Menafsir Keteladanan Hamka

Oleh : M Ivan Aulia Rokhman

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa dipanggil  Buya Hamka, merupakan satu di antara putra Indonesia yang memiliki segudang prestasi.  Baik itu dilihat dari perannya sebagai ulama, pejuang, sastrawan, wartawan, politisi, juga kiprahnya dalam membangun peradaban bangsa Indonesia (hal 7).

Hamka mewarisi darah ulama Abdul Karim bin Amrullah, atau biasa disebut Haji Rasul. Ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria yang merupakan keturunan bangsawan. Sewaktu kecil dia dipanggil Malik. Dia mudah bosan dan sangat tidak suka sekolah. Menurutnya, cara pengajaran yang hanya mengandalkan metode ceramah membuatnya bosan duduk berlama-lama. Apalagi seperti kebanyakan anak di zaman tersebut, Malik harus menghabiskan waktunya bersekolah. Pagi di Diniyah Schooldan sore di Sumatera Tawalib untuk belajar bahasa Arab dan Al quran. Sumatera Tawalib adalah sekolah yang didirikan oleh sang ayah tetapi Malik tidak berminat sedikit pun bersekolah di sana. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya sang ayah demi melihat anak yang digadang-gadangnya seperti itu. Malik lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku di bibliotek Zainaro, semacam perpustakaan milik Bagindo Sinaro dan Syaikh Zainuddin Labay. Justru kemandirian dalam belajar seperti ini yang membuatnya kaya ilmu.

Dia senang belajar ilmu agama dan tidak keberatan belajar  tentang ilmu umum. Berbagai  buku telah dia baca. Dia berpendapat, “Ilmu agama itu memang sangat penting. Namun belajar ilmu umum juga diperlukan agar bisa  menambah wawasan.” (hal 50).

Buku ini menyajikan sejarah kehidupan, pemikiran dan perjuangan Hamka secara lengkap. Memberi motivasi, inspirasi dan spirit juang tinggi.  Sejak kecil, Hamka sudah menunjukkan sikap ulet dalam belajar dan pantang menyerah dalam usaha mewujudkan harapannya.

Ketangguhan Malik dimulai ketika dia harus menerima kenyataan perceraian kedua orang tuanya. Jatuh bangun. Jalan terjal berliku, darah dan air mata menjadi teman. Namun dia mampu bertahan. Bahkan ketika dia memutuskan untuk keluar dari sekolah di Parabek, nasib membawanya menjadi perawat dan joki kuda. Hingga di suatu kesempatan dia mengikuti pacuan kuda. Namun rupanya nasib belum berpihak padanya. Dia kalah. Karena kekalahannya maka dia didepak dari pekerjaannya merawat kuda.

Jiwa eksplorasi Malik sangat istimewa. Remaja tanggung itu minggat dari rumah mewujudkan impiannya ke tanah Jawa. Meskipun impian tersebut kandas karena ia terserang penyakit cacar. Dikisahkan bagaimana dia harus berjuang melawan penyakit tersebut sembari berharap sampai tujuan. Sense of enduring, daya juang yang semakin minim dimiliki remaja sekarang. Hanya soal waktu dan kesungguhan. Akhirnya, sampailah Malik di tanah Jawa. Dengan ridlo sang ayah, Malik merasa lebih ringan melangkah.

Di Yogyakarta ia menunjukkan ketangguhannya dalam mengeksplorasi ilmu. Malik benar-benar bergairah. Bertemu dengan tokoh-tokoh Syarikat Islam dan Muhammadiyah yang dulunya hanya ia kenal dari buku-buku koleksi bibliotek Zainaro. Di Bandung, ia bertemu dengan A. Hasan dan Muhammad Natsir yang mengenalkannya pada dunia menulis. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh pergerakan menumbuhkan hobi baru, berpidato.

Ketika akhirnya dia harus kembali ke Padang untuk berdakwah ia memilih jalur berpidato. Sayangnya, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat tidak berpihak padanya. Masa lalunya yang “kelam”, tidak mengantongi ijazah membuat apa yang diomongkan tidak mendapat kepercayaan penuh. Tak terkecuali sang ayah. Maka ia memilih keluar dan mencari takdir lain yang akhirnya menuntunnya pada impian selanjutnya, Mekkah.

Buku ini sangat inspiratif dan sarat makna. Mengingatkan untuk menjadi pribadi yang selalu ikhlas, tabah, tidak pendendam dan tidak mudah menyerah dalam berjuang. Serta mengajak untuk mencintai tanah air dan buku yang merupakan jendela ilmu.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *