Dewi Sartika Perintis Pendidikan Kaum Wanita

Oleh: Ratnani Latifah

Dewi Sartika dikenal sebagai tokoh perintis pendidikan bagi kaum wanita. Ia  lahir pada tanggal 5 Desember 1884. Ia  merupakan putri dari pasangan Raden Rangga Somanagara, seorang Patih Kadipaten Bandung dengan  Raden Ayu Raja Permas. Karena kedudukan ayahnya, ia berkesempatan menikmati bangku sekolah di sekolah kelas satu—De Scholen der Eerste Klasse—sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Belanda, anak-anak para menak dan tokoh bumi putera terhormat (hal 16).

Akan tetapi, karena ayahnya terlibat dalam pemberontakan dan kemudian diasingkan di Ternate, ia akhirnya tidak bisa menyelesaikan sekolahnya. Bahkan ia harus hidup sebagai abdi dalem di rumah pamannya sendiri, Patih Afdeling Cicalengka. Meski sedih, Dewi tetap menjalani kehidupannya dengan sabar dan tabah.

Pengalaman hidup menjadi abdi dalem dan bergaul dengan rakyat biasa telah menyadarkan Dewi Sartika, bahwa pemerintah Belanda dan para bangsawan selama ini bersikap tidak adil terhadap kaum wanita. Di mana wanita dipinggarkan, tidak diberi kesempatan untuk mendapat pendidikan yang layak. Wanita lebih banyak dikekang dan harus patuh dengan adanya peraturan pernikahan dini dan harus mengabdi kepada suami.  Masyarakat juga masih mempercayai bahwa anak perempuan tidak perlu mendapat pendidikan di sekolah. Perempuan dianggap baik jika sudah pandai memasak, mengatur rumah tangga serta selalu mengabdi kepada orangtua dan suami.

Doktrin inilah yang ingin Dewi hapus. Menurutnya manusia baik laki-laki atau wanita, tidak cukup hanya dibekali bagaimana menjadi pribadi yang baik saja, tetapi  mereka juga harus memiliki berpengetahuan dan  kecakapan untuk bekal kehidupan. Oleh sebab itu, wanita pun dianjurkan untuk belajar di sekolah. Karena di sana mereka bisa belajar banyak hal; dari membaca, menulis kerajinan juga pendidikan moral.

Dewi Sartika pernah berkata, “Alangkah sedihnya mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, karena orang yang demikian ibarat hidup di dalam kegelapan atau umpama orang buta yang berjalan di tengah hari. Maka jadi perempuan harus bisa segala-gala.”

“Bukankah pada saatnya nanti perempuan akan menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya kelak? Dari seorang ibu yang baik, akan lahir putra-putri yang baik. Dengan memiliki keterampilan, seorang perempuan akan bisa berdiri di kaki sendiri.” (hal 165).

Alasan itulah yang membuat Dewi ingin mendirikan sekolah wanita guna membekali mereka dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Maka di tahun 1902 dengan fasilitas seadaanya—tepatnya menggunakan rumahnya sendiri, Dewi membuka sekolah wanita yang selama ini ia harapkan. Di sana ia mengajarkan banyak hal. Dari membaca, menulis berhitung, menjaga kebersihan badan, pakaian dna lingkungan, merenda, jahit,, menyulam, agama, budi pekerti dan memasak (hal 181).

Awalnya sekolah itu hanya diikuti oleh keluarga dekatnya, namun lambat laun masyarakat biasa pun ikut belajar di sana.  Mereka biasanya membayar Dewi dengan bahan-bahan pokok, seperti beras, garam, buah-buahan sayuran dan sebagainya.  Apa yang dilakukan Dewi ini pada awalnya sempat mendapat kecurigaan dari pihak pemerintahan Belanda. Dan bahkan dicibir oleh keluarganya besarnya  sendiri, karena dianggap berani menantang pemerintah Belanda.

Namun siapa sangka, di balik itu semua Dewi malah berhasil memikat Pengajar Hindia Belanda—C. Den Hammer mendukung kiprahnya dalam mendidik kaum wanita. Tidak hanya itu dukungan juga muncul dari tokoh pergerakan nasional H.O.S. Cokroaminoto dan juga Bupati Bandung, R. Adipati Aria Martanegara, yang tidak lain adalah musuh besar keluarganya.

Berkat bantuan Bupati  Bandung tersebut, Dewi Sartika akhirnya berhasil membangun  Sakola Istri pada tanggal 16  Januari 1904 yang kemudian di tahun 1910 nama sekolah diganti menjadi Sakola Dewi Sartika dan di tahun 1914 diganti menjadi Sakola Kautaman Istri. Kebahagiaan Dewi Sartika semakin bertambah ketiga mengatahui bahwa sekolah yang didirikan mulai menyebar luas ke berbagai daerah.

Semasa hidupnya ia benar-benar mendidikasikan dirinya untuk berjuang di bidang pendidikan. Berbagai penghargaan diberikan kepada Dewi Sartika karena kiprahnya yang luar biasa.  Maka tidak heran jika ia termasuk pahlawan nasional dan termasuk tokoh pendidikan penting di Indonesia, selain R.A Kartini, Rohana Kudus, Ki Hajar Dewantara dan banyak lagi.  Buku biografi ini sangat  patut kita apresiasikan. Meski masih ada beberapa kekurangan, hal itu tidak mengurangi esensi yang ingin disampaikan penulis.

Dimuat di Koran Radar Madura 17 Juni 2019

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *