Hamka

Judul Buku                  : HAMKA Sebuah Novel Biografi

Nama Pengarang        : Haidar Musyafa

Nama Penerbit            : Imania

Ketebalan Buku           : 464 Halaman

Tahun Terbit               : 2017

Nomor Edisi                : Jilid satu cetakan Kedua

 Buku pertama dari dwilogi karya Haidar Musyafa berkisah tentang Haji Abdul Mallik Karim Amrullah (Hamka), memuat masa kecil Hamka sampai berusia 30 an tahun. Dikisahkan bahwa nama kecil Hamka adalah Abdul Malik putra Haji Karim Amrullah atau Haji Rasul.

Abdul Malik adalah anak yang tidak suka dengan cara belajar formal dan kaku. Dia sering meninggalkan kelas, karena merasa bosan dengan cara pengajaran yang monoton (menghafal, mendengar ceramah). Namun demikian ia tetap bertanggung jawab dalam belajar, ia keluar kelas bukan untuk bermain tetapi mengahbiskan waktunya dengan membaca buku di bibliotek (perpuustakaan) milik Syaikh Zainuddin Labay El-Yunusy. Disamping membaca buku di perpustakaan Abdul Malik suka mendengar kaba (cerita atau kisah-kisah rakyat yang berasal dari Minangkabau yang disajikan dengan musik dan nyanyian).

Perilaku Malik yang demikian itu sering membuat marah Haji Rasul, sering terkena marah.Agar Malik lebih fokus belajar, maka Haji Rasul mengirimnya kepada Syaikh Ibrahim Musa di Parabek. Lagi-lagi  Malik merasa tidak cocok dengan model pembelajaran yang monoton. Dia melarikan diri dari pesantrian (pondok pesantren) yang membuat haji Rasul marah besar padanya.Saat haji Rasul marah biasanya ibu Shafiyah (ibu kandungnya) yang menghibur. Sejak ibu Shafiyah berpisah dengan haji Rasul Malik merasa  bahwa hidupnya tidak berguna bagi ayahandanya, hal ini membuatnya nekat meninggalkan rumah untuk pergi ke Jawa. Dia berharap dapat pengalaman baru dalam belajar, karena Jawa terkenal dengan tokoh pergerakan dan perkumpulan menurut buku-buku yang dibacanya.

Malang tak dapat ditolak saat menuju Jawa, dia terserang penyakit cacar.Penderitaan Malik sangat pedih dia menanggung penyakit tanpa didampingi orang-orang yang mencintainya.Ada suami istri saudagara sederhana yang baik hati menolong dan merawatnya. Ketika Malik sudah merasa enak badan mencerikan perihal dirinya sampai di Bengkulu, atas saran suami istri yang baik itu Mallikpun pulang ke padang Panjang.

Kedatangan Malik disambut dengan senang hati oleh ayahndanya, sekalipun Malik sering membuatnya kecewa.Penyakit cacar membuatnya canggung untuk bergaul, apalagi orang-orang yang dulu menyukainya karena ketampanan wajah Malik.Disaat duka mendalam merundungnya ibu Hindun (ibu tirinya) membesarkan hatinya agar tetap belajar dan mengaji di Sumatera Tawalib. Setelah hubungan Mallik dengan ayahandanya harmonis, ia meminta ijin agar diperkenankan belajar ke Jawa. Bersama Marah Intan berlayar menuju Yogyakarta.

Pertemuan Malik dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH.Facruddin, KH.Ibrahim, Ki Bagus Hadikusumodan tokoh Sarekat Islam H.O.S. Cokroaminota membuat Malik semakin senang belajar, karena cara mengajar mereka berbeda dengan metode pengajaran di Sumatera Tawalib. Setelah puas belajar di Yogyakarta Malik melanjutkan belajar kepada kakak iparnya Abdul Rasyid Sutan Mansyur (kakak iparnya) di Pekalongan.Pertemuannya dengan AR Sutan Mansyur semakin membuatnya bersemangat untuk aktif di persyarikatan Muhammadiyah.

Dua tahun merantau di Jawa membuatnya semakin matang dalam berceramah dan menulis.Setiap kali Malik berceramah banyak orang yang datang tapi bukan untuk mendengarkan tetapi untuk mencemooh isi pidato Malik. Ketika sampai di rumah ia mengadukan kepada haji Rasul, maunya mendapat pembelaan tapi ternyata haji Rasul berpendapat sama dengan kebanyakan orang tua di ranah Minang. Merasa ilmunya tak dihargai Malik kecewa dan meninggalkan Padang panjang menuju Minanjau (tanah kelahirannya)

Setelah dua hari dua malam berjalan tibalah Malik di Minanjau.Nenek Andung (nenek kandung Abdul Malik) heran dengan kenekatan Malik ke Minanjau tidak seperti biasanya.Lalu Malik menyampaikan maksudnya untuk berangkat ke Mekkah.Atas kebaikan hati nenek Andung, Hamka mendapat tambahan biaya untuk berangkat ke Mekkah.

Tujuh bulan Malik mendapat pelayanan yang baik dari Madjid Kurdi (pengusaha percetakan dan penerbitan yang juga ipar dari Syaikh Khatib Al Minangkabawi).Malik dipersilahkan membaca semua buku yang pernah dicetak dan diterbitkan oleh percetakan Madjid Kurdi.Ketekunan Malik dalam membaca setelah selesai bekerja membuat wawasannya makin mumpuni dan kemampuan menulisnya juga makin terasah.

Setelah selesai menunaikan haji Malik, dipanggil Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), namanya makin dikenal karena tulisan-tulisannya.Awalnya dia tidak ingin kembali ke Nusantara, namun setelah bertemu Haji Agus Salim di Mekkah, Hamka sadar betapa pentingnya menyampaikan ilmu yang telah dipelajarinya untuk memberi pencerahan kepada rakyat bangsanya. Hamka kembali ke Nusantara tetapi tidak kembali ke Padang Panjang, ia masih merasa kecewa terhadap perlakuan rakyat Tanah Sirah.

Tebing Tinggi adalah tempat berlabuhnya seusai belajar dan menunaikan haji. Di tempat baru itu ia dihargai dan ditokohkan oleh para pedagang Sumatera Barat yang sedang berdagang atau tinggal di Sumatera utara. Sambil mengajar Hamka makin produktif dalam menulis. Kabar keberadaannya di Tebing Tinggi diketahui oleh keluarga besarnya di ranah Minang, setelah melalui tiga kali surat ancaman hamka baru membalas surat yang ia terima. Dia tetap tidak mau kembali ke Padang Panjang.Setelah dirayu oleh AR Sutan Mansyur Hamka bersedia pulang ke kampung halaman, orang Tebing Tinggi merasa kehilangan tokoh penyuluh / pencerah kegelapan dalam beragama.

Upacara penyambutan Hamka berjalan meriah, ia mendapat gelar kehormatan adat Datuk Indomo. Kiprahnya dalam berdakwah semakin nyata, sampai akhirnya Hamka diangkat sebagai ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Padang panjang.Disamping itu Hamka juga mendirikan sekolah (Tabligh School) yang dikemudian hari berubah menjadikuliyatul Mubalighin untuk mencetak kader Muhammadiyah.

Ketekunan dan kegigihannya dalam memimpin Muhammadiyah di Padang Panjangmembuat Pimpinan Pusat (Hoffbesture) Muhammadiyah memberi amanat untuk membantu berdirinya Pimpinan Cabang Muhammadiyah Makasar.Disamping membantu perjuangan Muhammadiyah di Makasar, Hamka juga dengan gigih mempelajari sejarah Syaik Yusuf Al-Makasari yang membuatnya semakin tekun menulis.Dia juga membina kader-kader Muhammadiyah untuk menuangkan tulisan sehingga lahirlah majalah Al-Mahdi.

Setelah kembali ke Sumatera, Dia diminta untuk membesarkan majalah Pedoman Masyarakat bersama Yunan Nasution dan Haji Asbirin Ya’qub. Disamping memeimpin redaksi majalah Pedoman Masyarakat iajuga mendapat amanah menjadi Pimpinan Wilayah Sumatera Timur di Medan. Selama memimpin majalah Pedoman Masyarakat selain meningkatkan oplah dari 1000 eksemplar menjadi 5.000 eksemplar, dia juga telah menulis beberapa buku Agama Islam misalnya Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi. Adapun roman-roman yang ditulis, Di Bawah Lindungan Kakbah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Di Lembah Kehidupan, dan Merantau Ke Deli.

Ketika Dai Nippon (tentara Jepang) menguasai Nusantara Hamka sangat dekat dengan Letnan Jendral T.Nakashima.kedekatannya semata-mata hannya strategi agar Persyarikatan Muhammadiyah dan majalah Pedoman Masyarakat agar tetap diperbolehkan beroperasi. Setelah melalui dialog berulang kali, persyarikatan Muhammadiyah boleh beroperasi tetapi majalah Pedoman masyarakat tidak boleh beroperasi. Hamka tidak berhenti begitu saja, sampai akhirnya diperbolehkan menerbitkan majalah baru “Seruan Islam”.

Kedekatan Hamka dengan Nakashima ternyata menjadi fitnah bagi Hamka, sehingga ia meletakkan jabatan sebagi ketua Pimpinan Wilayah Sumatera Timur. Kekejian Fitnah beberapa koleganya di persyarikatn Muhammadiyah membuatnya harus kembali ke Sumatera Barat.

Di Sumatera Barat ia mendapat sambutan yang Istimewa, sampai akhirnya dia dipercaya memimpin Kuliyatul mubalighin  juga menjadi ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat. Kiprah di persyarikatan Muhammadiyah mempertemukanya dengan Bung Karno di Bengkulu.Hamka mengagumi Bung Karno selain sebagai pemuda yang gigih memperjuangkan kepentingan rakyat juga pemuda yang memahami ajaran agama.Mereka saling mendoakan, Hamka mendoakan Bung Karno, “semoga kelak menjadi pemimpin bangsa”.Demikian pula Bung Karno mendoakan Hamka, “semoga kelak menjadi suluh penerang bagi bangsa Indonesia.”

Buku karya Haidar Musyafa tersebut sarat dengan pelajaran tetang rasa cinta orang tua yang terkadang menimbulkan salah paham anaknya.Sehingga anaknya sering bersikap yang membuat kecewa orang tua.Namun demikian orang tua tetap menyayangi.Disamping itu bertutur tentang kegigihan dan semangat hamka dalam belajar khususnya membaca dan berdialog.Hamka juga seorang penulis ulung sekaligus organisatoris yang bertanggun jawab dengan menyiapkan kader-kader penerusnya.Hamka mudah bergaul dan pandai melobi penguasa, sekalipun pernah difitnah oleh koleganya Hamka tetap tabah dan terus berjuang dalam persyarikatan Muhammadiyah.

 Ketebalan buku membuat sebagian  bagi calon pembaca gamang untuk menyelesaikan membaca dalam waktu dekat. Namun gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami membuat lega para pembaca untuk menikmati alur cerita. Selamat membaca semoga memberikan manfaat para pembaca.Jangan berhenti hanya pada jilid pertama, karena ada jilid kedua yang juga lebih seru ceritanya.(MJ)

Sumber : http://dikdasmensurabaya.net/hamka/

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − one =