MEMBANDINGKAN SUKARNO DENGAN JOKOWI

Saya menerima undangan penulis untuk memberi kata pengantar ini dalam tempo singkat. Bagi saya Eddi Elison bukan saja jurnalis senior berusia 74 tahun yang sudah malang melintang dalam dunia pers cetak dan televisi tetapi seorang pelaku sejarah pada saat yang sangat kritis. Malam tanggal 30 September 1965 ia menggugurkan tuduhan Orde Baru bahwa Sukarno sudah mengetahui apa yang akan terjadi esok dini hari. Pada malam hari itu Bung Karno berpidato di depan Munas Teknik Nasional dengan menyinggung perang antara Pandawa dan Kurawa dan sebagai penutup Presiden Soekarno mengucapkan “Sekian. Kerjakan komandoku !” Itu bukan perintah untuk menculik para jenderal, melainkan perintah kepada rakyat Indonesia untuk melakukan perjuangan pada bidang profesi masing-masing tanpa pamrih. Perintah semacam itu sering disampaikan Bung Karno pada akhir pidatonya.

Sebelum Bung Karno berpidato biasanya pembawa acara mempersiapkan suasana di tempat yang sudah dipenuhi massa itu menjadi bergelora dengan cerita-cerita atau menyanyikan lagu nasional. Karena pembawa acara saat itu kurang cakap, maka ajudan Presiden yang juga Wakil Komandan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan meminta Eddi Elison yang sebetulnya reporter TVRI untuk menggantikannya secara mendadak. Ketika Bung Karno sudah sampai di podium yang pertama disampaikan Eddi Elison kepada beliau adalah pertanyaan tentang ejaan pada spanduk yang tertulis di belakang. Tertulis “karamani, evadi karaste, malesui, kadatyana”. Padahal sebetulnya adalah “karmane, fadikaraste, mapalesyu, kadatyana” yang berarti ”Kerjakan engkau punya kewajiban tanpa menghitung-hitung untung atau rugi”. Itu ajaran Kresna kepada Arjuna. Karena tulisan di spanduk itu keliru, Bung Karno berjanji menjelaskan hal tersebut termasuk cerita perang Pandawa dan Kurawa di akhir pidatonya.

Buku ini mencoba melihat persamaan antara Sukarno dengan Joko Widodo. Dimulai dari tanggal kematian Bung Karno (21 Juni 1970) yang merupakan tanggal kelahiran Jokowi (21 Juni 1961) sampai kepada keduanya yang sama penyayang anak-anak. Sama-sama pencinta seni, Jokowi suka musik, sementara Bung Karno adalah pengagum lukisan dan patung. Barangkali Sukarno adalah Presiden yang memiliki koleksi lukisan terbanyak dibanding Presiden lain di seluruh dunia. Buku ini tak lupa membahas peran sang ibu bagi sang pemimpin.

Berbagai kisah dalam buku ini disampaikan dengan gaya tulisan yang lancar dan enak dibaca. Tentu angka dan data yang dikutip dari sumber seperti wikipedia tidak bisa diterima begitu saja karena setiap orang bebas menulis dan menambahkan sesuatu di situs tersebut. Penulisnya tidak melakukan kritik sumber seperti yang dikerjakan sejarawan. Terlepas dari informasi tentang agresi militer pertama dan kedua yang perlu dikoreksi, buku ini secara brilian telah mengemukakan hal yang penting diketahui publik yaitu persamaan antara kedua pemimpin besar Indonesia. Eddi Elison mengutip Ikrar Nusa Bhakti pada kata pengantar buku Jokowi yang ditulis Jeffrie Geovanie: ”Jokowi memang bukan keturunan biologis Sukarno, tapi ia bisa dikatakan anak ideologis Sukarno yang mencita-citakan bangsa ini berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa Barat dan bangsa Asia yang telah maju lebih dulu.” Ini terlihat pada dua Asian Games yang pernah diselenggarakan di Indonesia tahun 1962 dan 2018. Tahun 1962 Indonesia menjadi juara kedua dan tahun 2018 berada pada posisi keempat, sementara pada tahun-tahun di antaranya menduduki peringkat dengan dua digit. Saya sendiri bertemu dengan Ir. Joko Widodo pertama kali tahun 2012 dalam acara buka dan tarawih bersama di rumah Sidarto Danusubroto, mantan ajudan Presiden Sukarno tahun 1967 yang menjadi politisi senior PDIP. Jokowi terlambat dua jam di acara tersebut karena ia sebelumnya mengadakan pertemuan di tempat lain. Selesai acara pun Jokowi mengatakan bahwa ia mungkin baru pulang tengah malam karena masih ada beberapa rumah lain yang perlu dikunjungi. Ketika itu mantan Walikota Solo itu menjadi calon Gubernur DKI dan ia melakukan kampanye door to door, dari rumah ke rumah. Pada saat itu saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan sepatah kata tentang pencalonan gubernur DKI tersebut. Jokowi ketika itu memohon doa restu agar berhasil. Ia mengatakan harus ke sana-kemari untuk bertemu warga, dengan penampilannya yang sederhana ditopang bobot badan yang ringan (53 kg) dan tinggi kurus 1,75 meter. Ketika itu saya berkomentar tentang angka tersebut dan membandingkan dengan Bung Karno. Berapa tinggi Sukarno? Sejarawan Belanda Harry Poeze sengaja mencari statistik itu pada arsip Belanda. Untuk apa? Untuk dibandingkan dengan Tan Malaka. Poeze menemukan foto rapat akbar di lapangan Ikada Jakarta 19 Desember 1945. Di dalam foto tersebut menurut Poeze ada Sukarno yang berjalan di samping Tan Malaka. Selama ini tidak diketahui bahwa Tan Malaka ikut dalam kegiatan yang sangat penting bagi sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan tersebut. Kehadiran Tan Malaka itu dibuktikan, pertama, dari topi yang sering dipakainya. Kedua dengan mengetahui tinggi kedua tokoh tersebut sehingga foto tersebut memang autentik. Tinggi Tan Malaka 1,65 dan Sukarno 1,72, jadi selisih keduanya 7 cm sebagaimana terlihat secara proporsional pada foto.

Saya katakan kepada Jokowi pada tahun 2012 untuk memberi semangat, “Anda jangan kecil hati dengan berbadan kurus seperti ini, ketahuilah bahwa anda sebetulnya memiliki kelebihan dari Bung Karno. Anda lebih tinggi 3 cm”. Walaupun tidak disebut di sini dengan label demikian, saya kira persamaan yang mendasar pada kedua tokoh terkemuka itu adalah mereka gandrung kepada persatuan. Bung Karno (bersama Bung Hatta dan tokoh lain-lain) berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Namun ini tidak cukup karena sebetulnya saat itu tanah air kita belum merdeka 100% secara teritorial. Irian Barat masih dikuasai Belanda. Melalui perjuangan di dalam dan luar negeri oleh Bung Karno dan segenap bangsa Indonesia akhirnya Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi 1 Mei 1963. Perjuangan bangsa belum selesai. Meskipun secara teritorial kita sudah merdeka 100% namun selama ribuan pulau itu belum tersambung satu sama lain, maka tanah air kita sebetulnya secara fisik belum  bersatu secara utuh. Itulah yang dikerjakan Presiden Jokowi membangun infrastruktur agar intra pulau tersambung seluruhnya dan antarpulau terhubung satu sama lain. Menghubungkan fisik daratan dan pulau itu sebenarnya juga menghubungkan manusia dan masyarakat Indonesia. Gagasan dan kerja Jokowi ini sebetulnya melanjutkan kerja besar Bung Karno dalam mewujudkan Persatuan Indonesia.

Prof. Dr. Asvi Warman AdamProfesor Riset Bidang Sejarah Sosial Politik LIPI. Lulus Doktor Sejarah dari EHESS Paris tahun 1990. Di Pengantar Buku BUNG KARNO & JOKOWI: PEMIMPIN KEMBAR BEDA ZAMAN (Penerbit Imania, Desember 2018)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *