KH. Ahmad Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus adalah sosok kiai yang unik. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Leteh, Rembang ini, selain dikenal sebagai seorang ulama, juga seorang budayawan: seniman, penyair, sastrawan, dan pelukis. Ramuan pribadi yang unik ini menghadirkan sosok Gus Mus yang kaya pesona, baik dari sisi pribadi yang bersahaja dan rendah hati, maupun pada corak berpikirnya yang mengagumkan, meski kadang kontroversial. Tausiyah-tausiyahnya dinanti umat, terutama kalangan nahdliyyin, karena segar, mencerahkan, dan menyejukkan hati.
Buku berjudul Cinta Negeri Ala Gus Mus ini menyajikan bulir-bulir nasehat Gus Mus yang penuh hikmah, juga percikan pemikirannya dalam banyak aspek kehidupan seperti keagamaan, kebudayaan, dakwah, kepemimpinan, keindonesiaan, pendidikan, dan komitmen kebangsaan. Bulir-bulir nasehat dan percik pemikiran khas Gus Mus itu disajikan secara padat, bernas, dan kontekstual, sebagai bahan refleksi dan perenungan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pada soal kepemimpinan, dalam pandangan Gus Mus, pemimpin harus meniru Rasulullah. Tidak perlu mengidolakan siapa-siapa lagi, karena Rasulullah itu sangat lengkap. Allah telah mengatur sedemikian rupa, menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang baik. (hlm. 77-78). Sayangnya, sebagaimana ditulis Gus Mus di bagian lain buku ini, pemimpin sekarang tak lagi punya perhatian seperti dicontohkan Nabi. Pemimpin-pemimpin sekarang kurang peduli terhadap nasib rakyat, bahkan gemar korupsi.
Penulis : M. Zidni Nafi’
Penerbit : Imania
Cetakan ke-1 : Januari 2019
Tebal : 245 hlm
ISBN : 978-602-7926-46-2
Peresensi : Badiatul Muchlisin Asti
Ketua Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG), Jawa Tengah
