Pak AR, Bermuhammadiyah Luar dan Dalam

Oleh: Hasnan Bachtiar

Ketika lepas shalat Ashar, saya membaca karangan Haidar Musyafa yang bertajuk “Pak AR & Jejak-Jejak Bijaknya” (2020) terbitan Imania Tangerang. Komentar saya, “Buku ini bukan keren. Tapi keren sekali!” Di toko buku, buku ini tampak tidak istimewa, karena terselip di antara buku-buku biografi lainnya dengan desain cover yang mentereng. Tapi justru itulah yang membuat saya tertarik, ketika memperhatikannya secara lebih detil. Saya menjemput buku ini, seperti menemukan intan permata di tengah timbunan pasir dan kerikil. Setelah saya mengeja, “Pak AR”, lekas saya ambil buku ini. “Itu kan nama masjid di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), AR Fachruddin,” gumam batin saya. 

Tak lama memperhatikan bungkusnya yang menunjukkan sosok bersarung dan berbaju putih sederhana, berpeci hitam, menunggangi motor bebek Yamaha tahun 60 atau 70an?, lantas saya langsung membaca bagian tengah, tanpa memperhatikan daftar isi, penulis atau bahkan penerbitnya, sebagaimana ritual rutin yang saya lakukan terhadap buku-buku lainnya. Sejak saat itu, saya menyadari bahwa, lebih dari setengah jam saya berdiri mematung, menikmati baris demi baris kalimat yang mengalir begitu saja. Saya hanyut dalam kesederhanaan dan kebersahajaan sikap dan lelaku seorang tokoh yang diceritakan dalam buku tersebut. Artinya, secara bahasa, saking bagusnya cara pengarang menyajikan ceritanya, hingga pembaca lupa bahwa ada skill dan kelihaian yang di atas rata-rata yang dimainkan. Betul. Saya terkesan dengan isi muatan buku ini. Sampai-sampai, hanya dalam beberapa kedipan, kesadaran saya sudah masuk ke dalam alur cerita yang ada. Di antara para tokoh pendakwah agama sekaligus pejuang kemanusiaan, Pak AR memang tidak setenar KH Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah. Kalau tidak keliru, beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang ke-11. Periode kepemimpinannya bergulir sejak 1968-1990. Beliau menggantikan KH Faqih Usman dan pada akhirnya digantikan oleh KH Azhar Basyir.

 

Potret Sosok Pak AR 

Sebagai sosok yang sederhana, ternyata sangat dekat dengan Pak Harto (Presiden di masa Orde Baru) yang dikenal murah senyum namun bertangan besi. Tentu bukan sebagai pengikut setia. Tapi sahabat yang tidak segan menasehati, dengan cara yang paling bijaksana, tidak menyinggung perasaan, tetapi tidak ada yang ditutup-tutupi. Kalau Pak Harto dianggap keliru, Pak AR menegurnya. Dan melalui teguran Pak AR ini, Pak Harto bisa mewujud Raja Jawa yang tampak arif. Itulah mengapa kemudian, melalui desas-desus yang berkembang saat itu, Pak AR dikenal sebagai sosok yang memiliki “idu geni” (literal: ludah api). Maknanya, memiliki kesaktian di mana nasehat-nasehatnya mampu melunakkan hati yang sangat keras sekalipun. Kendati demikian, Pak AR, bukan hanya merangkul para “penggede”. Namun juga orang-orang biasa, yang tiada menanggung pangkat atau jabatan apa pun. Ramah terhadap siapa saja dan dianggap “kawan” oleh siapa saja. Sepertinya sosok ini, – menurut bayangan saya tentu saja –tidak punya musuh, teduh, dan senantiasa membuat orang lain bersemangat, penuh harapan, optimis, dan cinta kemanusiaan. Seandainya boleh membandingkan, perannya terhadap orang biasa dan masalah sehari-hari, mirip dengan tokoh Skandinavia, Nikolaj Frederik Severin Grundtvig. Grundtvig di Denmark, hidup sezaman dengan (dan sedikit lebih tua dari) Søren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf eksistensialisme yang tersohor.

Grundtvig sendiri adalah seorang pastor, filsuf, politisi, sastrawan, budayawan, dan guru sekaligus. Mirip Pak AR, Grundtvig terlalu bersahaja, sehingga karya-karyanya tidak se-terkenal Kierkegaard. Tapi di hati orang Denmark, namanya patut diabadikan sebagai nama rumah ibadah. Dekat dengan penguasa sebagai penasehat yang bijak, dan melekat di hati rakyat jelata karena tutur dan perilakunya yang menumbuhkan harapan hidup dan benih-benih ketentraman.

 

Pak AR: Pribadi yang Luar Biasa 

Sebagaimana Grundtvig di mata para budayawan Skandinavia, Pak AR mendapatkan tempat yang tinggi bagi para budayawan tanah air. Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang unik dan eksentrik itu, pernah mengatakan: “Gusti Allah mencerminkan diri pada orang tua terkasih kita ini. Pada perilakunya yang amat sangat bersahaja. Pada cinta sosialnya yang meluber. Pada kepemimpinannya yang sepuh. Pada pilihan zuhudnya. Pada kesegaran penuturannya yang penuh ketulusan.” Bagi saya pribadi, inilah sosok Muhammadiyah yang hidup, seandainya Muhammadiyah itu boleh diwakili oleh seorang individu. Pak AR adalah Muhammadiyah dan Muhammadiyah adalah Pak AR. Kata seorang antropolog, Mitsuo Nakamura, “His person embodied the organization of Muhammadiyah and, vice versa, Muhammadiyah embodied him. He was Muhammadiyah!” Inilah cerita setengah jam mematung di toko buku ketika itu. Malamnya, saya tidak bisa tidur. Saya terus teringat tentang kepribadian Pak AR yang luar biasa. Sebagai cermin, saya adalah kaca buram penuh lumpur. Pada saat sepenggalah matahari naik, saya pergi ke Masjid AR Fachruddin (sebelum ke kantor). Dengan maksud imajinatif, menyapa beliau, Pak AR. Saat itu, selepas shalat dhuha, saya duduk termenung seraya berdoa, “Ya Allah, berilah kesempatan pada kehidupan saya agar memiliki kepribadian yang bersahaja seperti Pak AR, sehingga saya mampu bermuhammadiyah luar dan dalam.” Jadi, para pembaca sekalian, belilah buku ini, bacalah hingga tuntas. Mudah-mudahan para pembaca mendapatkan berkat dan barakah.

Sumber: https://ibtimes.id/pak-ar-bermuhammadiyah-luar-dan-dalam/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *