Memanusiakan Pahlawan

Judul Buku      : Sang Penggesek Biola

Jenis                : Novel

Penulis             : Yudhi Herwibowo

Penerbit           : Penerbit Imania

Tahun Terbit    : 2018

Tebal               : vi + 400 halaman

ISBN               : 978-602-7926-41-7

Sehubungan dengan pahlawan, pikiran bawah sadar kita sering mengatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Meskipun kita tahu mereka manusia biasa seperti kita, tetapi nalar kita sering menganggap bahwa pahlawan adalah orang yang hebat, di mana kedudukan mereka, kita rasakan berada di atas kita. Bisa jadi karena saking dianggapnya hebat, menjadikan perasaan kita tidak bisa dekat dengan mereka. Celakanya pada saat kita membaca teks-teks sejarah dari pahlawan tersebut bukan saja tidak bisa memenggal jarak itu tetapi justru menjadikan pikiran dan perasaan kita semakin jauh saja. Bahkan ada pula yang menganggap bahwa mereka, pahlawan-pahlawan itu adalah sosok yang mulia.

Tapi anggapan itu sepertinya dapat berubah seiring kita mengenal, dan membaca teks-teks novel yang berlatar sejarah, atau novel-novel yang mengulas sosok pahlawan. Seperti halnya yang saya rasakan ketika membaca novel Sang Penggesek Biola karya Yudhi Herwibowo ini. Sebelum saya membaca novel ini, saya mempunyai perasaan jauh dengan sosok Wage Rudolf Supratman ini. Bukan karena saya belum mengenal siapa beliau, tetapi dari sumber teks-teks pengenalan atas beliau jauh dari unsur sifat kemanusiannya. Teks-teks sejarah acapkali hanya mendedahkan kisah-kisah heroik yang dianggap penting dari pahlawan yang bersangkutan, tentu saja hal itu ada hubungannya dengan jasanya, termasuk di dalamnya perihal perjalanan perjuangannya bagi bangsa dan negara tercinta.

Dari Sang Penggesek Biola, saya mendapatkan hal-hal yang mungkin sederhana tetapi hal itu sebenarnya penting dalam pemberian roh sosok tersebut, sehingga hal itu bisa menjadi pendukung bahwa sosok Wage Rudolf Supraman benar-benar nyata, sama halnya seperti kita. Dari hal-hal sederhana itulah saya menjadi merasa dekat dengan sosok pahlawan tersebut. Tetapi bukan lantas setiap novel yang bertema pahlawan selalu bisa menjadikan perasaan kita begitu. Tentu saja hal ini tergantung kemahiran penulis untuk mengembangkannya tanpa merusak esensi dari sosok pahlawan tersebut. Dan saya menganggap Yudhi Herwibowo telah berhasil mendekatkan sosok Wage Rudolf Supratman kepada pembacanya.

Menurut saya, berikut ini beberapa hal yang Yudhi lakukan agar kemanusiaan Wage Rudolf Supratman terasa sampai ke pembaca. Yang pertama adalah perasaan sepi yang dia rasakan saat berada dalam persembunyiannya. Agar tak terdeteksi keberadaannya, sampai dia tak berani untuk membunyikan biolanya. Yang dia bisa lakukan hanya membersihkanya dari debu-debu halus yang menempel nakal(hal. 46). Tetapi sebagai manusia yang tekadang tak kuasa menahan keinginan untuk memainkannya, akhirnya dia nekat menggeseknya, memainkan sebuah lagu anak, yang dulu sempat diajarkan  oleh Van Eldik, kakak iparnya (hal. 47).

Kemanusiaan Supratman selanjutnya tentang pengujian persepsi. Sebelum membaca novel ini, dan sesudah membaca, apakah perasaan kita masih sama atau ada bedanya. Ketika saya melihat sosok Supratman melalui foto dan gambar yang beredar selama ini, sosoknya terlihat rapi dan perlente. Di novel ini pun hal itu rupanya juga diungkap. Ternyata Supratman memang suka berpenampilan rapi. Bahkan dari penampilan itu pula pernah diduga bahwa penampilannya yang seperti itu hanya sebuah siasat untuk menutupi kekurangannya dalam bermusik. Ternyata tidak terbukti. Supratman senyatanya mahir bermusik (hal 64). Demikian juga persepsi yang berikut, jika melihat gambar Soepratman yang selama ini, bayangan kita akan mengira bahwa Soepratman bukan perokok, tapi pada kenyataannya dia adalah perokok. Bahkan ada sebuah kejadian pada saat dirinya berada dalam persembunyiannya, ketika mengetahui kiriman rokok untuknya tidak seperti biasanya, Soepratman sempat protes, dan minta diganti dengan merk rokok biasanya: yaitu: Sari Kangen (hal. 31). Perasaan yang muncul saat membaca teks seperti ini menjadikan tokoh terasa begitu dekat.

Kemanusiaan Supratman lainnya terlihat jelas pada saat dia terkagum oleh pemilik wajah jelita yang bernama Mujenah, seorang gadis beraroma roti, hingga pada suatu perjalanan pulang usai bertemu dengannya, dia memakan kue yang dibeli dengan perasaan yang berbeda. Ingin rasanya dia tak menelan roti itu, agar bisa terus mengenang Mujenah di setiap gigitannya (hal 95). Jatuh cintanya Soepratman, tak ubahnya dengan yang kita rasakan pada saat kita sedang jatuh cinta. Ilustrasi kesamaan perasaan itulah inti dari kedekatan. Demikian juga apa yang dirasakan Soepratman, ketika dirinya mendapati kenyataan bahwa cintanya tak sampai pun, kiranya juga sama dengan perasaan kita pada saat mendapati kenyataan seperti itu. Dan pastinya kepiluan hati juga akan kita rasakan jika mendapati peristiwa yang seperti Soepratman alami berikut, mendapat surat dari Mujenah yang terlambat dia terima, yang isinya menerangkan bahwa Mujenah telah sendiri dan mengharap kedatangannya, sementara keadaan Soepratman telah bersama Salamah (hal. 118).

Kemanusiaan Soepratman yang lain terlihat jelas ketika dia yang dalam keadaan sakit ikut pindah ke Makasar bersama Mbakyu Rukiyem, kakaknya.  Di Makasar tentu saja jarang bertemu dengan para sahabat, pun juga dengan orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Kenangannya bersama orang-orang dekat mengemuka semasa dia sakit di Makasar inilah yang menurut saya menguras perasaan (hal. 377 – 384). Seorang yang selama ini kita kenal sebagai pahlawan ada sisi lemah dalam dirinya. Sebuah pesan tersirat bahwa setiap insan mempunyai sisi lemah tersebut. Hal inilah yang membuat sosok pahlawan, yang dalam hal ini Wage Rudolf Soepratman menjadi terasa dekat secara emosional dengan kita (pembaca).

 

Sesungguhnya masih banyak hal-hal sederhana yang didedahkan penulis sehubungan dengan kemanusiaan tokohnya. Tapi dari beberapa contoh uraian di atas sudah bisa menandakan bahwa kemanusiaan Wage Rudolf Soepratman sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan apa yang kita rasakan. Novel ini mampu membuat perasaan setiap pembaca menjadi lebih dekat dengan sosok pahlawannya.***

 

Yuditehatinggal di Karanganyar. Karya novelnya Tjap (Basabasi, 2018). Novel Tiga Langkah Mati (Penerbit Buku Kompas, 2018), dan Novel Imaji Biru (Jejak Publisher, 2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar. FB: Yuditeha,

Dimuat di SOLO POS, 16 Desember 2018

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *