Mentari dari Muria

Akhirnya terbit juga buku penjelasan-bercerita tentang Sugih Tanpo Bondo, lagu yang saya kompos atas dasar lirik dari R.M.P. Sosrokartono, kakak kandung R.A. Kartini:

Sugih tanpo bondo

     Digdoyo tanpo aji
     Trimah mawi pasrah
     Sepi pamrih tebih ajrih

     Langgeng
     Tanpo susah
Tanpo seneng
     Anteng mantheng
     Sugeng jeneng

Selama ini penjelasan tentang lagu yang memasyarakat tersebut – ada banyak versi YouTube, Instagram, dan lain-lain kalangan milenial yang meng-cover lagu tersebut, serta versi saya sendiri yang tak sampai enam bulan telah mendapatkan 1 juta lebih views – biasanya cuma berupa serpih-serpih informasi.

Itu pun berupa informasi kognitif, bukan afektif maupun impresif melalui kehidupan konkrit Sosrokartono yang melahirkan larik-larik tersebut. Kini bolehlah secara gede rasa saya sebut bahwa telah terbit buku yang memang diterbitkan semata-mata untuk menjelaskan makna lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.

Sugih Tanpo Bondo, kaya tanpa harta, sebelum ada buku ini  biasanya saya jelaskan ke penonton sebagai rasa memiliki kesemestaan. Bahwa tiada yang ada selain Tuhan. Segala yang tampak bukan Tuhan hanya seolah-olah saja bukan Tuhan. Termasuk kita. Karena semua milik Tuhan, maka sebenarnya tanah di mana pun kita berpijak adalah milik kita bersama. Begitu juga jabatan siapa pun. Semuanya jabatan kita bersama. Hanya perkara administrasi, secara sertifikat tanah maupun SK jabatan, yang membuat masing-masing itu milik si A, si B, dan lain-lain.

Dengan rasa itulah maka kita tidak akan pernah iri dan dengki. Dengan rasa itulah maka kita turut menjaga harta yang secara administratif milik si Anu. Kita tak akan membuang sampah sembarangan di tanah yang secara sertifikat milik si Anu. Kita tidak akan mengumpat pejabat yang secara SK ditujukan kepada si Anu. Karena semua tak lain adalah tanah kita juga. Semua tak lain adalah jabatan kita juga.

Penjelasan itu biasanya saya sampaikan dalam pentas-pentas saya yang memanggungkan Sugih Tanpo Bondo, pentas yang biasanya menampilkan narasumber lain pula termasuk dari kalangan Islam.

Kiai Ulil Abshar-Abdalla dan Ustad Habib Anis Sholeh Ba’asyin pernah menambahkan di panggung yang berbeda bahwa Sugih Tanpo Bondo di sini tidak harus berarti tak berharta atau miskin. Menurut mereka, sugih tanpo bondo di sini berarti zuhud. Bisa saja kita kaya, tetapi zuhud alias tidak punya kemelekatan terhadap harta-benda. Siap sewaktu-waktu “kehilangan” semuanya karena sesungguhnya kita tak pernah memiliki semua itu. Semua hanyalah titipan.

Lain halnya novel biografi Sosrokartono ini. Novel 337 halaman karya Aguk Irawan M.N. ini menjelaskan dengan perbuatan, dengan laku yang dilakoni sendiri oleh penulis syairnya. Misalnya, bagaimana lelaki kelahiran Mayong ini tidak melekat dengan jabatan dan gaji menggiurkannya di PBB di Jenewa, Swiss.

“Liga Bangsa-Bangsa yang seharusnya menjadi organisasi yang akan menguntungkan bagi semua negara-negara anggotanya, ternyata justru cuma dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menang perang untuk semakin menunjukkan taring-taring kekuasaannya kepada negara lain melalui jalur politik,” alasan kemundurannya dari jabatan bergengsi sebagai juru bahasa di lembaga dunia itu.

***

Digdoyo tanpo aji, sakti tanpa mantra, tanpa jimat, tanpa … Ah, susah saya menjelaskannya di publik. Seingat saya di panggung-panggung pementasan Sugih Tanpo Bondo termasuk di depan ribuan jamaah di halaman IAIN Tulungangung bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kadang di tempat lain saya katakan saja bahwa digdoyo tanpo aji itu kekuasaan tanpa alat kekuasaan.

Sudah pasti penjelasan itu membingungkan bahkan bagi saya sendiri. Bahkan pun bila digdoyo tanpo aji itu saya rangkai dengan larik berikutnya trimah mawi pasrah, sepi pamrih, tebih ajrih. Bahwa kita akan bisa menguasai apa pun tanpa senjata hanya bila menerima apa pun dengan rasa pasrah, tanpa pamrih. Bukan saja menguasai, kita akan tebih ajrih, akan terjauhkan dari rasa takut.

Tapi, ketahuilah, seluruh penjelasan kognitif yang membingungkan itu patah sudah hanya dengan secuplik cerita di buku ini tentang bagaimana Sosrokartono menghadapi gerombolan penyamun di Eropa. Mereka meminta isi tas yang dibawa Sosro. Sosro tidak melawan bahkan ketika mereka mengancam benar-benar akan membunuhnya dengan todongan pisau.

Sosro hanya pasrah memberikan alamat ibunya di Hindia Belanda, seraya meminta satu hal, “Tolong beritakan kepada ibu saya yang sangat saya cintai dan saya junjung tinggi. Bahwa saya, putranya, telah mati terbunuh. Sekarang silakan bunuh saya.”

Bagi mereka yang telah mencapai maqam tertentu cerita tersebut masih bisa ternalar. Termasuk ketika Sosrokartono merambah ke Hungaria. Seorang pangeran bangkrut di sana ingin membalas-budi dengan memberikan jabatan khusus kepada Sosrokartono yang nasihat-nasihatnya telah berhasil mengentaskannya dari kebangkrutan.

Harta benda dan jabatan pangeran itu yang bakal dipasrahkan ke Sosrokartono pun ditolaknya. Ini masih ternalar. Tapi bagaimana dengan Sosrokartono yang juga menolak halus ketika pangeran tersebut ingin menyerahkan kepada Sosro orang yang dicintainya: Istrinya sendiri?

***

Itulah sekelumit kisah dari banyak kisah di buku ini yang bisa menjelaskan via cerita tentang digdoyo tanpo aji, trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih.

Mungkin juga karena trimah mawi pasrah dan sepi pamrih itulah Sosrokartono tak takut kepada “raksasa” intelektual yang memegang hegemoni akademis kala itu, Snouck Hurgronje. Dialah guru besar di Belanda yang keahliannya tentang bangsa-bangsa di Asia dan Islam digunakan oleh Belanda untuk menguasai Asia. Demi martabat Nusantara, bayi yang lahir di Mayong ketika mentari muncul di Gunung Muria menyinari Mayong itu secara terbuka berani melakukan pembangkangan akademis terhadap Snouck.

Tuan Abendanon sampai miris menyaksikannya. Sahabat-pena R.A. Kartini itu memihak Sosrokartono atas jiwa kebangsaannya yang besar. Ia bisa mengerti kenapa di Belanda Sosro menentang habis-habisan Snouck. Tetapi menurutnya, Sosro yang menguasai banyak bahasa asing ini terlalu berani.

Atau jangan-jangan keberanian lelaki kelahiran Rabu Pahing -weton yang baik – itu didorong juga oleh kecintaannya yang luar biasa terhadap adik kandungnya, R.A. Kartini. Dari “Pendekar kaumnya yang harum namanya” itu Sosro mendapat info tentang rencana-rencana penguasaan Nusantara oleh Snouck dan kelompoknya melalui ilmu pengetahuan. Halaman-halaman buku ini juga mengabarkan kepada kita betapa cintanya Sosro ke Kartini. Betapa banyak hari-harinya di Eropa, baik semasa kuliah maupun semasa menjadi wartawan perang, dipakainya untuk merenungi dan mencemasi Kartini nun jauh di Nusantara.

***

Langgeng, tanpo susah, tanpo seneng, anteng mantheng, sugeng jeneng

Langgeng .. Tanpa susah yang berlebih, tanpa senang yang berlebih, damai …

Kiai Budi Harjono ketika sepanggung dengan saya saat pentas Sugih Tanpo Bondo menjelaskan ke khalayak bahwa leluhur kita sering membuat pilihan antara jenang (harta) dan jeneng (nama, martabat). Dalam pilihan antara jenang dan jeneng, leluhur kita sudah tegas dan tandas kepada kita untuk pilihlah jeneng. Dan, di antara topik-topik yang dibahas di buku ini, soal jeneng yang diperjuangkan oleh Sosrokartono adalah topik yang halaman-halamannya paling banyak.

Jangan-jangan jeneng itu pula yang sejatinya menempati halaman-halaman terbanyak di setiap manusia sebagai buku berjalan. Sayangnya selama ini halaman-halaman itu masih diplastiki. Hanya cover-nya yang tertera dalam kolom nama di KTP. Walau cuma jadi nama KTP, belum menjadi nama di martabat, potensi nama sebagai martabat itu sudah memenuhi halaman-halaman di dalam buku berjalan tersebut. Tak heran kalau frekuensinya ketemu dengan frekuensi dalam lirik Sugih Tanpo Bondo.

Lihat, video klip Sugih Tanpo Bondo – Sujiwo Tejo feat Lian Panggabean (Official Music Video) https://youtu.be/RIGn_hxHSWE belum genap enam bulan saya release di halaman Candi Simping Blitar, candi perabuan Raden Wijaya Pendiri Majapahit, sudah mencapai di atas sejuta views pada saat kata pengantar ini saya tulis di penghujung Agustus 2018. Jangan dibandingkan dengan musik pop yang dalam tiga hari bisa mencapai jutaan views. Tapi bila dibandingkan dengan musik-musik non pop, lebih dari sejuta views dalam rentang tak sampai enam bulan itu luar biasa.

Bahkan sebelum klip tersebut saya release, saya pun kaget saat menemani maiyahan Cak Nun di Tuban. Entah berapa puluh ribu orang ketika itu. Alun-alun Tuban dekat makam Sunan Bonang kayak lautan manusia. Ketika didaulat nyanyi oleh Cak Nun, saya spontan membawakan Sugih Tanpo Bondo dengan spontanitas musik Kiai Kanjeng pula. Saya pikir paling hanya puluhan atau ratusan #Jancukers di depan panggung yang akan turut nyanyi. Ternyata hampir separuh alun-alun sudah tahu lagu tersebut, sudah hafal dan turut menyanyikannya.

Hanya adanya frekuensi yang sama, yang bisa membuatnya demikian. Itulah frekuensi dalam lirik lagu Sugih Tanpo Bondo yang ditulis oleh Sosrokartono, dan frekuensi yang masih tersembunyi di balik halaman-halamana tertutup buku berjalan yang bernama manusia. Saya hanya menjembatani pertemuan kedua frekuensi itu melalui melodi dan musik. Dan buku karya Aguk Irawan MN ini akan membuat mereka ngeh, “Kenapa kami menyukai lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.”

Maka saya ucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Sambil saya ucapkan terima kasih kepada Kang Mbok Dr Sri Teddy Rusdy yang atas diskusi kami dengan beliau tentang Ki Ageng Suryomentaram-lah saya jadi pertama kali mendengar nama R.M.P. Sosrokartono alias si Mandor Klungsu dan juga Si Joko Pring. Terima kasih juga kepada juru kunci pesarean R.M.P. Sosrokartono di Kudus yang memperkaya penjelasan buku tentang apa itu makna Mandor Klungsu (biji asam) dan Joko Pring. “Pring itu bambu. Bahasa ngoko. Bahasa halusnya Deling. R.M.P. Sosrokartono itu tokoh yang selalu nganDEL (percaya Tuhan) dan eLING (mengingatNya),” katanya.

Selamat membaca Sosro, selamat membaca tokoh yang sedari bocah sudah aneh-aneh ini, misalnya sudah bisa meramalkan bahwa ayahnya akan pindah dari Mayong ke Jepara, yang ayah-ibu serta keluarga bilang bahwa itu mustahil tetapi beberapa tahun kemudian Ario Sosroningrat ayahnya memang harus pindah ke Jepara, menjadi bupati.

Padepopkan StArt Bandung, Agustus 2018

Sujiwo Tejo

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *