (stand up comedy) menjadi tren di Indonesia seperti sekarang ini, Gus Dur sudah mendahului lewat pidato-pidatonya. Tak heran biro media kepresidenan saat itu mencatat pidato presiden menjadi salah satu ajang yang ditunggu pemirsa.

Maka jangan heran kalau di antara Presiden-Presiden Indonesia lainnya yang memiliki begitu banyak gelar Honoris Causa, hanya Gus Dur satu-satunya yang tidak hanya memiliki gelar tersebut, tapi juga mendapat gelar Humoris Causa dari masyarakat. Gelar yang untuk saya pribadi rasa-rasanya lebih sulit diraih.

Gus Dur dan Madura

Gus Dur dan Madura. Madura dan Gus Dur. Saling terjalin. Saling terikat. Bukan hanya karena Madura adalah negeri NU, sehingga Gus Dur yang cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dianggap sebagai lambang NU itu sendiri, dan juga bukan hanya karena penghormatan Gus Dur terhadap kiai-kiai Madura yang disegani semacam Syaikhona Kholil misalnya, tapi juga karena bagi masyarakat Madura Gus Dur dianggap memahami mereka. Gus Dur bicara bahasa mereka, secara sosio-kultural Gus Dur dianggap sejalan dengan mereka. Cerita-cerita di dalam buku ini bisalah dianggap sebagai buktinya. Itu sebabnya banyak masyarakat Madura yang mempercayai bahwa Gus Dur mampu berkomunikasi dengan Ra Lilur (K.H.Kholilurrahman, cicit dari Syaikhona Kholil) yang selama ini bahasanya tak dipahami oleh masyarakat awam.

Gus Dur juga merasa dekat dengan Madura bukan karena takzim dengan kiai-kiai Madura saja, atau karena Beliau berteman dekat dengan Pak Mahfud MD alias Mahfud MaDura kalau kata Gus Dur. Bagi Gus Dur ke-ngeyel-an dan kepolosan orang Madura dan jawaban-jawaban nyelenehnya mereka, yang kemudian sering jadi obyek lawakan Gus Dur adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran masyarakat Madura.

Madura dan Kelakar (humor)

Madura itu biang humor. Banyak orang yang malah sampai menambang banyak untung dari kelucuan-kelucuan orang Madura. Gus Dur dan SujiwoTejo itu sudah jelas salah duanya. Sisanya masih banyak lagi. Kepolosan-kepolosan dan ke-ngeyel-an yang memunculkan jawaban-jawaban nyeleneh orang-orang Madura dianggap sebagai sumber kelucuan buat masyarakat bukan Madura.

Bisa jadi humor atau kelakar tidak dimunculkan lewat eksploitasi berlebihan tokohnya, atau menyindir perilaku, tapi cukup dengan memunculkan sifat-sifat masyarakatnya yang berbeda dari pandangan umum sudah cukup untuk dijadikan kelakar. Contohnya ya bukuini. Bagaimana masyarakat Madura dengan pandangan-pandangan atas keluhuran diri mereka malah dianggap nyeleneh oleh orang luar Madura. Ini secara organic sudah cukup dianggap sebagai kelakar, apalagi pakai dikaitkan dengan Gus Dur. Jadi dobel kelakar.

Nah, untuk merangkai tiga poin utama tadi (Gus Dur, Madura dan Humor) maka dibutuhkan seseorang yang memang paham betul ketiga tema tersebut. Mbah Tejo yang memang selalu mengakui Gus Dur sebagai muridnya jelas dianggap punya pemahaman soal Gus Dur, apalagi Ia sering dianggap ‘serong’ atau ora nggenah kelakuannya, hal ini semakin menggenapi keyakinan orang bahwa Ia memang mampu memahami humor dan memahami Gus Dur. Kalau soal Madura, meski Ia keturunan Madura asli dan membaiat dirinya sebagai Madura, tapikan Ia juga besar di Bandung, sehingga kaffah atau tidaknya Ia sebagai Madura ya hanya orang Madura yang bias menilai. Saya tidak punya kapasitas itu. Saya sendiri menganggap Beliau cukup mampulah untuk menuliskan soal Madura…heuheuheu.

Tapi poin-poin yang saya bahas di atas sebenarnya tidak terlalu penting, yang paling penting bagi saya adalah alas an mengapa buku ini perlu diterbitkan lagi di tahun 2017 ini.
Ada beberapa alasan yang mungkin secara ngawur saya anggap penting kenapa buku ini perlu diterbitkan ulang, yaitu:

  • Karena kondisi makin seperti ini, dan Ia tidak punya partai, ormas, bedil, dan lain-lain. Maka yang bias dilakukan Mbah Tejo adalah menerbitkan kembali buku ini (pernyataan ini berdasarkan twit Belio-nya sendiri, kalo bingung kondisi seperti ini itu apa ya silakan Tanya langsung ke yang bersangkutan).
  • Setiap kelakar atau lelucon butuh konteks untuk bias diterima kontennya, dan berhubung konteks kebudayaan masyarakat Madura bukan sesuatu yang umum diketahui, terutama oleh generasi sekarang (karena jarang dijadikan background film, cerita, apalagi FTV) maka ada kemungkinan banyak yang tak bias menangkap kelakar dalam buku ini. Apalagi kalau tak punya referensi kejadian-kejadian politik di era Gus Dur. Makin mumet bacanya, tapi itulah yang menjadikan buku ini jadi penting. Hal ini bisa menjadi pembuka informasi bagi generasi zaman now untuk memahami saudara mereka di Pulau Garam dan memahami kondisi politik era reformasi.
  • Di situasi politik mutakhir ini, di mana tensi begitu tinggi dan masyarakat seperti lupa caranya tertawa, buku Kelakar Madura Buat Gus Dur menjadi penting. Jadi angin segar buat diskusi politik yang sekarang sering bikin panas luar dalam. Kemampuan menertawakan diri sendiri sembari bilang “ya inilah Madura…kalau dianggap lucu ya nggak papa, tapi inilah saya” jadi obat pereda nyeri buat yang saat ini sering merasa selalu benar sendiri.
  • Bahwa dikritik dan ditertawakan itu biasa. Di buku ini banyak bertaburan penjabaran soal Madura dan Gus Dur yang bisa bikin mangkel, tapi ya sudah, namanya juga kelakar. Toh, Gus Dur sendiri paling piawai membalut kritik lewat humor.

Alasan terakhir saya kira cocok untuk Mbah Tejo secara personal, yaitu apapun yang terjadi, apapun cerita soal Gus Dur yang muncul di dalam buku ini, jadi penting dikeluarkan saat ini, karena saat ini apapun yang ditulis Mbah Tejo soal Gus Dur sudah tidak akan bisa dibalas lagi oleh Beliau. Lha wong Gus Durnya sudah meninggal.

Penulis Inayah Wahid

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *