Memetik Pesan Keislaman dari Khutbah Imam Besar

Oleh : M Ivan Aulia Rokhman

Sering kali dalam khutbah jumat tidak lepas dari nilai-nilai keislaman. Dari lima puluh tiga materi khutbah yang ditulis oleh mantan wakil menteri agama ini menjadi asupan pengetahuan bagi jamaah. Dengan adanya khutbah yang sampaikan oleh khotib ini bertujuan untuk menyerukan dakwah islam beserta mendukung diri menjadi pribadi lebih baik. Buku ini menjelaskan tentang materi khutbah yangditulis hasil pemikiran islam menurut ajaran nabi dan rasul. Buku ini bisa dibaca dan dipedomani oleh siapa saja yang ingin terampil dan siap bertugas menyampaikan nasihat pada pertemuan setiap pekan umat tersebut. Tulisan ini berdasarkan susunan topik yang tidak berpatokan pada kronologi kalendar Islam membuat pembaca dapat dengan bebas memilih materi yang diinginkan atau kolaborasi beberapa materi, bahkan menggunakan dalil yang tertera dan/atau penyampaian yang diberikan, untuk disesuaikan dengan kondisi jamaah masing-masing.

Selain materi keislaman disampaikan ada materi yang menyinggung generasi digital yang harus dikendalikan oleh umat islam. Yang jelas materi khutbah disampaikan berdasarkan perspektif yang disajikan yakni tawassuth (moderat), tawazun (proporsional) dan tasamuh (toleransi), sehingga apa pun materi yang ditulis dalam buku, maka diujungnya akan menemukan titik pertemuan yaitu cahaya Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Islam yang berwajah Agung sekaligus lembut, yang membawa misi damai dan cinta demi seluruh alam. Ulasan buku ini diangkat dari khutbah yang ditulis ada rangkuman yang digaris bawahi dalam buku tersebut.

Diawali dengan maulid nabi diperingati dengan berbagai cara, tergantung adat istiadat masyarakat setempat. Maulid Nabi seringkali menjadi ajang perjumpaan antara syiar agama dan pelestarian nilai-nilai adat lokal. Beberapa daerah di Indonesia menjadikan maulid Nabi sebagai simbil keceriaan dan kesyukuran atas berbagai karunia yang diberikan Allah SWT. Tidak heran jika peringatan maulid nabi sering berlangsung dalam bentuk pengerahan massa di luar gedung atau di luar masjid. terkadang juga diiringi dengan lomba-lomba tertentu (hal 27). Intisari khutbah maulid nabi dijadikan sebagai tradisi sejarah melahirkan Nabi Muhammad.

Membumikan agama Islam dan ajaran-ajarannya adalah bagian dar jihad. Namun penting digarisbawahi bahwa perbumian ajaran itu sesungguhnya adalah bagian dari rahmat Tuhan untuk melangitkan kembali manusia. Manusia yang diciptakan dengan seperangkat kecerdasannya, dibekali dengan sikap kritis untuk mempertahankan eksistensi dirinya, termasuk bersikap kritis terhadap ajaran-ajaran agama langit itu. Dan allah pun memahami kenyataan ini. Buktinya, setiap kitab suci-Nya diturunkan dengan cara berangsur-angsur (tadrij),  menyedikitkan beban (taqlil al-taklif), dan menggeliumir kesulitan (adam al-haraj). Ini membuktikan bahwa agama langit turun ke bumi mengalami proses “perbumian” (hal 152). Selama ini melahirkan ajaran Islam selalu dibekali dengan sejarah beserta ibadah apa yang sekiranya dilaksanakan. Proses pengetahuan beragama islam harus dipahami dengan detail dan dapat dipercaya.

Dalam masyarakat Islam di Indonesia yang cenderung berorientasi kepada fikih atau fiqih oriented. Di dalam kitab-kitab fikih banyak dibahas tentang fikih minoritas. Salah satu kewajiban umat Islam terhadap umat manusia, tanpa membedakan agama dan etniknya, ialah menyelamatkan mereka dari lokasi musibah dan penderitaan. Sekiranya sudah menjadi mayat pun, tetap menjadi fardhu kifaiyah bagi umat Islam untuk mengurus jenazah tersebut. Sebaliknya umat Islam di mana pun ia berada, menjadi tanggung jawab utama bagi seorang Muslim. Sungguh pun ia berada di negara lain, umat Islam secara keseluruhan tetap bertanggung jawab untuk membebas saudaranya dari musibah dan penderitaan.

Misalnya musibah Tsunami yang mengguncang Aceh atau gempa di Padang dan Yogyakarta beberapa tahun lalu, serta banjir bandang di beberapa daerah di Jawa Barat yang menyebabkan jatuh banyak korban, balik jiwa maupun harta, maka umat Islam secara keseluruhan bertanggung jawab untuk memberi pertolngan terhadap korban bencana tersebut (hal 164-165). Dari khutbah yang ditulis dalam bab Islam cukup relevan bahwa seorang Muslim harus menghormati perbedaan agama serta jangan sampai memprovokasi kedua agama tersebut. Selain itu Islam diajarkan manusia untuk saling tolong menolong terhadap orang lain. Inti dari buku ini adalah khutbah yang ditulis di media massa senantiasa memberikan wawasan terhadap umat Islam beserta saling menjalin persaudaraan dengan damai.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *