CEUK AING

Oleh: Sujiwo Tejo, Presiden Jancuker

Tiap-tiap iseng untuk tidak bersyukur, saya selalu mengingat kebetulan-kebetulan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Kebetulan saya pernah menghadiri acara mantunya seniman Tisna Sanjaya di kawasan Hegarmanah, Bandung, yang “menjumpakan” saya dengan Haji Hasan Mustapa. Kemudian, setelah kebetulan itu terangkai dalam jalin-kelindan kebetulan-kebetulan lainnya, ia akhirnya berujung pada kebetulan yang lain lagi. Faried Wijdan dari Penerbit Imania kebetulan meminta saya membuat epilog tentang Sufi Besar Tanah Pasundan ini. Jadilah epilog yang sedang Sampeyan baca sekarang.

Entah apa untung-ruginya saya menghadiri acara Tisna mantu. Wong kami tak punya hubungan kepentingan apa-apa. Tisna bukan rekan bisnis saya, maupun rekan kolaborasi dalam berkesenian. Semoga —kalau mau Ge Er—itu persis dengan wanti-wanti dalam Dangdanggula Panorah Rasa halaman 260 buku ini. Melaksanakan hidup Tanpa untung tanpa kenang rugi. Tanpa untung tanpa ingat rugi.

Bukannya sok sibuk. Cuma, kalau menuruti padatnya jadwal, saat itu saya tak akan mau capek-capek dari Jakarta ke Bandung menghadiri perhelatan. Pas antre salaman, mata saya tertohok pada baris-baris

kalimat di atas pelaminan. Larik-larik warna putih itu ditulis di papan kayu dengan hiasan gambar kujang, diapit oleh dua ikatan padi di kiri-kanannya:

Ceuk aing Allah mah batur

Ceuk batur Allah mah aing

Ceuk aing Allah mah eta

Ceuk eta Alla mah aing

Ceuk aing Allah mah saha

Ceuk saha Allah mah aing

Saking tertohok dan terpesonanya saya akan kalimat-kalimat itu, sampai-sampai istri saya menggamit tangan saya untuk maju setiap antrean salaman di depan kami bergeser maju. Soalnya mata ini saya terus fokus ke pandangan di atas pelaminan itu. Ketika antrean sudah makin mendekati pelaminan, saya memotretnya dengan blackberry (waktu itu gadget ini lagi eksis-eksisnya).

Hasil jepretan itu lama mengendap tanpa saya baca-baca lagi, hingga terbetik keinginan saya untuk selalu berulang-ulang membacanya. Kelihatannya, nasib buku yang disusun E. Rokajat Asura ini juga akan seperti tulisan dalam blackberry itu. Menggoda untuk dibeli, dibaca sekilas, lalu disimpan dan diendapkan lama sampai terbit ingatan dan kebutuhan untuk membacanya lebih dalam. Terbitnya kebutuhan membaca buku 543 halaman ini bisa lantaran halte-halte pejalanan batin si pengendap naskah kebetulan sedang mencapai halte yang satu frekuensi dengan isi buku ini. Bisa pula lantaran situasi sosial yang melingkupi si pengendap naskah Haji Hasan Mustapa ini membuatnya merasa harus kembali menyimak naskah-naskah itu.

Toleransi beragama yang digencarkan akhir-akhir ini menurut saya hanyalah toleransi permukaan. Toleransi hilir, sebagaimana pernah saya ungkap di ILC TV One. “Silakan kamu menjalankan agamamu, tapi agamaku yang paling benar.” Ini yang saya maksud toleransi hilir. Tampak luarnya toleran. Tapi dalam hati antarpemeluk agama yang berbeda tetap ada bara sekam rasa unggul. Buku Haji Hasan Mustapa: Sufi Besar Tanah Pasundan ini mengajak kita untuk melakukan toleransi hulu. “Silakan kamu menjalankan agamamu, aku menjalankan agamaku, dan semoga di ujung nanti kita bertemu pada kebenaran yang sama.”

Karya-karya Haji Hasan Mustapa yang dirangkum E. Rokajat Asura ke dalam Dangdanggula, Asmaradana, Kinanti, Megatru dan Pangkur ini walau tetap terikat pada agama tertentu, sejatinya, juga membuka satu per satu simpul ikatan-ikatan itu. Sehingga, kalau kita ibaratkan dengan gunung, Haji Hasan Mustapa tidak saja mengajak kita terikat pada jalan setapak menuju puncak. Haji Hasan Mustapa sekaligus mendakikan kita sampai ke puncak gunung sehingga nun di sana kita bisa melihat bahwa seluruh jalan setapak itu sejatinya akan menuju puncak yang sama.

Benarkah kesimpulan saya?

“Entah,” mungkin begitu jawab manusia yang baru dikasih tahu gambar suatu gunung.

“Mungkin,” barangkali begitu jawab manusia yang sudah diajak melihat suatu gunung.

“Betul,” patut diduga begitu jawab manusia yang sudah pernah mengalami dan menghayati sendiri mendaki suatu gunung dan sampai ke puncaknya.

Ya, dangding-dangding Haji Hasan Mustapa hanya bisa dinikmati dan dihayati oleh manusia yang telah mengalami kandungan dangding-dangding itu dalam kehidupan konkret. Manfaat buku ini bukan untuk memberi pengetahuan baru. Buku ini bermanfaat untuk untuk mengukuhkan bahwa pengalaman diri yang oleh diri sendiri dianggap aneh atau mahiwal, ternyata diamini oleh seorang ulama mahiwal. Mahiwal bukan sekadar gila seperti termaktub di halaman 343, tapi mahiwal-nya seorang Sufi Besar Tanah Pasundan.

Penggencaran toleransi abal-abal beragama itulah pelatuk dan pemicu saya untuk kembali menekuni dangding Ceuk Aing di blackberry hingga saya compose menjadi lagu. Komposisi ini kemudian saya nyanyikan di berbagai tempat, tak cuma di tatar Sunda. Sungguh khalayak positif responnya. Dengan latihan tak sampai 5 menit, penonton sudah bisa turut menyanyi dengan saya. Demikianlah di pesantren-pesantren maupun kampus-kampus di Jombang, Lamongan, Surabaya, Banyuwangi, Malang, Jember, Yogya, Pekalongan, Wonosobo, Semarang, Solo dan lain-lain termasuk di luar Jawa seperti Jambi dan Parepare.

O ya. Ketika sowan ke K.H. Fuad Affandi di pondok pesantren asuhannya, Al-Ittifaq, Ciwidey, Jawa Barat, saya disambut oleh musik sederhana di suatu saung. Musik ini terus berbunyi saat kami ngobrol, makan dan lain-lain. Mereka membawakan tembang-tembang Jawa termasuk beberapa gubahan Sunan Kalijaga. “Santri-santri di sini belajar macapat Jawa, Kaka Prabu,” tutur kiai yang pernah nyantri di Lasem, Jawa Tengah itu. Beliau memanggil saya ‘Kaka Prabu’.

Yang akan saya ceritakan, pas Kiai Fuad yang lebih senang kupanggil Mang Fuad ini shalat, saya iseng-iseng nyamperin saung bermusik itu. Kuperkenalkan pada mereka lagu Ceuk Aing. Kubujuk mereka untuk mau menyanyikannya. Kuajarkan. Mereka senang dan langsung bisa. Beberapa guru pengajar agak kebingungan andai berlebihan bila saya bilang panik. “Ini wahdatul wujud ya, Mbah? Bahaya untuk santri-santri,” begitu komen salah seorang mereka kepada saya. Menyampaikannya dengan senyum-senyum, sih. Tapi dapat kurasakan sedikit kegugupan mereka. Herannya, Mang Fuad sendiri malah cuma terkekeh-kekeh mendengar lagu itu. Malah sempat beberapa kali turut menyenandungkannya sambil mengajak saya keliling melihat berbagai tanaman dan kolam ikan pada kawasan agrobisnis yang terkenal dari pesantren itu.

Pada titik ini benar apa yang ditulis di halaman 514, syair-syair Haji Hasan Mustapa ibarat cermin yang saling berhadapan sehingga dapat dilihat dari berbagai arah. Pengamatan dan sudut pandang yang berbeda terhadap Ceuk Aing, seperti antara para guru dan pengasuh puncaknya sendiri, Mang Fuad, melahirkan simpulan yang berbeda.

Herannya, ketika Ceuk Aing ini saya tembangkan di Purwakarta, hampir semua turut menyanyi dan menari-nari. Pertama bersama para guru. Kedua bersama para perawat. Tak ada yang menolak. Kang Dedi Mulyadi, anggota DPR dan mantan bupati Purwakarta yang turut hadir dalam kedua pertemuan itu, juga turut menyanyi dan berjoget. Di Karawang sarua wae. Tak ada yang menolak maupun tampak enggan. Bupati mereka, dr. Cellica Nurrachadiana turut berdendang dan bergoyang.

Yang lebih nampol lagi ketika Ceuk Aing saya bawakan di Garut. Bukan saja khalayak dari beragam profesi dan mahasiswa/i tak ada yang menolak. Bukan saja mereka turut menyanyi dan bergoyang. Bahkan, salah seorang sesepuh mereka ambil mik di panggung, dan mengumumkan dengan bangga bahwa Haji Hasan Mustapa ini kelahiran Garut. “Puisi-puisi beliau lainnya saya tahu. Tapi saya baru tahu puisi Haji Hasan Mustapa yang Ceuk Aing ini. Terima kasih, Mbah,” katanya dalam kesaksian publik.

Hah? Saya justru baru tahu malam itu bahwa Haji Hasan Mustapa ini kelahiran Garut. Dalam hati, saya pun bilang bahwa mestinya sesepuh itu berterima kasih kepada Tisna Sanjaya. Tanpa kebetulan hadir di acara mantunya, di tengah hujan lebat, mungkin saya tak akan pernah tahu Ceuk Aing dan tak akan pernah membawakannya untuk publik Garut.

Teriring melalui epilog ini hatur nuhun kepada Ir. Tatang Natapradja dan Kang Ali Romli Wangisuta, S.S., M.M., (cicit Haji Hasan Mustapa) dan sekeluarga besar Haji Hasan Mustapa, yang pada 20 Januari 2020, bakda asar di Cisaranten Kulon, Ujung Berung, Kota

Bandung telah memberikan restu kepada saya untuk menyosialisasikan Ceuk Aing via tembang sederhana.

Lalu, setelah melalui rangkaian kebetulan-kebetulan itu dan kebetulan lain yang tak bisa semuanya saya deretkan di sini, saya kebetulan dihubungi oleh Faried Wijdan dari Penerbit Imania untuk membuat epilog buku ini. Ternyata, belakangan, saya baru tahu bahwa epilog ini bukan saja untuk buku tetang penulis Ceuk Aing dan karya-karyanya. Saya juga membuat epilog untuk suatu buku yang diendors oleh guru saya, Kiai Agus Sunyoto.

Segala kebetulan itu apakah sekadar kebetulan? Tidak, kalau kita membaca Asmaradana Babalik Pikir halaman 199… Tadina aing pidohir/ teu boga pikir rangkepan …Tadinya aku melihat yang tampak saja/Tak punya pikiran rangkap lainnya.

Muntang kana lahir gingsir/Jayana bet kakapeungan … (Jika manusia) berpegang pada lahir saja, yang mudah berubah-ubah, orang bakal kebingungan… (halaman 219).

Apalagi—ini wejangan bagi diri saya sendiri—sudah berpatokan kepada hal yang kasat mata saja, masih juga berpatokan pada pendapat umum terhadap dirinya. Padahal… Kajeun teuing ngecemplung cara nu burung/sondari katebak angin/parungpung lamo ngahiung … Orang yang hidup penuh kehati-hatian, yang tak mudah terkecoh oleh yang kasat mata saja, tak akan peduli sangkaan orang lain, biar pun orang lain itu menganggapnya gila…(halaman 448).

Namun, sudah menjadi pembawaan manusia terutama saya untuk tergoda oleh sesuatu yang tampak saja, termasuk penampakan sangkaan-sangkaan orang lain terhadap dirinya. Banyak maunya pula. Karena meluap-luapnya kemauan itu pula saya malah menjauh dari tujuan hakikinya di alam dunia, yaitu menuju Allah Rabbulalamin. Perbawa hawa kabita/dina alam Allahna robbul alamin/dilanjur usumna kitu/boga rasa mokaha/mikahayang sugan ieu sugan itu/ngan sasar gugurayangan/hakeki bawa ngajadi… (halaman 466).

Bagi Haji Hasan Mustapa, sekasar apa pun tudingan yang menyebut dia adalah penganut paham wahdatul wujud, itu sama sekali tak menyurutkan semangatnya berkarya. Beliau sama sekali tidak khawatir pemikiran-pemikirannya itu tak akan dibaca banyak orang. Ia yakin kelak karya-karyanya akan dicari dan diperbincangkan orang. Prediksi yang terbukti sekarang ini, bukti dari “weruh sakdurung winarah”-nya Haji Hasan Mustapa (halaman 99).

Yang penting mendapatkan rida dari ibu. Sebab hanya dengan rida itu akan didapat qudrat, iradat dan ilmu. Inilah modal paling bagus untuk menempuh pengembaraan mencari kesejatian diri, sesuatu yang juga pasti dicari banyak orang di kemudian hari. Lebah dieu beak nanjak/ anu tilu ti tadi basa malingping/ miturut panuju indung/ lebah dieu wiwaha/ moal poho tapi teu kudu jeung nguyung/ ngumbara keur walakaya/ ati bari urang-iring.…(halaman 480).

Ibu di situ bisa ibu biologis, tapi juga ibu yang berupa adat istiadat di mana Haji Hasan Mustapa pun menyusu kepadanya. Terbukti beliau pernah menulis buku Bab Adat-adat Urang Priangan jeung Urang Sunda Lian ti Eta (1913) yang menjelaskan budaya Sunda secara detail bahkan sampai membuat kagum orientalis Belanda termasyhur, Christiaan Snouck Hurgronje…(halaman 169). Pengakuan tokoh-tokoh akan pemahanan mendalam Haji Hasan Mustapa akan alam budaya Sunda, termasuk pengakuan oleh sastrawan Utuy Tatang Sontani … (halaman 195), makin mengukuhkan bagaimana alam budaya Sunda menjadi ibu dari pemikiran-pemikiran beliau.

Saya akur dengan prolog Jajang A. Rohmana bahwa penulis buku ini mencoba menggambarkan inti pemikiran sufistik Haji Hasan Mustapa sebagai perpaduan tasawuf yang berlatar alam budaya Pasundan… (halaman 16).

Kebetulan lain yang boleh kita harapkan terjadi adalah, Sampeyan tergoda untuk membeli buku yang covernya menarik ini, membacanya sepintas, bosan karena isinya Sampeyan anggap terlampau berat, lalu Sampeyan kasih ke orang lain secara random, orang ini begitu baca covernya langsung menganggapnya berat dan menggeletakkannya begitu saja, berpuluh tahun kemudian dalam perjalanan hidup orang ini seiring meningkatnya usia mengandung pengalaman dan penghayatan seperti spirit pada cover buku, lantas membuat orang ini teringat untuk membacanya, bukan sekadar membaca dan menyimaknya, tapi menjadikannya sebagai disertasi Doktornya pada usia menjelang senja!

Ada seorang perempuan Doktor di filsafat UGM yang meraih kedoktorannya menjelang usianya 60 tahun, dengan disertasi tentang pikiran-pikiran Ki Ageng Suryomentaram, dari buku yang dulu pernah dihadiahkan kepadanya saat SMP dan berpuluh tahun cuma dionggokkan di gudang di Lamongan.

Selamat atas lahirnya orang-orang awam seperti saya yang pengalaman dan penghayatan hidupnya kebetulan dikukuhkan oleh buku Haji Hasan Mustapa: Sufi Bersar Tanah Pasundan ini, juga selamat atas kebetulan lahirnya Doktor-Doktor di masa depan berdasarkan buku saat ini, yang disusun oleh E. Rokajat Asura.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *