Dangding Haji Hasan Mustapa

(Hawe Setiawan, penulis lepas, mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan, Bandung)

Kang Enang punya kerja berat. Ia seakan mesti macet filsafat ke tengah pasar atau memboyong mistikus ke tengah kelimun di alun-alun. Tidak lama setelah mengumumkan novel tentang ibu guru Dewi Sartika, E. Rokajat Asura—begitu nama lengkapnya—menghadirkan sosok dan karya pujangga, penghulu, dan sufi Haji Hasan Mustapa (HHM/1852-1930).

Saya sendiri ikut merasakan beban demikian waktu membantu antropolog Julian Millie membaca prosa HHM, “Gelaran Sasaka di Kaislaman”, untuk bungarampai, Hasan Mustapa: Etnis dan Islam di Indonesia (2017). Jajang A. Rohmana, penulis Informan Sunda Masa Kolonial (2018), pasti merasakannya pula ketika menerjemahkan dan menelaah surat-surat berbahasa Arab dari HHM kepada sahabatnya, C. Snouck Hurgronje.

Hal itu patut dialamatkan kepada Haji Hasan Mustapa: Sufi Besar Tanah Pasundan (2020) ini. Pada garis besar buku ini menampilkan sosok dan karya HHM sebagai sufi, pujangga, dan penghulu dalam sejarah kebudayaan Sunda Islam untuk khalayak umum pembaca Indonesia. Dalam bahasa penulisnya sendiri: buku ini adalah pendengar buat “membantu memperkenalkan” HHM kepada “semua kalangan” (hlm. 10).

Ia seakan mesti macet filsafat ke tengah pasar atau memboyong mistikus ke tengah kelimun di alun-alun. Itulah ciri khas buku Kang Enang, penulis produktif yang mengawali kariernya dengan mengarang cerita-cerita pendek berbahasa Sunda. Ia pertama kali melihat nama HHM sekian puluh tahun silam sewaktu ikut kursus mengarang di Caraka Sundanologi asuhan “prajurit kesusastraan” almarhum Adang S. Jika buku-buku tentang HHM yang terbit akhir-akhir ini terutama berasal dari dan layanan ke lingkungan sarjana atau peneliti, buku Kang Enang dialamatkan ke sebanyak mungkin orang.

Bahan-bahan narasinya adalah tulisan-tulisan HHM sendiri, terutama yang berupa puisi yang disebut dangding, serta tulisan-tulisan para sarjana dan peneliti yang menelaah sosok dan karya tokoh tersebut. Kontak sana-sini, tentu, dilakukan pula, tak terkecuali mengontak seorang pesan di Kutaraja, Aceh, tempat HHM dulu bekerja. Ia juga berdiskusi dengan beberapa penulis dan peneliti di Bandung.

“Risétna kirang langkung sataun. Nyeratna mah tilu sasihan. Nuur lami mah narjamahkeun dangding sareng masihan interpretasi alakadarna(Risetnya lebih kurang tepat. Penulisan sekitar tiga bulan. Yang paling lama adalah menerjemahkan dangding dan memberikan interpretasi alakadarnya), “tutur Kang Enang baru-baru ini.
Teknik penceritaan yang diandalkan oleh penulis buku ini adalah parafrase dari dangding-dangding HHM serta nukilan dari telaah para peneliti. Dengan cara itu, karya HHM sedikit banyak dapat digemakan ke dalam bahasa Indonesia dan latar kesejarahan tokoh ini dapat digambarkan.Teknik penceritaan yang diandalkan oleh penulis buku ini adalah parafrase dari dangding-dangding HHM serta nukilan dari telaah para peneliti.

Sejalan dengan teknik masukannya, isi buku 543 halaman ini terbagi ke dalam dua pokok: pertama, sosok dan riwayat HHM; kedua, petikan dari puisinya beserta interpretasi penulis. Bagian pertama, yakni narasi biografi, hampir sama tebalnya dengan bagian kedua, yakni petikan dangding beserta terjemahan dan parafrasenya. Pokok dan tokoh memang sama pentingnya.

Riwayat HHM dalam uraian penulis, antara lain, termasuk latar belakang keluarga di Garut, perjalanannya ke Arab Saudi, tugasnya sebagai guru agama, persahabatannya dengan Snouck Hurgronje, kariernya sebagai penghulu, dan wibawanya sebagai pujangga dan ahli tasawuf, hingga wafat. Senarai tulisan karya HHM, hasil inventarisasi para peneliti, masukkan ke dalam uraian di bagian pertama. Lini waktu perjalanan hidup HHM disertakan pula bersama gambar ilustrasi.

Dalam terjemahan, di bagian kedua, penulis mengambil jalan paling aman, yakni membebaskan diri dari patokan persajakan atau ukuran metrum Sunda. Meski demikian, sejauh bisa, ia berupaya agar terjemahannya tidak kelewat bebas. Dengan kata lain, alih-alih mengundang pembaca ke dalam puisi Sunda, ia cenderung memastikan puisi Sunda ke lingkungan Nusantara.

Meski demikian, sejauh bisa, ia berupaya agar terjemahannya tidak kelewat bebas.
“Menurut hemat penulis, sekalipun (terjemahan ini) tidak memenuhi syarat guru lagu dan guru wilangan, pembaca yang tidak bisa atau tidak terbiasa menggunakan bahasa Sunda tetap dapat menangkap maknanya,” tulis Kang Enang (hlm. 198).

Di bagian penutup Kang Enang menyajikan hasil diskusinya dengan sejumlah penulis perihal salah satu bagian genting dari karya HHM, yakni benarkah sang pujangga dapat disebut “penganut wahdatul wujud”? “HHM ingin meyakinkan bahwa ‘aku’ (HHM) bukan Allah, tetapi Allah mengatakan bahwa AKU adalah ALLAH, sama dengan ‘Aku adalah H. Hasan Mustapa’,” urai penulis.

Selain perkara hubungan abdi dengan Gusti, tentu, urusan kolaborasi HHM dan Snouck tak kurang runyamnya. Namun, dengan deskripsi Kang Enang, pembaca kiranya tidak usah tegang. Toh yang dilaporkan oleh HHM kepada Meneer Snouck juga soal-soal yang kedengarannya menyenangkan semisal perubahan tata busana, potongan rambut, dan nama diri orang Sunda.

Dari buku ini kentara bahwa Kang Enang termasuk penulis dari Tatar Sunda yang mengagumi HHM. Terbaca pula ikhtiar penulis ini untuk menjadikan HHM sebagai teladan terbagi bagi sikap keberagamaan di tengah kemajemukan Indonesia dengan mempertautkan beberapa segi dari pandangan HHM dengan apa yang disebut “tradisi intelektualisme Islam Nusantara” (hlm. 48). Dari buku ini kentara bahwa Kang Enang termasuk penulis dari Tatar Sunda yang mengagumi HHM Beberapa koreksi perlu disusulkan. Misalnya, dalam petikan dangding di halaman 101-102 tertulis “nurutkeun pati kumpeni “, seharusnya “nurutkeun pasti kumpeni . “Pati” berarti “ajal” sedangkan “pasti” dalam dangding ini berarti “tugas”.

Tentu, masih banyak hal yang barangkali akan dicari di kemudian hari. Mengapa HHM tidak membuka pesantren? Bagaimana proses kreatif HHM dalam menggubah dangding? Apa pandangan kalangan di luar kemapanan terhadap HHM? Kira-kira kalangan mana yang membikin gundah HHM dengan gelap salésér surat kaleng? Bagaimana hidup sehari-hari HHM? Sejauh mana, baik HHM maupun Snouck, sama-sama yang “bermasalah” dengan lingkungan asal mereka sebagai akibat dari persahabatan?

Salah satu ungkapan HHM yang membekas di benak penulis adalah “capétang maca kalangkang”. Buat saya, itu ungkapan yang tidak biasa, sebab capétang lazimnya dipakai sebagai kata sifat untuk kefasihan Berbicara, bukan untuk kejelian melihat atau membaca. Jangan-jangan, yang dimaksud adalah fasih membacakan atau mendeklamasikan bayang-bayang.

Salah satu ungkapan HHM yang membekas di benak penulis adalah “capétang maca kalangkang”.
Saya tidak tahu. Yang saya tahu, dangding pada kenyataan adalah puisi yang digubah buat bernyanyi. Kang Enang, dengan kerja beratnya ini, kiranya telah turut melantunkan semacam gita buat sang pujangga berdasarkan sejumlah bayang-bayang dari sosok dan jejak langkahnya.

Sumber: Kompas, 21 September 2020

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *