Allah Senang Mempermudah, Tapi Jangan Digampangkan

Malam ini, majelis MS juga dijadikan tempat untuk launching buku “Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam” Wah, Islam memangnya hilang kemana kok pakai mesti ditemukan kembali? Bukankah Islam selalu eksis? Namun tidak menurut Syekh Nursamad Kamba ketika berada di panggung.

Syekh Kamba selaku penyusun buku ini membabarkan bahwa apa yang kita pahami sebagai Islam pada masa ini tidak lebih daripada sekumpulan tafsir-interpretasi mengenai Islam dari kelas sosial tertentu, yang kemudian mengalami kemapanan wacana. Tentu kita tahu dari pengalaman sejarah bahwa kemapanan wacana selalu juga berkaitan dengan kemapanan kelas sosial. Ini bukan yang pertama kalinya di dunia.

Dulu Isa As juga menghadapi kaum Fariisi dan Saduki, yang bisa dikatakan agamawan moderat dan tradisionalis pada masanya. Dua kaum agamawan yang ditampung pada majelis ulama Sanhedrin demi mendukung pemerintahan pribumi ala-ala rezim Herodes. Namun pribumi tinggallah status. Pikiran para pemimpin saat itu berkiblat pada protektorat budaya dominan Romawi via Pontius Pilatus dan pedagang-pedagang kelas menengah yang mendapat kemudahan dari Pax Romanun.

Kita bisa melihat betapa subordinatnya mental kaum agamawan di Judea, manakala agamawan ahli Torat (turats?) merasa sangat perlu bicara perdamaian di hadapan kaum dominan. Padahal bukankah Pax Romanum memang menjamin perdamaian darat dan laut demi perdagangan dan ramahnya kepada investor asing?

Setiap penjajah, mestilah budaya yang sangat paham dan berhasrat pada kata “perdamaian”. Yang bicara perdamian di hadapan budaya dominan mestilah hanya sedang mencari muka di depan tuannya. Tauhid adalah cinta dan perdamaian. Tapi bukan perdamian demi kemapanan gaya hidup dan kelas sosial. Keadaan kita saat ini mungkin sangat mirip. Hanya waktu itu pemimpin majelis ulama Sanhedrin tidak begitu kepikiran untuk jadi cawapres saja. Itu tadabburan sejarah plus utak-atik gathuk versi saya, tentu saja.

Buku karangan Syekh Kamba ini memang sangat membongkar kemapanan kelas dan wacana. Bagi Syekh Kamba, setiap orang berhak menemukan dan mengalami Islam dengan eksperimentasi, observasi, pengalaman dan sejangkau pemahamannya sendiri. Di situlah bagi Syekh Kamba pentingnya tasawwuf. Sayangnya, menurut Gurutta Syekh Kamba, kemudian tasawwuf juga belakangan mengalami pembekuan dan pelembagaan tarekat. Kemudian kelas sosial dan kemapanan pun muncul kembali, selalu tidak punya kesiapan untuk dibongkar. Ada beda jauh antara tasawwuf dengan mental followers tarekat, atau tarekatisme. Ini akan saya coba babarkan dengan sedikit tadabbur data sejarah saya sendiri pada beberapa paragraf di bawah atau pada tulisan lain.

Sumber : https://www.caknun.com/2018/allah-senang-mempermudah-tapi-jangan-digampangkan/2/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *