SUKARNO: PEMIMPIN HUMANIS

Judul: Membaca Sukarnu dari Jarak Paling Dekat

Penulis: Eddi Elison

Penerbit: Penerbit Imania

Edisi: April 2019

Tebal: 307

ISBN: 978-602-7926-49-3

Peresensi: Ashimuddin Musa*

Sosok Sukarno (Bung Karno) tidak diragukan lagi merupakan salah satu di antara sedikit orang yang berpengaruh dalam mewujudkan impian besar bangsa Indonesia.  Sebagai seorang tokoh besar ia punya banyak hal yang menarik untuk diperhatikan, bahkan sampai hal-hal terkecil tentangnya.

Di antara beberapa buku yang menceritakan kehidupan Bung Karno, sejauh ini belum ada buku yang secara spesifik membahas sampai hal-hal yang paling kompleks tentangnya. Sehingga, buku dengan tema “Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat” sudah sepatutnya diapresiasi karena melengkapi kekosongan itu.

Buku Eddi Elison ini merupakan karya mutakhir yang berbicara tentang kehidupan sosok presiden pertama Indonesia dari jarak yang sangat dekat. Di sisi lain, Elison pernah menjadi reporter TVRI yang bertugas di Istana untuk meliput aktivitas Presiden Sukarno hampir selama empat tahun (1962-1966 M). Tentu, karyanya memiliki distingsi yang sekaligus kekuatan pokok, yaitu penekanan yang kuat pada objektivitas kehidupan Bung Karno.

Humanisme -tegas Try Sutrisno- tidak bisa dilepaskan dari perilaku. Bukan saja perilaku individu, tetapi juga kelompok, bahkan institusi. Seseorang yang hidup dalam lingkungan keluarga atau kelompok yang taat beribadah, punya pemahaman keagamaan yang benar, besar harapan akan lahir keluarga yang bisa dibanggakan. Pun demikian sebaliknya. Sebab, karakter terbentuk pada individu atau entitas dalam proses hidup individu atau entitas tersebut (hlm. 18).

Jika dirujuk pada sumber primer ummat Islam -Alquran dan Hadis- jelas sekali keduanya menekankan pentingnya humanisme. Sebagai sebuah ajaran, Islam dikenal sangat humanis, bahkan konsep tauhid tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan sosialnya. Sayangnya, masyarakat -sampai batas tertentu- belum bisa mencerminkan ajaran yang humanis dan menekankan nilai-nilai sosial ini tidak nampak kental dalam kehidupan umat muslim.

Setiap pemimpin hendaknya bisa menjadi  teladan yang baik bagi bangsanya. Sebab, kondisi mental pemimpin bangsa bisa dipastikan berpengaruh terhadap mental rakyat yang cenderung intoleran. Usaha menjadi teladan yang baik inilah betul-betul sudah diupayakan oleh Bung Karno untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan bekal keislamannya yang kuat, ia menyadari sepenuhnya bahwa agama Islam berdiri kuat di atas dasar perikemanusiaan, berupa kepedulian mendasar terhadap sesama dan segala makhluk ciptaan Allah.

Sebab itulah, ketika dirinya terpilih sebagai presiden RI yang pertama, dengan humanisme Bung Karno yang cukup besar sehingga ketika para petinggi merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara, maka dirinya memasukkan humanisme pada sila kedua, yang memenuhi UUD 1945; “Kemanusiaan yang adil dan beradab” (hlm. 16).

Buku ini menarik sekali dibaca oleh siapapun untuk menambah wawasan dan renungan. Selama ini ia hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, melalui buku ini kita menjadi tahu bahwa dirinya juga memiliki beberapa cerita unik dan menginspirasi. Sayangnya, beberapa tulisan di dalam buku ini seringkali ditemukan salah ketik dan bercampurnya antara tulisan satu dengan yang lain, yang memerlukan perbaikan. Tetapi, dalam hal memanjakan pembaca, penerbit berhasil menghadirkan buku ini dengan kemasan menarik, mulai dari sampul hingga layout isinya.

*Alumni Ushuluddin INSTIKA Guluk-guluk dan penghuni Kampung Baca dari Sumenep.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *