Sepak Terjang Lopa dalam Menegakkan Hukum

Judul               : Lopa Yang Tak Terlupakan

Penulis             : Alif we Onggang, dkk

Penerbit           : Imania

Cetakan           : Pertama, November 2018

Tebal               : 340 halaman

ISBN               :978-602-7926-44-8

Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum di Indonesia telah mengalami kerusakan. Keadilan yang digembar-gemborkan tidak direalisasikan.  Banyak ketimpangan hukum yang tengah terjadi di Indonesia. Orang-orang yang punya kuasa atau mampu memberi uang kepada aparat, maka akan diistimewakan bahkan  akan dilindungi. Berbanding terbalik dengan rakyat kecil yang sering dijadikan kambing hitam.  Rakyat kecil menjadi pihak yang paling dirugikan. Hal ini sungguh  memprihatikan.

Padahal konon hukum dibuat untuk menegakkan keadilan. Hukum dibuat memelihara ketenteraman, keamanan dan ketertiban masyarakat.  Namun bagaimana masyarakat akan percaya dengan hukum  jika keberadaan hukum malah menyengserakan rakyat? Orang yang salah dibela orang yang benar dipersalahkan.   Semetisnya siapa pun yang salah, maka dia harus dihukum seadil-adilnya tanpa memihak pihak manapun.

Menilik latar ketimpangan hukum yang terjadi, penulis mencoba menghadirkan kembali  pendekar hukum,  Baharudin Lopa dalam sebuah catatan biografi. Di mana diharapkan keberadaan buku ini  bisa menjadi kaca bagi para penegak hukum saat ini. Baharudin Lopa, merupakan seorang penegak hukum bertangan besi, yang siap menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Dia tidak bisa disuap dengan apa pun. Prinsipnya sangat kuat dan dia juga sosok yang cerdas dan berintegritas tinggi.

Apalagi jika berhubungan dengan  tindak korupsi yang dilakukan oleh para pejabat tinggi atau orang-orang yang punya banyak uang. Maka, Lopa  dengan sikap tegas, akan langsung menyelidiki dan memberikan hukuman yang setimpal.  Di antaranya ketika dia harus menangani kasus Tony Gozal,  pengusaha terkuat di Makassar. Ketika dia  dilindungi oleh pejabat tinggi daerah dan petinggi di Jakarta, maka tidak dengan Lopa. Dia berusaha menyeret Tony ke penjera lantaran usahanya telah terbukti merugikan keuangan negara.

Ketika beberapa pejabat mencoba melobi Lopa agar Tony tidak ditanah, Lopa tetap bergeming. “Orang salah, kok, mau dilepaskan. Tidak ada begitu.” Ucap Lopa tegas (hal 102). Bahkan dia tidak segan menampak jaksa yang ketahuan masih memperlekukan Tony dengan istimewa ketika akan diantar kepenjara.

Ada pula kasus megakorupsi Edy Tanzil yang disinyalir merugikan  negara hingga Rp 1,3 triliun.  Lopa adalah orang yang mendesak Baramuli agar menguak kasus tersebut. Pasalnya Baramuli sempat bimbang apakah kasus itu berperlu ditutup atau dibuka publik. Karena konon kasus ini melibatkan Ketua Dewan Perimvangan Agung, Sudomo.

“Lopa, bagaimana ini? Saya punya data korupsi Edy Tanzil. Apakah sebaiknya kasus ini ditutup saja, atau dibuka ke publik?” Begitulah yang dipaparkan Baramuli kala itu. namun dengan tegas Lopa meminta Baramuli untuk segera membukanya dengan segera. “Kalau untuk kebaikan jangan dipikir seribu kali, Pak Baramuli. Bongkar sekarang juga.” (hal 128). Maka sesuai nasihat Lopa, Baramuli lalu membongkar kasus tersebut. sayangnya Edy Tanzil berhasil lari dan sampai sekarang masih menjadi buronan.

Lopa juga seorang yang peduli pada rakyat kecil.  Kejadiannya adalah ketika ada isu pembongkaran kios yang berada di dekat rumahnya. Kios itu merupakan milik  Suhardi yang sebelumnya sudah izin krpada Lopa. Namun sayangnya warga yang tidak tahu, malah berusaha menggusurnya. Mendengar rencana itu Lopa langsung membela Suhardi dengan menyatakan bahwa keberadaan kios itu ada karena izinya (hal 130).

Ketika menjabat sebagai jaksa tinggi di Makassar, dia pernah melancarkan program Operasi November untuk memburu bupati dan camat yang bermasalah. Banyak yang ditangkapi karena terbukti melakukan manipulasi. Dalam prosesnya, ternyata salah satu pejabat yang ditangkap Lopa adalah keponakan seorang polisi yang pernah menyelamatkan nyawa Lopa, bernama Anjun Komisarus Polisi Andi Dadi. Saat itu Anjun pun berusaha mengungkit kisah lama tersebut. Namun Lopa  tetap bergeming.

“Alhamdulillah, sampaikan hormat saya kepada beliau. Kerena perkenan Allah dan budi baik saudara Andi Dadi saya selamat. Dan berkata beliau saya dapat menjadi penegak keadilan dan menghukum orang korup seperti Anda.” (hal 143). Mendengar jawaban Lopa, Anjun  akhirnya hanya bisa pasarah menjalani proses pemeriksaan.

Membaca buku ini kita akan diingatkan betapa pentingnya bersikap adil dan jujur dalam menjadi penegak hukum. Sebuah buku yang patut dibaca oleh siapa saja.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *