Berislam dan Bertasawuf di Zaman Now

Bertasawuf adalah berislam itu sendiri. Setidaknya inilah pemikiran dan gagasan dalam buku ini. (hal.vii)

Buku berjudul Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam yang ditulis oleh Dr. Muhammad Nursamad Kamba ini menguraikan tentang bagaimana bertasawuf dan berislam sebagai pengalaman hidup. Dr. Kamba memulai uraiannya dengan mengambil tema “Tiga Dimensi Agama Islam”. Tiga dimensi agama ini ialah al-islamatau penyerahan diri dan kepasrahan, al-iman atau kepercayaan dan al-ihsan atau aktualisasi diri.

Al-Islam bukanlah bangunan agama yang melembaga, melainkan bentuk penyerahan diri dan merupakan karakteristik agama yang paling esensial. Inilah warisan para Nabi Allah sejak Ibrahim. Sebagaimana bunyi QS. Al-Baqarah 131, “Ingatlah, ketika Tuhannya berfirman kepadanya: berserah dirilah, ia patuh dan mengatakan aku berserah diri kepada Tuhan sekalian alam.” (hal.3). Penulis menguraikan bahwa esensi utama dalam salat adalah bagaimana dengan mengerjakan salat kita mampu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Salat itu semestinya bukan ditunaikan. Karena ini mengandung keterpaksaan. Semestinya salat itu didirikan sehingga salat menjadi bagian dalam diri kita. Dan dalam melakukannya, harus dengan penuh sukarela, tanpa keterpaksaan.

Buku ini juga mengkritisi banyaknya hukum-hukum Islam yang dibuat berdasarkan kepentingan tertentu. Sebagai contoh, salah satunya hukum mengenai mencukur jenggot. Ini karena selera penampilannya memilih berjenggot. Banyak hadis yang sebenarnya bukan mutawatir namun masuk dalam kompilasi hukum Islam sehingga menjadi kacau fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ahli fiqh di zaman now ini. Alquran tidak merekomendasikan adanya otoritas keagamaan. Apalagi untuk memberi label atau sertifikat halal.

Islam adalah agama tauhid. Dan yang ditauhidkan adalah tiga dimensi agama, yakni islam, iman dan ihsan. Ihsan menurut Dr. Kamba adalah sebagaimana bunyi puisi jalan sunyi milik Emha Ainun Nadjib. “Puisi yang kusembunyikan dari kata-kata”.(hal. 29). Alquran bukanlah kitab hukum, sebagaimana kitab hukum pidana atau hukum perdata. Alquran adalah way of life atau pedoman hidup manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia untuk sampai di akhirat.

Menurut penulis, ilmu tasawuf membutuhkan sense of philosophy, sebagaimana ilmu filsafat. “Meski bukan filsafat, dan bukan secara teknis tidak berhubungan dengan filsafat, tasawuf tetap membutuhkan semacam sense of philosophy” (hal. 99). Ini dibutuhkan dalam proses memahami pesan-pesan Ilahiah terkait metafisika, logika, estetik dan lain-lain. Filsafat juga berhubungan dengan dimensi agama. Pun untuk memperluas cakrawala pemikiran yang menangkap betapa luas dan besarnya semesta Ilahi.

Menerapkan dimensi-dimensi agama Islam secara berkesinambungan dan berkualitas bertujuan untuk menumbuhkan intuisi keagamaan agar tajam. Sehingga mampu memahami pesan-pesan Tuhan dalam kitab suci. Penulis juga mengomentari sistem pendidikan Islam yang berorientasi pada pendekatan doktrinal-ideologis. Sehingga output-nya menjadi nanggung.

Untuk melengkapi bahasan dalam ilmu tasawuf, penulis memasukkan salah satu tokoh agung dalam dunia tasawuf. Dia adalah Al-Junaid Al-Baghdadi. Al-Junaid memiliki nama asli Al-Junaid Muhammad Al-Junaidi. Dia lahir di Baghdad pada 220 Hijriah. Al-Junaid adalah seorang pandai kaca. Artinya, meskipun dia seorang sufi yang pasti menjalani hidup zuhud tapi tetap bekerja dan memiliki harta. Menurut Dr. Kamba, seorang zuhud bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Zuhud itu memiliki apa-apa, tetapi tidak memberhalakannya. Harta yang dimilikinya menjadi kendaraan dirinya untuk mencapai akhirat. “Al-Junaid dianggap banyak ulama sebagai imam dari pemimpin sufi.” (hal.153). Ini dikarenakan pemikiran-pemikrannya yang progresif.

Al-Junaid dan para sufii umunya menjelaskan bahwa uji kejujuran itu penting. Tanpa membuktikannya itu bisa merusak ketauhidan. Misalnya, seseorang memperlihatkan kesalahan pribadi melalui hadir salat jamaah lima waktu setiap hari. Al-Ghazali, dengan ada yang sama mengingatkan “kalian ikrar lima kali sehari bahwa salat dan ibadah-ibadahmu, hidup dan matimu hanya kepada Allah semata. Tetapi, kenyataannya, kamu bohong dan dirimu sendiri, yakni ketika muncul perasaan batinmu berhak memperoleh sesuatu dari ‘jasa’ ibadahmu.”(hal .229). Buku ini juga dilengkapi berbagai aliran tarekat, di antaranya tarekat Malamatiyah, Rifa’iyah, dan tarekat Sadziliyah.

Pada bagian terakhir buku ini penulis membahas tentang Maiyah sebagai salah satu bentuk Tarekat, yaitu Tarekat ‘Virtual’. Menurut penulis Maiyah yang diasuh oleh Cak Nun sama dengan tarekat Malamatiyah. Buku ini mengajak pembaca untuk kembali memperhatikan relasi antara ritual-ritual (islam, iman, dan ihsan) yang menumbuhkan intuisi keagamaan untuk memahami sabda-sabda Nabi dan pesan-pesan Allah dalam Alquran sehingga terbentuk pemahaman yang dinamis yang kemudian diperkuat dengan aktifnya hati nurani dari pengalaman bertasawuf sehingga manusia menjadi sempurna sebagai hamba Allah.

Penulis:Ridwan Nurrochman

Sumber: https://www.kurungbuka.com/berislam-dan-bertasawuf-di-zaman-now/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *