Ketangguhan HAMKA sang Eksplorer

Buya Hamka

Judul Buku : HAMKA, Sebuah Novel Biografi

Penulis : Haidar Musyafa

Cetakan : I, Oktober 2016

Penerbit : Imania

Tebal : 464 halaman

Peresensi : Hernawati Kusumaningrum

Karakter Buya HAMKA sangat keras. Urang awak ini lebih memilih mengundurkan diri dari Ketua MUI dibanding harus memberikan ucapan tertentu kepada penganut agama tertentu karena melampaui aqidah. Saya berpikir, ini pasti didikan keras orang tuanya. Ternyata anggapan saya tidak salah.

HAMKA mewarisi darah ulama Abdul Karim bin Amrullah, atau biasa disebut Haji Rasul. Ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria yang merupakan keturunan bangsawan. Sewaktu kecil dia dipanggil Malik. Dia mudah bosan dan sangat tidak suka sekolah. Menurutnya, cara pengajaran yang hanya mengandalkan metode ceramah membuatnya bosan duduk berlama-lama. Apalagi seperti kebanyakan anak di zaman tersebut, Malik harus menghabiskan waktunya bersekolah. Pagi di Diniyah School dan sore di Sumatera Tawalib untuk belajar bahasa Arab dan Al quran. Sumatera Tawalib adalah sekolah yang didirikan oleh sang ayah tetapi Malik tidak berminat sedikit pun bersekolah di sana. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya sang ayah demi melihat anak yang digadang-gadangnya seperti itu. Malik lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku di bibliotek Zainaro, semacam perpustakaan milik Bagindo Sinaro dan Syaikh Zainuddin Labay. Justru kemandirian dalam belajar seperti ini yang membuatnya kaya ilmu.

Tidak jarang sang ayah memaksanya bersekolah tapi Malik selalu punya seribu satu alasan untuk menolak. Hal inilah yang sering memicu konflik keduanya. Akhirnya, Malik dikirim ke Parabek untuk menuntut ilmu pada sahabat ayahnya. Ternyata, di sana pun Malik menemukan hal yang sama, bosan ke sekolah. Karena merasa pengajarannya tidak berbeda dengan di sekolah sebelumnya maka Malik lebih suka melarikan diri. Ia sangat suka mengeksplorasi pasar, menikmati seni pertunjukan, sesekali ikut sabung ayam, belajar silek–seni bela diri, dan menantang preman pasar. Bisa ditebak. Sang Bujang tidak bisa mengembalikan serangan sang preman. Lengan dan kakinya terkena sabetan pisau sang profesional.

Tangguh

Membaca biografi ini seolah-olah Hamka menampar kondisi remaja sekarang yang minim daya juang, sense of enduring-nya parah. Generasi yang lebih memilih condong pada kenyamanan. Berbeda dengan generasi dulu yang harus berpayah-payah untuk meraih kesuksesan. Hidup harus tangguh, pesan moral dari buku ini, seperti halnya ketangguhan Malik.

Ketangguhan Malik dimulai ketika dia harus menerima kenyataan perceraian kedua orang tuanya. Jatuh bangun. Jalan terjal berliku, darah dan air mata menjadi teman. Namun dia mampu bertahan. Bahkan ketika dia memutuskan untuk keluar dari sekolah di Parabek, nasib membawanya menjadi perawat dan joki kuda. Hingga di suatu kesempatan dia mengikuti pacuan kuda. Namun rupanya nasib belum berpihak padanya. Dia kalah. Karena kekalahannya maka dia didepak dari pekerjaannya merawat kuda.

Jiwa eksplorasi Malik sangat istimewa. Remaja tanggung itu minggat dari rumah mewujudkan impiannya ke tanah Jawa. Meskipun impian tersebut kandas karena ia terserang penyakit cacar. Dikisahkan bagaimana dia harus berjuang melawan penyakit tersebut sembari berharap sampai tujuan. Sense of enduring, daya juang yang semakin minim dimiliki remaja sekarang. Hanya soal waktu dan kesungguhan. Akhirnya, sampailah Malik di tanah Jawa. Dengan ridlo sang ayah, Malik merasa lebih ringan melangkah.

Di Jogyakarta ia menunjukkan ketangguhannya dalam mengeksplorasi ilmu. Malik benar-benar bergairah. Bertemu dengan tokoh-tokoh Syarikat Islam dan Muhammadyah yang dulunya hanya ia kenal dari buku-buku koleksi bibliotek Zainaro. Di Bandung, ia bertemu dengan A. Hasan dan Muhammad Natsir yang mengenalkannya pada dunia menulis. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh pergerakan menumbuhkan hobi baru, berpidato.

Ketika akhirnya dia harus kembali ke Padang untuk berdakwah ia memilih jalur berpidato. Sayangnya, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat tidak berpihak padanya. Masa lalunya yang “kelam”, tidak mengantongi ijazah membuat apa yang diomongkan tidak mendapat kepercayaan penuh. Tak terkecuali sang ayah.Maka ia memilih keluar dan mencari takdir lain yang akhirnya menuntunnya pada impian selanjutnya, Mekkah.

Setelah terkatung-katung selama tiga minggu di lautan, sampailah ia di tanah haram. Karena pertolongan Allah jualah dia bertemu dengan seorang pengusaha percetakan kaya, Hamid bin Majid Kurdi yang ternyata kerabat Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama terkenal dari Tanah Minang. Kehausan akan ilmu sangat terobati karena selain bekerja di percetakan ini, Malik bisa membaca kitab-kitab penting karya ulama Timur Tengah. Syaikh Zaki Mubarak, Syaikh Jurji Zaidan, Syaikh Abbas Al-Aqqad, Syaikh Mustafa Al-Manfaluti, dan Syaikh Muhammad Husain Haekal untuk menyebut beberapa. Selain itu, dengan berbekal bahasa Arab Malik meneliti karya-karya para sarjana Perancis, Inggris, dan Jerman. Beberapa di antaranya adalah Albert Camus, William James, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Sigmund Freud, Pierre Lotti, dan Karl Marx.

Dari Mekkah pula dia mengirim tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar harian Pelita Andalas. Di harian inilah Malik bekerja sebagai wartawan kelak sepulang dari Mekkah. Ia menyematkan nama pena HAMKA yang merupakan akronim dari namanya sendiri, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Nama HAMKA semakin terkenal saat ia bergabung dengan majalah Seruan Islam. Tahun 1928 roman perdananya berjudul Si Sabariyahmenjadi salah satu roman terlaris.

Muhammadyah

Selain tangguh dalam menulis, HAMKA juga seorang organisatoris handal. Dia membesarkan organisasi Muhammadyah di tanah kelahirannya. Berjuang di antara paham komunis yang mulai meracuni anak muda Sumatera. Saat itu, persyarikatan Muhammadyah adalah satu-satunya perkumpulan yang membawa ruh pembaharuan Islam di nusantara. Pembaharuan tersebut merupakan buah dari kegigihan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menyampaikan pemikiran-pemikiran Syaikh Jamaluddin Al-Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh kepada murid-muridnya. Khususnya kepada Syaikh Jamil Jambek, Kyai Haji Ahmad Dahlam, dan Kyai Haji Hasyim Asy’ari.

HAMKA mendirikan sekolah Tabligh school yang menerima murid dari Sumatera Tawalieb, sekolah ayahnya. Sekolah tersebut sebagai sarana mengkader pemuda-pemuda Muhammadyah sehingga kelak bisa menjalankan tugasnya sebagai mubaligh Muhammadyah. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah Kemauan Zaman sebagai perpanjangan dakwah. HAMKA didapuk sebagai pimpinan redaksi. Tulisan-tulisan HAMKA semakin meramaikan khazanah pemikiran nusantara. Di antara kesibukannya sebagai pimpinan cabang Muhammadyah, dia malah membuat jadwal khusus untuk menulis. Buku-buku penting lahir dari tangannya. Meski beberapa di antaranya harus ditarik dari peredaran oleh Governer Belanda. Dikhawatirkan pemikiran HAMKA meracuni para pribumi untuk memberontak. Karena dinilai bagus dalam mengembangkan Muhammadyah di Padang maka HAMKA diminta untuk melebarkan sayapnya ke Bugis. Selain memimpin organisasi seperti yang sudah-sudah, tak luput HAMKA memperjuangkan lewat tulisan. Ia menerbitkan majalah Islam Al Mahdi.

Demikianlah HAMKA, sosok eksplorer yang kehidupannya berhasil diabadikan oleh Haidar Musyafa dengan cermat. Sosok yang mengedukasi kita tentang ketangguhan, kemandirian, dan perjuangan lewat tulisan. Akan jauh lebih indah jika novel ini diperkaya lagi dengan ungkapan-ungkapan dalam bahasa urang awak. Sayangnya, hanya minimalis.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *