Hamka Sebagai Sayap Malaikat

Meski Bung Karno pernah memenjarakannya, Hamka tetap memaafkan. Di saat Pramoedya Ananta Toer menuduhnya sebagai seorang plagiat, Hamka tetap berlapang dada. Menganggap tuduhan Pram hanya kesalahpahaman semata. Hamka tetap mendudukkan Pramoedya sebagai sastrawan tanah air yang memiliki prestasi gemilang. Bahkan, saat Muhammad Yamin mendiamkannya bertahun-tahun lamanya hanya karena berseberangan pemikiran soal dasar negara, Hamka sama sekali tidak menyimpan dendam. Ulama kelahiran Maninjau itu justru menemani Muhammad Yamin sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Persepsi kebanyakan orang terhadap Hamka sering salah. Hamka selalu diidentikkan sebagai seorang yang tegas dan kaku. Seorang muslim kolot yang tidak bersedia kompromi dengan golongan yang tak sepemikiran dengannya. Nyatanya, Hamka adalah seorang yang lembut hatinya, santun dan teduh dakwahnya, ulama ‘perangkul’ bukan ‘pemukul’. Prinsip yang selalu ia pegang adalah semakin tinggi ilmu, semakin sedikit menyalahkan liyan. Ia adalah satu di antara sekian banyak ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Pengaruh dan keilmuannya berhasil menyentuh semua golongan, baik religius maupun nasionalis, masyarakat dalam negeri, maupun luar negeri.

“Tirai kehidupan Buya Hamka yang nyaris tidak terbuka adalah kenyataan bahwa beliau adalah pengamal Tarekat Syattariyyah, yang justru dari sisi itulah kelembutan, kesabaran, ketabahan, ketiadaan dendam, pemaaf, dan kecintaan beliau kepada semua orang, termasuk yang menyakitinya itu bersumber.”

(K.H. Agus Sunyoto, penulis buku Megabestseller Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah)

“Buku ini kaya dengan nilai-nilai moral dan religi. Saat membaca buku ini, maka seolah-olah kita sedang mendengarkan Buya Hamka bercerita secara langsung tentang perjalanan hidup dan perjuangannya yang penuh liku-liku, namun syarat dengan pesan dan inspirasi. Melalui buku ini kita juga bisa banyak belajar, tentang makna keikhlasan dan kesabaran sebagaimana yang Buya Hamka lakukan sepanjang hidupnya. Buya Hamka adalah seorang autodidak yang luar biasa.”

(Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., tokoh nasional)

*Diambil dari resensi buku Hamka : Sebuah Novel Biografi

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *