Perihal Tauhid dan Cara Beragama Manusia Modern Resensi Buku Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam

Resensi Buku Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam

Oleh: Ahmad Wiyono*

Beberapa waktu terakhir bangsa kita dihebohkan dengan isu pembakaran sebuah bendera, yang konon beberapa orang menyebutnya ‘bendera tauhid”, meski pada akhirnya banyak orang memahami bahwa bendera tersebut adalah bendera salah satu ormas yang keberadaannya sudah dilarang di Indonesia.

Terlepas dari kontroversi penamaan dan posisi bendera tersebut, yang jelas ada dampak sistemik yang bergulir paska insiden tersebut, yaitu penggiringan isu dan doktrin terhadap banyak orang agar insiden itu diusut kemudian diminta untuk diproses secara hukum karena dipandang menistakan agama, benarkah?.

Buku berjudul Kids Zaman Now Menemukan kembali Islam ini dalam salah satu bagiannya mencoba memberikan pencerahan terkait makna dan substansi tauhid dalam kehidupan manusia, dikutip dari pernyataan Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, penulis mengungkapkan bahwa tauhid adalah sisi mendalam dari keyakinan hati akan keberadaan dan kekuasaan Allah, sehingga tak ada yang luar biasa kecuali Allah.

Ini tentu menepis persepsi sebagian orang terkait bendra tauhid, bahwa sebuah bendera apa pun tulisannya tetaplah bendera, simbol dari sebuah organisasi atau kelompok atau negara, sementara tauhid lebih pada urusan hati dan keyakinan antara mahluk dengan kholiq. Maka, persoalan tauhid adalah persoalan hati dan keimanan setiap orang yang dipraktikkan melalui kegiatan ritual yang bisa mendekatkan diri pada-Nya, bukan disimbolkan dalam bentuk barang atau material lainnya.

Tauhid merupakan fana, peniadaan diri, karena status ketunggalan Tuhan tidak mungkin dipahami dan direalisasikan jika tidak meniadaan selain-Nya, termasuk dan terutama diri yang subjek sendiri. Dalam peniadaan diri itulah Tuhan menjemput hamba-Nya. Mengapa sang hamba mengalami fana saat Tuhan menjemputnya?. Kata Al-Juaid; wujud Tuhan lebih kuat dan lebih prioritas. Jika muncul, maka segala sesuata selain-Nya menjadi terserap, dan meniada. (Hal. 168).

Sementara itu, sisi lain cara Beragama manusia modern adalah pemahaman jihad yang kadang over acting, dalam artian tak sedikit kaum Beragama saat ini yang memahami jihad dengan cara yang ekstrim dan menggunakan instrumin kekerasan. Baginya, penanganan masalah yang berkaitan dengan keagamaan selalu harus diselesaikan dengan kekerasan. Padahal islam sendiri sudah jelas merupakan agama yang Rahmatan Lil Alamin.

Dalam buku terbitan Imania ini ditegaskan bahwa substansi jijad adalah proses perjuangan manusia menemukan kekuasaan Allah, sehingga kaum beragama bisa menyelami bagaimana sifat maha pengampunnya Allah kepada manusia bahkan kepada mereka yang sering berbuat dosa sekalipun. Lantas, mengapa manusia harus selalu berbuat kasar, sementara Allah sendiri sangat lembut maha pengasih dan maha pengampun.

Esensi ajaran jihad adaah perjuangan manusia kembali kepada kesejatiannya bersama Allah (Maiyyatullah). Wajar kiranya jika gugur dalam perjuangan itu kemudian mendapatkan martabat syahid, yaitu hamba yang memperoleh hak-hak istimewa di hadapan Allahkelak. (Hal. 180). Ingat, roh jihad kaum beragama yang sebenarnya, yaitu menjadi manusia yang bisa menebar perdamaian kepada umat manusia lainnya. Selamat membaca.

Penulis adalah pegiat literasi, tinggal di Pamekasan Madura

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *