Tuhan Maha Asyik, Tentang Seni Saling Mencintai dengan Tuhan

Tuhan Maha Asyik adalah buku karya Sudjiwo Tejo dan MN Kamba. Sudjiwo Tejo adalah seorang seniman, pemusik, dan aktor, dapat dibilang Sudjiwo Tejo adalah budayawan. Beliau juga adalah dalang wayang yang sering melanggar pakem-pakem di perwayangan. Sedangkan MN Kamba sendiri adalah seorang sufi yang telah menamatkan pendidikan S1, S2, dan S3 nya di Universitas Al Azhar, Kairo.

Judul buku Tuhan Maha Asyik sangat menggelitik telinga, mengundang orang untuk membacanya, mencari tahu apa sisi asyik dari Tuhan. Buku ini mengupas tentang betapa asyiknya Tuhan berinteraksi dengan hambanya. Namun, kejernihan pikiran dan pemahaman yang harus mendalam perlu dipakai saat membaca buku ini.

Pengantar tulisan yang dibawakan oleh Sudjiwo Tejo dan MN Kamba adalah cerita anak. Tokoh-tokoh di dalamnya adalah Parwati, Christine, Samin, Dharma, dan lain-lain. Latar belakang dari tiap karakter dibuat berbeda. Seolah menggambarkan betapa beragamnya masyarakat, pun tentang pemahaman agamanya.

Walaupun percakapan yang terjadi adalah percakapan antar anak-anak dan isinya terdiri dari cerita-cerita kepolosan anak-anak juga, tetapi bahasa yang digunakan di dalamnya cukup tinggi dan sulit dipahami jika itu benar-benar percakapan anak-anak. Namun, buku ini memang diperuntukkan untuk bisa dipahami secara mendalam dengan hati yang tenang.

Cerita di dalamnya berbicara tentang agama dan Tuhan. Agama bukanlah alat yang digunakan untuk menyombongkan diri. Merasa bangga berada pada suatu golongan tertentu lalu menjadi fanatik dan menyalahkan golongan-golongan lain padahal diri sendiri bukan Tuhan, yang berhak menghakimi.

Ada beberapa bagian yang di dalamnya mengandung sentilan yang ditujukan bagi pemuka agama. Pemuka agama yang seharusnya menjadi cermin dari agama tersebut tapi malah mengundang keributan dan huru-hara. Menyalahkan golongan ini karena tidak termasuk dalam golongannya. Padahal, toleransi pasti diajarkan di agama manapun. Jika dia beragama, toleransi seharusnya selalu terjaga.

Buku ini mengajarkan tentang mencintai Tuhan tidak perlu menjadi fanatik dan diumbar-umbar. Karena sejatinya cinta yang tulus hanya Tuhan dan hamba-Nya sendiri yang tahu dan menikmati. Mencintai Tuhan dengan ikhlas dan santai lebih menghasilkan hubungan yang cukup dalam dengan Tuhan. Dengan itu, Tuhan dapat menyatu dengan diri yang artinya jika sudah cinta pada Tuhan, tingkah dan geraknya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

Bagian favorit dari buku ini bagi saya adalah saat adegan anak-anak sedang berjalan di kebun. Di situ ada Christine dan Samin. Saat berjalan, Christine memperhatikan sekitarnya dan coba memahami apa-apa yang ada di kebun. Sedangkan Samin, hanya komat-kamit tidak menikmati indahnya kebun tersebut. Alhasil, saat ditanya gurunya tentang perkebunan itu, Dharma tidak dapat menjawab betapa indahnya kebun tersebut. Sama seperti hidup, kalau kerjanya hanya ‘komat-kamit’ saja tanpa usaha, hal yang diinginkan dalam hidup tak akan tercapai. Dalam hal ini, manusia seperti wayang, yang sudah mendapat skenario dari Tuhan. Tinggal manusia kerja sebaik-baiknya agar skenario terbaik dapat berjalan dalam hidup.

Membaca Tuhan Maha Asyik mengajarkan ku untuk tetap dekat dengan Tuhan tetapi tetap berinteraksi asyik dengan sesama manusia lain baik yang bukan dari golonganku atau dari golonganku yang kelihatannya tidak melaksanakan peribadahan kepada Tuhan. Namun, siapa aku? Aku bukan siapa-siapa yang dapat menyalahkan orang-orang tidak masuk golonganku atau aku menyalahkan orang yang tidak dekat dengan Tuhannya. Siapa yang tahu jika sebenarnya mereka lebih baik daripadaku, mereka melakukan kebaikan tanpa ingin dilihat dan dipuji orang lain. Entahlah.

Membaca buku ini juga mengajarkanku untuk menjadi ikhlas menjalani kehidupan. Kehidupan yang penuh dengan kesulitan adalah skenario dari Tuhan. Hidup adalah permainan, God gives the rules, human do. Karena ini adalah permainan, bukan berarti menjalaninya dengan bermain-main, malahan harus bermain dengan sebaik-baiknya agar menjadi menang. Kesulitan bagaikan kegelapan. Kegelapan mempunyai potensi di dalamnya yang tidak terlihat. Potensi itu akan terlihat jika ada cahaya di situ. Dan Tuhan akan memberikan ketercerahan bagi kegelapan. Tuhan Maha Mengetahui mana yang baik dan dibutuhkan oleh kegelapan itu.

Membaca buku ini juga menyadarkanku tenang diri sendiri. Tuhan dan manusia adalah satu kesatuan. Berbuat hal pada orang lain atau pada apapun, sejatinya sedang berbuat pada diri sendiri. Siapa berbuat kebaikan, maka ia sedang memberi makan kebaikan pada dirinya sendiri dan sebaliknya. Tak ada yang hilang jika kita sudah memberi pada yang lain.

Dan Tuhan adalah kekasih. Kasihnya tak surut sepanjang masa, tak terbatas pada hamba-Nya. Merenungi tentang betapa murahnya hidup, pemberian oksigen, makan, orang-orang peduli di sekitar, betapa menjelaskan betapa kasih Tuhan tak terkira, pun pada hamba-Nya yang pendosa. Dan Tuhan tahu mana yang dibutuhkan hamba-Nya, karena Tuhan se-asyik itu, ya Tuhan Maha Asyik.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *