Bung Karno & Jokowi Pemimpin Kembar Beda Zaman

Judul                : Bung Karno & Jokowi Pemimpin Kembar Beda Zaman

Penulis              : Eddi Elison

Penerbit            : Imania

Cetakan           : Pertama, Desember 2018

Tebal                : 150 halaman

ISBN               : 978-602-7926-45-5

Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nadlatul Ulama, Jepara

Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara mudah. Apalagi dalam memimpin sebuah negara. Oleh sebab itu ketika kita ingin menjadi seorang pemimpin, maka kita harus memiliki integritas tinggi. Dengan sikap tersebut, kita akan menjadi pemimpin yang berani, welas asih, jujur, bertanggung jawab dan amanah.  Misalnya saya pada era kepemimpinan Bung Karno dan Jokowi. Meski lahir berbeda zaman, mereka menunjukkan kemiripan dalam kepemimpinannya dengan mengedepankan sikap integritas tinggi.

Hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Eddi Elison, penulis senior yang memang merasakan langsung kepemimpinan tujuh Republik Indonesia dan berinteraksi dengan mereka semua. Apa yang dirasakan dan dilihat oleh Eddi dari dua pemimpin berbeda zaman inilah,  yang kemudian dituangkannya  dalam sebuah buku yang bisa kita baca sekarang.   Sebuah buku yang menurut saya sangat menarik dan membuka wawasan kita dalam mengenal lebih dalam ketokohan pemimpin kita.

Di antaranya adalah baik Bung Karno dan Jokowi, mereka sama-sama seorang humanis—sebuah sikap yang mengharapkan dan berjuang untuk mewujudkan hidup yang kebih baik dengan pendekatan kemanusiaan dan peduli pada sesama. Dalam berbagai literatur yang mengambarkan Bung Karno menjelaskan bahwa dalam berpidato, dia selalu terlihat galak dan berapi-api. Apalagi saat menyinggung soal imperialisme. Akan tetapi di balik sikap garanyanya, Bung Karno adalah sosok lembut yang sangat memedulikan kemaslahatan hidup orang lain.

Pada masa perjuangan, Bung Karno cukup dekat dengan Arif, sopir taksi yang sering mengantar jempur Bung Karno ke rumah Husni Tamrin. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dan Bung Karno dipilih sebagai presiden, Arif kemudian direkrut sebagai sopir pertama Presiden. Bahkan ketika mengundurkan diri Arif diberi hadiah naik haji (hal 32).

Sikap yang sama juga ditunjukkan Jowoki. Hal ini sudah ditunjukkan pada masa remaja. Di mana Jokowi tidak pernah pelit dalam membantu teman-temannya yang kesulitan saat menghadapi mata pelajaran. Di sisi lain dia juga tidak pernah melupakan siapa saja yang pernah menjadi temannya, meski sudah menjadi seorang presiden. Selanjutnya dalam laku kepemimpinan kita bisa melihat cara Jokowi dalam menertibkan pedagang kali lima (PKL).

Dia tidak serta merta main gusur, namun dengan gaya humanisme  Solo, yaitu “nguwongke” atau “mengorangkan” orang lain, Jokowi mengajak PKL makan siang bersama secara bergantian dan diajak mengobrol ringan untuk memberi arahan yang baik  agar Solo menjadi kota yang aman dan tertib (hal 33).

Memiliki sikap menyemai budaya bangsa.  Ketika pengaruh budaya asing mulai merajai budaya Indonesia. Kesenian daerah mulai tergerus budaya luar, busaya tradisional digeser budaya Barat dan tingkah-pola komunitas muda sama sekali tidak mencerminkan kepribadian bangsa, Bung Karno mencetuskan Trisakti, “Berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya.”

Untuk menyemai kembali budaya bangsa, Bung Karno mengganri acara-acara dansa-dansi dengan tarian Lenso, lagu-lagu ngak-ngik-ngok diganti lagu-lagu daerah sepertiOlesia, Hella Rotane, Bubuy Bulan, Anging Mamiri, Butet dan A Sing Sing So. Tidak hanya itu budaya sinden, jaipong, topeng betawi, wayang, angklung dan berbagai lagu dan tarian daerah sengaja dikirim dan dipertunjukkan di berbagai negara sebagai “Misi Kebudayaan Indonesia”. Hal ini dilakukan agar  kebudayaan Indonesia terus tumbuh dan berkembang baik di dalam atau luar negeri.

Bung Karno berkata,  “Cintailah kebudayaan nasional kita sendiri. Dengan inilah bangsa Indonesia akan memiliki jati dari, national identity, dan bahkan kebanggaan, national pride.  Bahwa kolonialisme model baru tidak melulu hanya penguasaan politik dan ekonomi, tapi dapat melalui budaya yang tidak kalah bahayanya.” (hal 92).

Sikap yang sama juga ditunjukkan Jokowi. Setiap upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Keprisidenan, Presiden dan Ibu Iriana berserta semua staf menteri dan pejabat disarankan memakai busana daerah. Terobosan budaya ini bahkan sampai membuat diplomat asing di Indonesia terpana.

“Seni budaya lokal selayaknya diperkuat karakternya, untuk kemudian dibawa ke kancah internasional dan dipangungkan bersama artis dunia.” (hal 94).

Selain dua kesamaan tersebut, baik Bung Karno dan Jokowi merupakan tokoh revolusioner, banyak melakukan trobosan baru untuk kemajuan bangsa dan banyak lagi. Sebuah buku yang patut dibaca bagi siapa saja untuk menambah wawasan juga sebagai bahan renungan.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *