Oleh Faried Wijdan
Dari Abu Nu’amah bahwasanya Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu mendengar anaknya membaca doa :
“Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan Surga”.
Mendengar ini, ayahnya spontan memberi nasehat kepada anaknya : “Wahai anakku mintalah kepada Allah Surga dan berlindunglah kepadaNya dari api Neraka, sebab saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan muncul dari umatku sekelompok kaum yang berlebihan dalam bersuci dan berdoa.”(HR. Ahmad 20554, Abu Daud 96, Ibnu Majah 3864, Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini hasan).
Imam Al-Munawi menjelaskan hadis ini, Makna: “berlebihan dalam berdoa” adalah melampaui batas, dengan meminta sesuatu yang tidak boleh atau mengeraskan suara ketika berdoa atau memaksakan lafazh bersajak dalam berdoa.
Kemudian beliau menukil keterangan At-Turbasyti, Imam Turbusyti mengatakan, yang dimaksud berlebihan dalam berdoa bisa memiliki banyak pengertian. Intinya dia melanggar batasan dari kondisi merasa butuh menjadi tidak butuh sama sekali, termasuk doa dengan sikap ekstrim: berlebihan atau meremehkan. Untuk kepentingan dirinya maupun orang lain. Baik doa kebaikan maupun doa keburukan.
Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu melarang anaknya berdoa seperti itu karena permintaan tersebut tidak sesuai dan tidak mungkin bisa diraih oleh amal perbuatannya. Dimana dia meminta kedudukan para nabi dan para wali. Beliau memahami permintaan seperti itu termasuk berlebihan dalam berdoa, serta tidak pantas karena menganggap sempurna terhadap diri sendiri. [Faidhul Qadir 4/130]
Imam Al Ghazali berkata : “Dilarang berdoa dengan sajak yang dipaksakan kerana sebab tidak sesuai dengan sikap berendah diri. Sebaiknya seseorang berdoa dengan doa-doa ma’tsur yang memiliki susunan kalimat bagus tanpa memaksakan diri”.
Di antara sebagian dari adab/etika berdoa adalah: Hendaklah di dalam berdoa tidaklah memaksa diri menyusun doa-doa yang bersajak dan puitis, dan Redaksi doa yang di lantunkan, hendaknya di dalam doanya berisi doa, bukan yang berisi permusuhan, maksiat (dosa), sumpah, kutukan, dan sebagainya yang buruk-buruk. Selanjutnya ketika berdoa seorang pendoa harus menghilangkan self sabotage, sabotase diri, yakni sumbatan energi psikologis dari mindset yang kurang tepat, yang dapat menghambat terkabulkannya doa. misalnya: sirik/tidak senang melihat orang lain sukses/sehat/ bugar/ kaya/dapat rejeki, dan seterusnya.
Untuk menetralisir sumbatan- sumbatan energi psikologis tersebut, seorang pendoa harus mensinkronisasikan/ mengharmoniskan antara pikiran dan perasaannya, antara otak dan hati nurani, antara pikiran sadar dan bawah sadarnya.
