Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw

Judul Buku      : Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw
Penulis             : Prof. Dr. Husain Mu’nis
Penerjemah      : Dr. Muhammad Nursamad Kamba
Cetakan           : Pertama,Maret 2018
Tebal Buku     : X + 414 Halaman

Sirah Nabiwiyah atau sejarah Nabi. Ada banyak buku yang ditulis oleh sejarawan islam tentang sejarah nabi. Namun, terkadang masih banyak yang belum jujur dan gamblang menuliskannya. Entah karena kurang lengkapnya data atau karena sengaja. Buku yang ditulis oleh sejarawan mesir modern, Prof. Dr. Husain Mu’nis yang juga diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Nursamad Kamba ini lain. Berbeda dari penulis klasik yang umum kita kenal. Buku ini adalah hasil dari penelitian panjang penulis selama sepuluh tahun. Terbagi menjadi empat bagian pokok, yang setiap bagiannya memiliki bahasan yang lengkap dan detail. Memudahkan pembaca memahami sirah nabi.

Nabi Muhammad Saw menjalani masa kerasulan selama 23 tahun. Di antaranya 13 tahun berdakwah di Makkah. Namun, selama di Makkah bisa dikatakan kurang berhasil karena banyak tokoh kuat yang menghalangi dakwah Nabi. Salah satunya ialah Abu Jahal. Semasa hidup dan matinya Abu Jahal memiliki keyakinan jika kenabian adalah tipu muslihat Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, begitu pikirnya. Abu Jahal selama ini diterangkan sebagai orang yang bodoh. Ini berlainan dengan fakta sejarah. Bagaimana mungkin orang bodoh menjadi salah tokoh yang diharapkan bahkan didoakan Nabi agar mau masuk Islam. Bukankah Rasul Saw pernah berpengharapan agar Allah memuliakan Islam dengan salah satu dari dua Umar : Umar bin Khattab atau Abdul Hakam Amr bin Hisyam yakni Abu Jahal ( Hal 17).

Buku ini mengkritisi penulis klasik yang senang mendengungkan bahwa Rasulullah Saw berhasil mendirikan Negara Madinah dan Nabi sebagai kepala negaranya. Pada masa Rasulullah Saw tidak ada lembaga negara seperti lembaga eksekutif, legislatif dan sejenisnya (hal.59). Pun soal sejarah istri-istri Nabi, penulis klasik kurang mampu menguraikannya. Tragisnya ada juga yang menuliskan jika kejantanan Nabi setara empat puluh laki-laki.

Menilik kebelakang. Sebelum memasuki masa kenabian dan kerasulan, Muhammad bin Abdullah melakukan uzlah di Gua Hira. Penulis mengkritisi karya Prof. Dr. Muhammad Husain Haikal dalam buku Hayatu Muhammad. Dalam bukunya Haikal menuliskan jika Nabi ketika Malaikat Jibril datang sedang berada dalam keadaan tidur. Juga soal Malaikat Jibril yang menyuruh Nabi untuk membaca lalu dijawab dengan aku tidak bisa membaca. Menurut Prof  Husain Mu’nis yang lebih tepat adalah aku bukan pembaca. Penulis juga memaparkan mengenai peristiwa sebelum terjadinya perang Badar. Rasulullah Saw memulainya dengan berkumpul bersama sejumlah kecil sahabat. Ini bertujuan untuk memupuk tali persaudaraan sehingga lebih akrab. Juga mengenai operasi-operasi militer kecil yang dilakukan sebelum perang Badar.

Mayoritas ahli sejarah klasik mengatakan bahwa Rasulullah Saw pada dasarnya melakukan operasi militer hanya untuk menghadang rombongan dagang Quraish Abu Sufyan Shakhr bin Harb. Namun anggapan ini karena kurang lengkapnya data, atau ceroboh.
Malam sebelum perang dimulai, Rasulullah melakukan musyawarah dengan para sahabatnya. Rasulullah Saw melakukan perjalanan hingga begitu tiba di lereng bukit Badar, beliau memperoleh informasi mengenai keadaan Quraish. Maka, beliau mengajak orang-orang bermusyawarah (hal.195). Dikarenakan pasukan Rasulullah terdapat golongan Anshar. Sedangkan mereka menurut perjanjian Aqabah tidak wajib perang kecuali mempertahankan Madinah.

Buku ini juga membahas mengenai sejarah kesehatan Nabi. Mulai dari Nabi yang diracun orang meski mampu bertahan sekian tahun hingga kewafatan Nabi.
Sebagaimana kita manusia umum, Rasulullah pun mengalami sakit bahkan wafat. Beliau bukan terbuat dari besi. Sakitnya pun parah. Diriwayatkan bahwa Ibunda Basyar ibn Al-Barra datang menjenguk Rasulullah Saw saat beliau sedang sakit keras. Ia mengusap badan beliau yang sedang panas demam, lalu berkata “belum pernah aku melihat seorang pun yang menderita penyakit sekeras ini”(hal.308).

Setelah mengalami sakit yang begitu keras, akhirnya Rasulullah pun wafat. Setelah Rasul wafat, api perpecahan pun terjadi di antara bangsa Arab. Api perpecahan ini disebabkan oleh pihak-pihak yang merasa berhak menjadi pengganti Rasulullah. Pun dengan bangkitnya pergerakan nabi palsu yang mengancam islam. Api perpecahan ini tak kunjung padam hingga sekarang, seperti pertengkaran antara Sunni dan Syiah.

Buku ini menjadi sangat penting karena mengungkap sejarah nabi dengan komprehensif. Hikmah dari membaca buku setebal 415 halaman ini adalah pembaca lebih bisa meneladani kehidupan nabi pada zaman now ini. Sehingga kita tidak mudah mengatasnamakan Nabi Saw, untuk urusan pribadi atau kelompok.

 

Peresensi: Ridwan Nurrochman

Dimuat di Jateng Post, edisi 25 November 2018

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *