Buya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Nursamad Kamba Sang Lisanul Hikmah

Saya mulai mengenal Buya Syaikh diwasilahi oleh Mbah Sujiwo Tejo, di penghujung 2015, untuk menggarap buku Tuhan Maha Asyik (seri 1). Semenjak itu, saya mulai rajin berkirim email dan WA-nan dengan Buya Syaikh. Betapa beruntungnya saya, benar-benar kanugran, bisa karib dan ngangsu kawruh intens kepada sosok berilmu samudera (mutabahir), nyegoro, namun selalu down to earth dan lembah manah. Sebuah rezeki dari arah yang tak terduga, saya diberi kesempatan emas untuk bermuamalah dengan dua sosok yang jaduk dan linuwih, out of the box ide-ide dan pemikirannya. Ya, meski mereka berdua berbeda latar pendidikan, satu merupakan jebolan S1 sd S3 jurusan Aqidah dan Filsafat, Al-Azhar, Mesir, dan satunya jebolan Kampus Universe, Universitasnya Universitas, jenjang perkuliahan berkurikulum soal hidup dan kehidupan, kuliah tanpa bangku.

Di tiga hari mangkatnya Buya Syaikh, saya bertakziyah ke kedimaman Kampung Dukuh, ngobrol genap dua jam dengan Ibu Fatin, istri Swargi Buya Syaikh. Di sela ngobrol, Bu Fatin bercerita soal kenangan-kenangan menemani Buya Syaikh (Bu Fatin memanggil suaminya dengan Kak Nursamad), menceritakan soal tiga sekawan soulmate: Buya Syaikh, Mbah Tejo dan Cak Nun. Beliau bertiga benar-benar ejawantah al arwahu junudun mujannadah, satu chemistry, satu frekuensi, dan tentu frekuensi tingkat tinggi…heuheu. Sembari guyon, Bu Fatin, menceritakan jika Mbah Tejo, Cak Nun, dan Buya Syaikh terlibat ‘cinta segi tiga’,  Klo mereka bertiga atau di antara keduanya sudah cangkruk, durasi obrolannya bisa berjam-jam. Hum Azwajuz Zaman. Padahal menurut Bu Fatin, dialah yang pertama mengenal Mbah Tejo dan Cak Nun. Justru bukan Buya Syaikh.

Bagi saya beliau adalah Al-Qamus al-Kabir fi al-Lughah al-Arabiyyah wa Ulum al-Tasawwuf (Kamus Besar Bahasa Arab dan Ilmu Tasawuf) berjalan. Di republik ini, hanya ada 2 orang yang berhasil menuntaskan S1, S2, dan S3 dari Universitas Al-Azhar, Mesir, dengan Martabat Mumtaz (cumlaude). Salah satunya ya Buya Syaikh ini. Banyak yang tidak tahu, selain penggagas dan pendiri jurusan Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Gunungjati Bandung, Buya Syaikh adalah sosok muassis, inisiator berdirinya Fakultas Dirasat Islamiyah (Kerjasama UIN Jakarta dan Al Azhar, Mesir). Beliau ‘berdarah-darah’, bersusah payah melobi Al-Azhar dan para pemimpin negara Teluk untuk mewujudkan fakultas bergengsi ini. Saya kira Fakultas Dirasat Islamiyah layak memberikan gelar atau apresiasi ke Almaghfurlah Buya Syaikh. Tapi saya yakin, Almarhum tidak patheken dengan gelar-gelaran dan apresiasi karena swargi Buya Syaikh adalah sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Semoga ini menjadi amal jariyah Buya Syaikh. Soal jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, beberapa IAIN dan UIN lain juga sudah membuka jurusan dan menerima mahasiswa/I. Buya Syaikh pernah bercerita bahwa beliau sangat senang, bangga, karena jebolan jurusan Tasawuf dan Psikoterapi sudah mulai diterima masyarakat, banyak yang mendarmabaktikan ilmunya di Rumah Sakit, Lembaga Pemerintahan dan Swasta sebagai konsultan psikologi dan psikoterapis.

Satu hal yang mungkin orang belum banyak tahu adalah Buya Syaikh merupakan sosok ‘andalan’ al-maghfurlah Bapak Maftuh Basyuni untuk membenahi sistem manajemen pelaksanaan haji, terkait pemondokan, catering, kinerja petugas haji, dan sistem haji yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Soal ini beliau pernah bermaksud ingin menulis sebuah memoar (disampaikan saat saya sowan ke kediaman beliau). Buya Syaikh adalah sosok yang tidak mempan untuk disogok, dilobi untuk memberikan prestise dan previlige bagi pejabat Negara yang mencoba untuk meminta fasilitas ini dan itu selama haji.  Saya punya cerita soal ini, tapi tak perlu saya tuliskan…heuheu. Suatu hari saat saya sowan, beliau pernah mewedarkan ide agar haji tidak antre sampai puluhan bahkan belasan tahun. Beliau menafisri Sabda Kanjeng Nabi Saw.: “Haji adalah arafah” (HR. Ah­mad). Jika mengacu kepada QS. Al-Baqarah: 197, haji terdiri atas beberapa bulan tertentu. Penyelenggaraan haji mestinya tidak terbatas pada bulan Dzulhijjah saja. Pengkhususan pada tanggal 9 Dzulhijjah hanya karena Nabi melakukannya pada tanggal tersebut, sedangkan beliau wafat tahun berikutnya. Jika menggabungkan ke­dua ketentuan teks—yang merupakan dalil Al-Quran dan hadis tersebut—dapat disimpulkan bahwa penyelengga­raan haji dapat dilakukan setiap tanggal 9 pada bulan-bulan tertentu, sebagaimana diisyaratkan Al-Quran. Koherensi Al-Quran dan sunah dalam konteks ini, sejatinya, merupakan prediksi dan antisipasi perkem­bangan masa depan umat Islam terkait penyelengga­raan haji—yang di satu sisi adalah kewajiban setiap Muslim yang mampu, tetapi di sisi lain daya tampung masyair (tempat-tempat melakukan ibadah haji) amat terbatas. Menurut taksiran pemerintah Arab Saudi, loka­si Arafah dan Mina hanya mampu menampung maksi­mal tiga juta orang. Jika bulan-bulan yang diisyaratkan Al-Quran menurut sebagian penafsir adalah tiga bulan, yakni mulai dari Syawal, Zulqadah, dan Zulhijah, maka wukuf di Arafah dan mabit di Mina bisa dilakukan secara maraton setiap tanggal 9-12 dalam tiga bulan tersebut. Dengan begitu, setiap tahun setidaknya sembilan juta Muslim bisa menunaikan kewajiban hajinya.

Beberapa bulan sebelum wafat, beliau begitu bersemangat merampungkan naskah Tafsir Sufi, Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam seri 2, dan terjemah disertasi beliau Makrifat Syaikh Junaid Al-Baghdadi (tokoh sufi idola beliau). Meski dalam kondisi gerah (sakit), beliau selalu menjawab WA saya: “OKE. Sami’na wa Atha’na“, terkait rencana-rencana penerbitan dan roadshow buku Mecintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Pejalan Maiyah (Insya Allah terbit Juli 2020) dan rencana pengambilan video untuk Kajian Tasawuf Zaman Now 20 menitan di Channel Youtobe.

Buya Syaikh adalah figur yang mengajari saya untuk mencintai dan meneladani Kanjeng Nabi Saw. Dengan cara luar biasa, mahabbah yang khariqatun lil ‘adah. Beliaulah yang menyemangati saya untuk menerbitkan naskah mutiara tentang Sejarah Kanjeng Nabi Saw yakni: Sejarah Otentik Nabi Saw., terjemahan dari kitab berbahasa Arab berjudul: Dirâsât fî al-Sîrah al-Nabawîyah (diterbitkan oleh Pustaka IIMaN, 2018) dan Buku Sejarah Otentik Politik Nabi Saw., terjemahan dari buku berbahasa Arab berjudul: Dustur Umat Islam: Dirasat fi Usul al-Hukm wa Thabi’atihi wa Ghayatihi ‘Indal Muslimin (diterbitkan oleh Pustaka IIMaN, 2019). Menurut Buya Syaikh: Nabi menyatakan bahwa agama adalah akhlak, itu bukanlah pernyataan biasa, atau sekadar ajaran-ajaran moralitas. Pernyataan itu merupakan penegasan intisari ajaran yang dibawanya. Sebab, pengertian agama baginya sangat berbeda dengan pengertian yang jamak dipahami pada zamannya, pun hingga kini, yang dipahami sebagai sistem aturan keimanan dan peribadatan. Risalah Nabi Muhammad Saw. lebih mengembalikan esensi agama pada kesejatiannya, sebagaimana yang sudah menjadi tradisi para nabi dan rasul sebelumnya, semenjak Ibrahim a.s. hingga Isa a.s.; yakni agama sebagai situasi keilahian yang menuntun kepada kebaikan. Esensi agama tidak merumuskan konsepsi ketuhanan, sebab Tuhan adalah Sang Mutlak yang tidak dapat dipersepsikan maupun dikonsepsikan. Tuhan hanya bisa direfleksikan dalam laku kebaikan dan laku cinta. Jika dikatakan ajaran-ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw. berintikan tauhid, bukan berarti bahwa tauhid adalah konsepsi teologis tentang keesaan Tuhan, tapi bermakna kebersatuan atau penyatuan cinta. Sebab, hanya dengan kebersatuan cintalah manusia mengalami transformasi diri kepada baik, lebih baik, dan terbaik. Artinya, manusia akan mengalami pendakian spiritual yang tak pernah mengenal kemapanan, lantaran bersatu dengan Tuhan, yang tiada lain adalah refleksi kebaikan dan cinta. Inilah makna aplikatif agama sebagai situasi keilahian, yang menuntun kepada kebaikan. Agama sebagai sistem aturan keimanan dan peribadatan, yang kini menjadi agama formal bagi mainstream, hanya sebatas mengajarkan perbuatan baik dengan iming-iming akan mendapatkan surga, atau menghindari perbuatan buruk dengan ancaman neraka. Doktrin seperti ini menyebabkan umat tidak akan pernah menjadi dewasa, tidak pernah berbuat baik karena itu memang baik, tapi berbuat baik karena adanya motivasi lain. Padahal, agama adalah ketulusan, sedangkan ketulusan tak mungkin lahir tanpa kebersatuan cinta. Buya Syaikh menyimpulkan: Bertuhan adalah berbuat baik. Bertuhan adalah menyebarkan cinta kasih, sehingga apa pun yang dilakukan harus dimuarakan kepada Tuhan; kepada kebaikan dan cinta. Menyatu dengan Tuhan artinya menyatu dengan kebaikan dan cinta: Merdeka dalam cinta Ilahi.

Soal Ulama dan Ustad Karbitan yang sedang marak, beliau pernah menyitir hadis “Al-Ulama Waratsatul Anbiya: Para Ulama adalah pewaris para Nabi. Sebuah hadis yang sangat po­puler dan sering dikutip—meski periwayatannya masih kontroversial hingga kini—menemukan relevansinya jika yang dimaksudkan sebagai “ulama pewaris nabi” adalah mereka yang oleh Al-Junaid disebut alsinat al hikmah, atau juru bicara kearifan ini. Yaitu para kekasih Allah yang dikaruniai ilmu pengetahuan dan pencerahan ber­kat perjuangan dan mujahadah-nya membebaskan diri dari godaan hawa nafsu dan kepentingan egoistis. Pe­maknaan ‘ulama’ yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘ahli ilmu agama Islam’, itu tidak ber­dasar sama sekali. Sebab, ilmu-ilmu agama Islam baru lahir pada abad ke-2 Hijriyah, dan sebagian besar pada abad ke-3 Hijriyah. Bagaimana Nabi mewariskan ilmu yang lahir berabad-abad sesudah beliau wafat?

Buya pernah mengartikan kata Musyrik secara luar bisa. Ini khazanah baru bagi saya pribadi. Kemusyrikan adalah bahwa engkau beranggapan Tuhan menyukaimu saat kau melakukan penindasan, kesewenang-wenangan dan kecurangan. Bagaimana memahami logika yang dibangun dalam agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw., di mana komitmen akhlak bersifat primer sementara peribadatanan ritual bersifat sekunder? Nabi mengajarkan bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pemurah selalu berkenan mengampuni dan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa hamba-Nya yang bertumpuk bergunung-gunung sekalipun, asalkan mereka bertobat. Semua diampuni kecuali syirik, dalam arti menganggap Tuhan tetap menyukaimu meski kau berbuat jahat kepada saudaramu. Tuhan tidak berkenan mengampuni dosa syirik karena urusannya pada orang yang bersangkutan, bukan pada Tuhan. Dia tidak bisa menghapuskan utangmu kepada saudaramu dan berbagai sangkutan lainnya, seperti menyakiti hati saudaramu itu, dan semacamnya. Yang boleh memaafkanmu hanyalah yang bersangkutan sendiri. Allah tidak memperjuangkan hak-hak-Nya, sendiri tapi Dia memperjuangkan hak-hak saudaramu itu. Tapi, kita kemudian membacanya terbalik: Peribadatan bersifat primer dan komitmen akhlak bersifat sekunder. Orang-orang kemudian merasa sah-sah saja korupsi, dan berniat menggunakan hasil korupsinya buat menunaikan haji atau umrah, atau membangun rumah-rumah ibadah serta memberikan bantuan-bantuan sosial. Dia melakukan itu karena menganggap jika peribadatan kepada Tuhan bisa menghapuskan komitmen akhlak. Para dai dan ustad sangat bersemangat mengajarkan agar begitu azan berkumandang seluruh aktivitas apa pun, termasuk pelayanan umum, harus segera dihentikan dan ramai-ramai menunaikan shalat berjamaah. Mereka lupa bahwa dalam rentang waktu 30 menit sampai satu jam yang digunakan untuk shalat tersebut ada sekian banyak urusan saudaramu yang terhalang, atau bahkan dirugikan. Ini termasuk syirik yang tidak diampuni oleh Tuhan, karena engkau beranggapan Tuhan menyukaimu, padahal engkau sedang merugikan saudaramu. Ini seperti anggapan orang-orang Jahiliyah, yang merasa tuhan mereka, Lata dan Uzza, meridhai perbuatan mereka dalam menindas orang-orang tak berdaya di Makkah, atau saat mereka melakukan kecurangan-kecurangan dalam perdagangan, dan sebagainya. Benar-benar Mak Jleb!

Buya selalu mengutip Junaid Al-Baghdadi (sang pemimpin sufi, yang menjadi idolanya), bahwa Tasawuf ialah bahwa engkau bersama Allah tanpa embel-embel. Ini adalah pengertian yang mengekspresikan pengalaman fanâ’ dan makrifat dalam sufisme Al-Junaid, yang tiada lain adalah taraf puncak kemurnian tauhid: Bahwa Allah memperjalankan kesaksian (syahâdah) akan ke-Esaan-Nya pada diri hamba, sehingga hamba bertauhid bukan atas nama dirinya, melainkan atas nama Allah sendiri. Kesaksian ini digambarkan Allah dalam QS Âli ‘Imrân: 18, sebagai kesaksian Diri-Nya atas Diri-Nya dan oleh Diri-Nya, yang kemudian Dia anugerahkan kepada para malaikat dan orang-orang yang dikaruniai ilmu. Membebaskan diri dari egosentris merupakan kunci transformasi diri, meninggalkan akhlak yang tidak baik menuju budi pekerti yang luhur, serta pembentukan karakter kebaikan. Seperti kata sahabat Al-Junaid, Amru ibn Utsman Al-Makki, ”Tasawuf ialah bahwa sang hamba selalu berada pada level terbaik dari seharusnya, setiap saat”. Maksudnya, sang sufi selalu dalam transformasi diri menjadi terbaik di setiap ruang dan waktu, lantaran ma‘iyyah-nya—atau kebersamaannya dengan Allah—yang tiada terputus, sehingga ia senantiasa dalam pendakian spiritual. Makrifat, menurut Buya Syaikh, sebagaimana beliau sarikan dari pemi­kiran Al-Junaid Al-Baghdadi mengajarkan bagaimana mengaplikasikan tauhid ‘non-konsepsi teologis’ dalam berbagai bidang kehidupan. Mengantarkan manusia langsung kepada taraf ideal dalam kemanunggalannya dengan Tuhan, persis seperti saat pertama kali dipersak­sikan ‘alastu birobbikum? Qolu balaa’. Peristiwa di mana manusia mengalami peniadaan diri, lantaran dominasi kehadiran Tuhan dalam totalitas kesadarannya. Ini ada­lah peristiwa Cinta Ilahi; bahwa Sang Kekasih jadi domi­nan dalam dirimu, kemudian menciptakan transformasi diri mengkuti irama Sang Kekasih. Di sinilah terlihat jelas betapa benar pernyataan oleh Tuhan, bahwa ajaran-ajaran agama hanya bisa dilaksa­nakan berdasarkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hanya dengan cintalah semua ajaran agama bisa didi­rikan secara sukarela dan tulus, sekaligus menciptakan transformasi moral dan perilaku. Jika Cinta Ilahi dite­rapkan berdasarkan makna tauhid sebagai kemanugga­lan Tuhan dengan segala penampakan dan tajalli-Nya, tampak jelas betapa agama sesungguhnya mengajarkan cinta dan kasih sayang bagi sesama dan bagi semesta alam. Pada taraf inilah setiap orang beragama membe­baskan diri dari eksklusivisme dan dapat menyerukan ‘Islam rahmatan lil ‘alamin’ dengan bangga. Bertasawuf adalah berislam itu sendiri. Dalam kamus Buya Syaikh, tasawuf dan Islam bukan lagi dua hal yang berbeda. Keduanya menyatu dan manunggal, ti­dak bisa dipisahkan. Tak bisa lagi dibedakan mana akar dan mana cabang. Dalam pengertian ini, Islam sudah melampaui pemaknaan agama formal, yang didefinisikan sebagai: “ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahaku­asa serta tata kaidah yang berhubungan dengan perga­ulan manusia sebagai individu dengan individu lainnya, manusia dengan makhluk ciptaan lain, serta manusia dan lingkungannya”. Pun, aktualisasi tasawuf sudah me­lampaui pemaknaan formal sebagai; “ajaran atau tun­tunan untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, sehingga memperoleh hubungan langsung seca­ra sadar dengan-Nya”. Bertasawuf dan berislam adalah pengalaman hidup itu sendiri—yang telah mengalami ‘kelahiran kembali’. Pengalaman hidup dengan kelahiran kembali meng­antarkan manusia pada rekonstruksi total terhadap tra­disi keagamaan yang diwarisi. Menemukan kemurnian ajaran Nabi Muhammad Saw. dalam kesejatiannya—se­bagaimana ditampilkan oleh Al-Quran—terbebas dari formulasi mazhab dan aliran pemikiran yang saling bertentangan dan menyalahkan. Tasawuf, bagi penulis yang telah menempuh pengalaman hidup, bukan se­kadar aspek esoteris dalam agama. Bukan pengertian yang hanya bisa dipahami oleh kelompok tertentu, atau bahkan tidak bisa dipahami sama sekali. Tasawuf ialah esensi agama itu sendiri.

Satu momen penting dan tidak pernah saya lupakan adalah momen saat beliau pernah bilang ke saya, ketika kami sama-sama menginap di sebuah hotel di Purwokerto: “Rid, lagu Sugih Tanpo Bondo ini aurad (kumpulan wirid): Hauqolah, Hasbunallah wa Nikmal Wakil, Allahul Kafi, Rabbunal Kafi, klo bisa amalkan”. Lagu Sugih Tanpo Bondo ini adalah syair R.M.P Sosrokartono, yang dikompos oleh “writing-mate” Buya Syaikh menulis #TuhanMahaAsyik seri 1 & #TuhanMahaAsyik2 , Mbah @president_jancukers

Buya Syaikh adalah lisanul al-hikmah, juru bicara kearifan. Petuah, pitutur dan nasihat dan ucapannya memberi efek kepada pendengarnya. Yang dimaksud”ucapannya memberi efek” di sini bukan sekadar memahami nasihat yang dide­ngarkan, melainkan verifikasi pengetahuan yang lebih meyakinkan. Dengan demikian, seseorang terbebas dari inklinasi skeptis.

Ya Allah Biha, Ya Allah Biha. Ya Allah Bihusnil Hatima.

Allahumarhamhu Rahmatal Abrar
Lahu Al Fatihah…

Faried Wijdan, salah satu muhibbin Almaghfurlah Buya Syaih Prof. Dr. Muhammad Nursamad Kamba

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *