ANTARA DEWI SARTIKA, KARTINI, DAN DILAN

Oleh: Faried Wijdan, pengelola pabrik aksara

Sebuah caption IG dari akun @bukune_simbok yang merespons story IG @asurarokajat – penulis novel biografi Raden Dewi Sartika: Pendidik Bangsa dari Pasundan – bertajuk “Antara Kartini dan Dewi Sartika”, mengusik kesadaran saya sebagai warga Jawa Barat. Di caption IG itu ditulis “…sayangnya Dewi Sartika tidak dibuat momen untuk dikenang seperti halnya Kartini, Pak. Bahkan popularitasnya hampir tak terdengar. Hanya ya Dewi Sartika salah satu pahlawan nasional. Yang hanya sekedar itu…”. Sebagai pengantar agar tak membingungangkan, caption itu menanggapi tulisan yang membandingkan antara tokoh Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika, diunggah pada 21 April bertepatan dengan Hari Kartini.

Popularitas Raden Dewi Sartika harus diakui tak setenar Raden Ajeng Kartini, bahkan ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan dengan Dilan. Bila Raden Ajeng Kartini punya momen untuk dikenang setiap 21 April sebagai Harti Kartini, Dilan punya momen Hari Dilan pada 24 Februari, maka Raden Dewi Sartika punya apa? Tak ada momen penting nasional yang segera mengingatkan orang pada kiprah dari putri Raden Somanagara ini, sehingga setiap tanggal 4 Desember seringkali berlalu begitu saja. Bila dipandang dari kiprahnya baik dalam bidang pendidikan maupun emansipasi wanita, popularitas Dewi Sartika semestinya jauh lebih sohor dari Kartini dan Dilan. Paling tidak setiap 4 Desember (tanggal lahir Dewi Sartika) dijadikan sebagai Hari Pendidikan Perempuan misalnya. Sehingga – paling tidak untuk masyarakat Bandung – apabila Dilan punya Hari Dilan untuk dikenang dan pojok Dilan sebagai identitas literasi kaum milenial, Dewi Sartika pun semestinya punya momentum yang pantas untuk dikenang oleh warga Jawa Barat dan seluruh rakyat Indonesia. Selama ini Dewi Sartika baru sebatas dipakai  nama sekolah dan nama jalan.

Mari kita pindai tentang ketiga tokoh dalam judul tulisan ini dengan memperbandingkan dalam konteks kiprah dan popularitasnya. Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara 21 April 1879, putri seorang bangsawan bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV. Kartini kemudian menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bangsawan yang telah memiliki 3 istri. Melalui korespondensi dengan perempuan Eropa – salah satunya J.H. Abendanon – tergambar gagasan-gagasan untuk memajukan perempuan pribumi dan dalam beberapa surat tercermin juga sikap pluralisnya. Surat-suratnya itu kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang kemudian diterjemahkan oleh sastrawan dan teosof Armijn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Gagasan-gagasan yang dituangkan dalam korespondensi itulah yang membuat dirinya dinobatkan sebagai pahlawan dan hari lahirnya dikenang sebagai Hari Kartini – Hari Emansipasi Wanita.

Dilan lahir di Bandung, ayahnya seorang tentara, jabatan ‘panglima tempur’ dari geng motor. Seorang tokoh fiksi – bisa jadi representasi dari pengarangnya sendiri – yang demikian popular setelah novelnya diangkat ke layar lebar. Pasca – meminjam istilah kritikus sastra Maman S. Mahayana – munculnya air bah popularitas itu seorang Gubernur Jawa Barat merasa perlu menggagas Hari Dilan dan membangun Pojok Dilan, pasca gagasan mendirikan Taman Dilan mendapat reaksi negatif dari berbagai kalangan. Gagasan itu dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap ‘karya anak bangsa’. Frase karya anak bangsa sengaja saya tempatkan dalam tanda petik sebagai salah satu titik perhatian.

Raden Dewi Sartika, lahir di Bandung 4 Desember 1884, lima tahun lebih muda dari Raden Ajeng Kartini, meninggal di Tasikmalaya 11 September 1947, putri Raden Somanagara yang karena aksi ‘pemberontakannya atas ketidaksetujuannya pada pengangkatan Raden Aria Adipati Martanegara sebagai Bupati Bandung’ dibuang ke Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda sampai akhir hayatnya. Setelah kedua orang tuanya dibuang Belanda, Dewi Sartika dirawat oleh uwaknya, Patih Afdeling Cicalengka, Raden Suriakarta Adiningrat yang diperlakukan lebih sebagai ‘rencang’ daripada sebagai kemenakan. Agan Eni (istri keempat uwaknya) punya peran penting dalam membentuk Dewi Sartika untuk begitu peduli pada pendidikan. Ia sendiri termasuk beruntung pernah mengecam pendidikan di Sekolah Dasar Kelas Satu, sehingga bisa membaca dan berhitung. Cicalengka kemudian digemparkan oleh kejadian di mana anak-anak pembantu kepatihan melek baca tulis dan mengucapkan sepatah dua patah kata bahasa Belanda. Siapa yang mengajar mereka? Dewi Sartika. Sasakolan itu dilakukan di belakang kandang kuda, dengan menggunakan arang dan pecahan genting sebagai alat tulisnya. Itu dilakukan pada saat usia Dewi Sartika sepuluh tahun. Pertanyaanya adalah: apa yang dilakukan Kartini dan Dilan pada saat mereka berusia sepuluh tahun? Ini satu poin penting ketika kita berbicara kiprah ketiga tokoh itu. Satu keunggulan dari sosok Dewi Sartika.

Seperti juga Kartini, Dewi Sartika terusik kesadarannya untuk peduli kepada sesama kaum perempuan karena situasi dan kondisi saat itu, bagaimana ketimpangan sosial, budaya, dan kesempatan belajar terutama pasca Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan ethische politiek pada 1901 yang berniat meningkatkan kesejahteraan pribumi, sekalipun sejatinya kebijakan ini sebagai pengkondisian sistem Ekonomi Liberal yang telah dijalankan di Pulau Jawa saat itu. Keprihatinan pada sesama kaum itu diimplentasikan dalam bentuk yang beda. Bila Kartini menuliskan gagasan-gagasannya kemudian dikomunikasikan kepada istri Menteri Pendidikan Hindia Belanda, Dewi Sartika justru mulai membangun sekolah. Setelah berulangkali bersimpuh di hadapan R. A. A. Martanegara – yang tidak lain adalah musuh politik ayahnya – meminta restu untuk mendirikan sekolah, kemudian dorongan simpatik dari Inspektur Kantor Pengajaran, Den Hammer, pada tahun 1904 Sakola Istri berhasil berdiri, menggunakan tempat di selasar timur Pendopo Kabupaten, dengan 20 orang siswi untuk diberi pelajaran berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam, dan pelajaran agama. Setahun sebelum Sakola Istri – 1903 – Kartini menyurati Abendanon – ‘…singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…’. Dengan demikian niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Batavia itupun dengan sendirinya pupus.  Satu keunggulan lagi dari Dewi Sartika.

Dilan mulus merangkai asmara dengan Milea, Kartini menerima menjadi istri muda K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Bagaimana dengan Dewi Sartika? Ia menikah dengan duda beranak dua, seorang guru, yang kehidupan sosial ekonominya tidak jauh lebih baik. Hal itu dilakukan setelah menolak pinangan seorang putra bangsawan dari Banten, dan menolak mentah-mentah Raden Kanjun Surianingrat, putra dari istri ketiga uwaknya yang telah beristri pula. Ini sikap anti poligami yang dipegang teguh Dewi Sartika. Kaitannya dengan ini, sastrawan W.S Rendra dalam kata pengantar buku Sang Perintis menulis: “… Dewi Sartika lebih tegas, berani dan  berwibawa dalam membawakan dirinya yang kontroversial itu. Yang paling nyata adalah perbedaan kemampuan mereka  bersikap di dalam soal perjodohan. Meskipun Kartini pernah menulis bahwa dia tidak ingin menikah dan juga mengutuk  pernikahan yang jodohnya tidak berdasarkan pilihannya, melainkan berdasarkan pilihan orangtua yang harus diturutnya, tetapi nyatanya ia menikah juga dengan lelaki yang bukan  pilihannya. Sedangkan Dewi Sartika menolak dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihannya sambil tidak peduli kepada kehebohan yang ditimbulkan oleh sikapnya itu. Dan pada waktunya ia kawin dengan lelaki duda dari derajat biasa tapi yang  pintar, penuh pengertian dan ia cintai. Tentunya hal ini menimbulkan kehebohan yang lebih besar lagi. Tetapi ternyata Dewi Sartika mampu menghadapi tantangan dari dalam keluarganya dan dari masyarakat yang luas demi keteguhan akan pendirian dan sikap hidupnya. (Daryono, 2008). Beruntung Dilan tidak dihadapkan pada kondisi buruk urusan perjodohan. Keunggulan tambahan untuk Dewi Sartika.

Bahwa dengan sejumlah keunggulan Dewi Sartika belum memiliki momentum untuk dikenang seperti halnya Hari Kartini, sebuah kondisi ironis, bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Sunda. Analisa Ayatrohaedi dalam tulisan di Pikiran Rakyat 8 Agustus 2002 tentang ‘Citra Perempuan dalam Sastra Sunda’ bahwa dalam masyarakat Sunda, masa silam wanita mempunyai kedudukan dan peran yang cukup penting. Bahkan kadangkala terkesan bahwa kedudukan wanita itu demikian penting, sedangkan tokoh pria muncul sebagai “pelengkap mendukung kehormatan dan kemuliaan wanita”. Tentang tingginya kedudukan wanita menak dalam struktur masyarakat Sunda, Hj. Ietje Marlina, seperti yang dipublikasikan dalam Sosiohumaniora Vol. 8 No. 2, Juli 2006, orang Sunda lebih kuat menghormati wanita (ibu) daripada pria (ayah). Simbol sikap menghormati wanita (ibu) itu tampak dari nama atau istilah beberapa panutan yang disebut “indung” (ibu) misalnya “indung beurang” (dukun beranak), “indung suku”(ibu jari), “indung pare”(padi yang paling dulu masak dan dituai). Termasuk yang mendidik dan merawat anak bagi semua makhluk adalah “indung”(ibu), artinya simbol itu menunjuk pada wanita. Ironis ketika kaum perempuan menak yang secara kultural memiliki peran tinggi, tetapi bertolak belakang dengan apa yang diperoleh Dewi Sartika, sebagai aktifis, pelopor pendidikan perempuan dan emansipasi, pendobrak tradisi kolot perjodohan dan peran-peran revolusioner lainnya. Dalam sebuah tulisan berjujul ‘Menyambut Dewi Sartika’, penyair kondang, W.S. Renda memberikan catatan tentang sosok Dewi Sartika:“Yang menarik dari pribadi Dewi Satika, sebagai seorang aktifis dia memiliki integritas kepribadian yang tinggi, sekaligus naluri yang tajam terhadap strategi dan keseimbangan di dalam totalitas aksi-reaksi-kontemplasi. Jarang aktifis yang memiliki kelebihan sifat seperti itu. Yang sempat saya saksikan punya kombinasi demikan hanyalah Shoe Hok Gie dan Abdurrahman Wahid. Dibanding dengan Raden Ajeng Kartini, keduanya sama  penting sebagai pelopor kesadaran perempuan akan emansipasi manusia pada umumnya dan perempuan pada khususnya. Namun agaknya Raden Ajeng Kartini rupanya tidak memiliki naluri seorang aktifis. Ia lebih tepat sebagai sastrawan dari sastra surat.  Nilai sastra yang terkandung dalam surat-suratnya sangat tinggi. Menguasai metafora  yang mencerminkan kedalaman  penghayatan batin dan ketelitian dalam pengamatan terhadap lingkungan. Surat-suratnya adalah kumpulan esai yang indah. Dalam hal ini hanya Asrul Sani yang bisa menyamainya. Sayang, Asrul Sani tidak memperdulikan bakatnya dalam menulis esai. Kartini tidak begitu menguasai mobilitas dirinya dibanding Dewi Sartika.”

Sebagai pelopor pendidikan kaum perempuan khususnya, Dewi Sartika yang dalam setiap ceramahnya mengatakan dirinya sebagai Golongan Muda, tetap menghormati dan menjunjung tinggi apa yang telah digagas Golongan Kolot dengan konsep pendidikan Cageur Bageur, konsep pendidikan yang mengutamakan kesehatan jiwa dan raga. Dewi Sartika mengimplementasikan konsep pendidikan Cageur Bageur ini dalam mata pelajaran olahraga, keterampilan tangan, pengetahuan akan kesehatan, kebersihan, gizi, budi pekerti dan agama yang kemudian diajarkan di Sakola Istri. Sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan, Kartini pun telah melakukan hal yang serupa kendati masih dalam bentuk gagasan-gagasan. Sementara Dilan, perannya baru sebatas mengajarkan asmara dan romantisme antar kawula muda.

Apa yang digagas Gubernur Jawa Barat dengan mendirikan Pojok Dilan sebagai bentuk apresiasi dan pengingat sejarah kepada generasi millennial dan Z, bisa diterima akal sehat ketika dilakukan pula hal yang sama untuk para tokoh penting lainnya. Semisal untuk Dewi Sartika perlu ada lanskap  sebagai pengingat untuk warga Pasundan setidaknya. Sehingga – dengan mengutip tujuan pembelajaran sejarah di sekolah berdasarkan KTSP – agar siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia, bisa tercapai. Sudah saatnya generasi milenial menjadi generasi melek sejarah (GEMES) dengan disuguhkan lanskap para tokoh sejarah, yang pada masa lalu telah mencurahkan segenap pikiran, tenaga, dan jiwanya untuk kemanusiaan, seperti dilakukan Bapak Gubernur Jawa Barat dengan membangun Pojok Dilan. Sikap berkeadilan dan berkemanusiaan itulah yang menjadi poin penting untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerja luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Hatur Nuhun.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *