“Menghidupkan” Gus Dur Melalui Humor Madura

Oleh: Muhammad Syifa’ *)

 

Judul : Kelakar Madura Buat Gus Dur

Penulis: H. Sujiwo Tejo

Penerbit: Imania, Bandung

Cetakan: Pertama, Januari 2018

Tebal: 200 halaman

ISBN: 978-602-8648-25-7

 

Memperbincangkan Gus Dur, rasanya tak lengkap jika tak menyinggung leluconnya. Humornya tak sekedar kocak dan lucu, tapi juga cerdas dan bermutu. Menurut sang istri, Shinta Nuriyah, ke manapun Gus Dur pergi, leluconnya selalu dinanti. Biro kepresidenan kala itu mencatat pidato presiden menjadi salah satu yang ditunggu oleh pemirsa.

Koleksi lelucon Presiden Indonesia ke-4 itu sangat kaya. Salah satu yang kerap dijadikan obyek humor Gus Gur adalah orang Madura. Sebab, orang Madura khas dengan ketakterdugaan alur nalarnya. Kepolosan dan ke-ngeyelan-nya menjadikan mereka sumber humor yang tak pernah kering. Sindirannya menyengat, namun terselip hikmah dan kebenaran bersahaja.

Karekteristik itulah yang hendak dituangkan Sujiwo Tejo dalam buku Kelakar Madura Buat Gus Dur. Buku ini merangkum sebanyak 32 tulisan pendek yang asyik untuk dinikmati. Meski diakui sendiri oleh penulisnya di dalamnya terkesan campur-aduk dan amburadul. Tapi bagi pembaca yang sering mengikuti tulisan-tulisan Sujiwo Tejo tentu tak akan kaget.

Humor-humor Madura yang disuguhkan dalam buku ini amat beragam dan  disajikan berdasar tutur tinular, faktual sejarah dengan aneka rupa tokoh di dalamnya. Keragaman warna dan lelucon Madura yang dirajut dari narasi keseharian akan semakin absah dan berfaedah jika kita adalah bagian dari yang ditertawai, sebagaimana kita mentertawai diri kita sendiri.

Kita bisa menengok lelucon itu, misalnya, dalam cerita yang terjadi di tahun 2000. Saat itu rumor yang santer beredar bahwa bom-bom yang meledak menjelang Natal adalah ulah tentara. Tetapi, orang Madura tak percaya begitu saja bahwa itu adalah bom. Mereka beranggapan itu hanyalah mercon biasa seperti yang biasa dinyalakan di malam menjelang Idul Fitri. Menurut orang Madura, Jika yang bermain tentara, merconnya besar-besar. Orang sipil jika sudah menjadi tentara harus berbeda. Logikanya, saat masih kecil bermain perahu kertas. Namun jika sudah besar ganti perahu sungguhan (hal 80).

Atau simaklah kisah berikut ini. Suatu ketika Presiden Habibie bertanya, “berapa tinggi tiang bendera itu? Seseorang langsung memanjatnya. “Lho kenapa harus memanjat” Satu orang menyergah, “Kan, Bapak tadi menanyakan tinggi, bukan panjang.”

Kita juga tentu masih sangat mengingatnya, saat Gus Dur menyamakan anggota dewan dengan Taman Kanak-Kanak. Sindiran Gus Dur kala itu mendapat reaksi yang amat keras yang berujung pada ketersinggungan dari para anggota dewan. Akan tetapi, bagi orang Madura, anggota DPR itu masih beruntung disamakan dengan sesuatu yang tidak ada. Sebab, di Madura yang ada hanyalah Taman Nak Kanak (hal 53).

Pertanyaan fundamental, mengapa orang Madura sangat humoris? Dalam konteks tersebut Gus Dur pernah menulis kata pengantar di buku Mati Ketawa Cara Rusia karya Zhanna Dolgopolova (1986). “Rasa humor dari sebuah masyarakat adalah cermin daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan.”

Terbitnya buku ini di tahun politik dengan tensi yang semakin memanas rasanya sangat tepat. Jika kita menyimak dengan seksama, melalui buku ini Sujiwo Tejo sesungguhnya ingin menghidupkan kembali Gus Dur dengan humor-humor yang menggelitik. Poin penting lainnya, kita dipertontonkan cara Gus Dur menggunakan kekuasaannya dengan enteng, tanpa beban dan berani. Dengan kesederhanaan dan humor-humor segar, Gus Dur menjadikan kehidupan ini ringan dijalani. Gitu aja kok repot.

Dimuat di Koran Duta Masyarakat, Sabtu, 7 April 2018

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *