Titik Temu Buku dan Sosok Artidjo

Sudah lumrah kita ketahui bahwa Maiyah bukan sekedar kumpulan pertapa yang enggan menengok pada dunia. Bukan kaum kebatinan yang mengenyahkan dunia badan, atau spiritualis yang mempersetankan jagad materi. Toh batasan-batasan antara yang batin dan yang badan, yang spritual dan materi bahkan dunia dan akhirat oleh manusia-manusia Maiyah selalu dikhalifahi, ditemukan presisi dan tetesan lembut hikmahnya.

Diskusi Sewelasan 11 September 2017

Pun upaya meraih yang spritual tidak selalu bertentangan dengan kerja intelektual. Perpus EAN melakukan kerja intelektual itu dengan mengadakan diskusi rutin Sewelasan tiap bulan. Apalagi kali ini membedah buku berjudul “Sogoklah Aku Kau Kutangkap” sebuah novel biografi Artidjo Alkostar yang ditulis oleh Haydar Musyafa.

Mas Haydar sebagai penulis hadir pada diskusi Sewelasan seri ke 33 di Rumah Maiyah kali ini (11 September 2017) karena membahas Artidjo adalah juga tentu saja membahas dunia penegakan hukum di indonesia, maka juga tampil sebagai pembicara yakni Mas Ilham Yuli Isdyanto yang berpengalaman sebagai lawyer.

Sangat menantang sebetulnya mengangkat buku biografi sebagai tema utama diskusi. Sebab tidak jarang, diskusi mengenai buku biografi selalu berat sebelah antara membahas sosok dalam biografi tersebut dengan membahas buku itu an-sich, diperlukan kepiawaian moderator untuk membawa acara semacam ini menjadi berimbang.

Namun malam itu Mas Dedik Yoga sebagai moderator nampaknya tidak perlu berusaha ekstra keras, sebab rupanya jalaannya diskusi dan juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari peserta memang dengan sendirinya mengarah pada titik tengah antara sosok dan buku itu. Mas Haydar dengan gamblang menjelaskan bagaimana perjuangannya untuk membuat buku tersebut dengan memanfaatkan jaringan di antara sesama alumni UII, alumni Fakultas Hukum terutama. Sebab Artidjo kita tahu adalah juga seorang alumni Fakultas Hukum UII.

Sementara Mas Ilham mengimbangi penjelasan tersebut dengan bercerita soal fenomena di dunia hukum yang digelutinya serta bagaimana sosok Artidjo berhadapan dengan lorong-lorong gelap penegakkan hukum di negri ini.

Sesi tanya-jawab juga tidak pernah sepi. Manakala sesi dibuka, peserta langsung memanfaatkan waktu yang ada untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas. Kemampuan dalam menemukan pertanyaan memang sama pentingnya dengan kemampuan mencari jawaban. Jamaah Maiyah (peserta yang hadir memang kebanyakan Jamaah Maiyah) tampaknya sudah terbiasa dengan pola pikir seperti ini. Di luar sana orang terlalu sering meributkan jawaban dan jawaban, sehingga lupa bagaimana seni bertanya.

Seperti juga telah dibahas diawal, titik temu antara hal-hal yang terlanjur dianggap bersebrangan bahkan berlawanan dapat ditemukan juga dalam sosok Artidjo yang dituangkan dalam buku biografi ini. Misalnya seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai pola pikir seperti apa yang dibangun oleh Artidjo dalam bergelut dengan dunia hukum. Mas Haydar menjelaskan bahwa Artidjo yang dia tahu, sebelum memutus sebuah perkara selalu mendahului dengan dzikir baru kemudian berpikir dengan rasio. Mas Ilham menambahi bahwa Artidjo nampak seperti sosok yang anomali di tengah dunia hukum indonesia, sebab seementara lawyer-lawyer lain selalu mengincar kemenangan demi kemenangan agar tercapai ambisi kariernya. Artidjo malah selalu kalah selama dia menjadi lawyer namun puncak kariernya justru sebagai Hakim Agung.

Bahasan kemudian berkembang sampai kepada sejarah hukum bahkan sedikit menyerempet soal filsafat hukum. Tapi kemudian lantas dibalikkan kembali pada tema-tema yang aplikatif, soal perundangan dan kenyataan-kenyataan di wilayah hukum.

Diskusi Sewelasan 11 September 2017

Mas Haydar juga mengimbangi dengan cerita-cerita mengenai kehidupan Artidjo, kesederhanaan dan kebersahajaannya serta nilai kejujuran yang selalu dia pegang. Juga bagaimana Artidjo sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam keluarga. Kisah mengenai keluarga selalu saya beri perhatian khusus manakala membahas sosok tertentu, sebab keluarga adalah atmosfir awal, ekosistem pertama yang bertanggung jawab melahirkan seorang manusia. Dan ini dikisahkan dengan baik sekali oleh Mas Haydar.

Acara sejenis ini di Rumah Maiyah memang selalu punya nuansa kebersamaan yang cair dan mesra. Diselingi canda tawa, kopi panas, nyamikan dan kepulan asap rokok. Malam itu cukup dingin, bulan setengah penuh dan acara berlangsung sampai hampir menjelang jam 23.00 WIB.

Diskusi Sewelasan edisi bulan depan tentu juga akan sama dinantikan oleh para peserta diskusi. (MZ Fadil)

Sumber : www.caknun.com

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *