Api Republik dalam Teropong New Historicism

Oleh: Rony K. Pratama

Ditulis sebagai bahan Diskusi Sewelasan berjudul Api Republik: Novel Biografi Hamengkubuwono IX Karya Haidar Musyafa pada 11 Januari 2018 di Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta.

Memoar Sri Sultan Hamengkubuwana IX diuraikan secara kronologis melalui novel. Publik acap menyebut genre ini sebagai novel sejarah karena kedudukan teks yang disampaikan menarasikan tokoh dan berlandaskan peristiwa historis. Dua poin tersebut menjelaskan bagaimana novel menyiratkan unsur faktual dan fiksional. Di samping itu, novel ini dikonstruksi, sebagaimana maksud penulis yang dijelaskan di pendahuluan, berdasarkan data lisan dan tertulis.
Dimensi fakta dan fiksi saling berkelindan dan membangun landasan fundamental novel berjudul Api Republik karya Haidar Musyafa. Kalaupun novel ini disebut rekaan, data empiris yang terinternalisasi di dalam alur, tokoh, dan latar secara implisit menampik: referensi yang digunakan penulis memenuhi syarat historisitas. Karenanya, novel ini mesti didekati melalui pendekatan New Historicism yang mendudukan sastra sebagai dokumen sejarah yang sarat kebenaran faktual. New Historicism dikembangkan profesor bahasa Inggris, University of California, Berkeley, Stephen Greenblatt, pada awal 80-an. Ia berpendapat bahwa sastra merupakan dokumen kultural yang tak terlepas dari situasi sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan.
Tesis ini kemudian membentuk konsep baru yang mendialogkan sastra dan sejarah sebagai dua disiplin yang berpaut erat. Kebenaran faktual dan fiksional, dengan demikian, merupakan komposisi fundamental yang menyelinap di novel ini. Api Republik berusaha memotret seperempat kehidupan HB IX. Novel ini berangkat dari kisah asmara HB VIII dan Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Keduanya memendam kisah cinta yang berujung di altar pelaminan. Cerita di bagian pertama berlanjut hingga Raden Ayu mengandung sembilan bulan. Di perutnya itu kelak akan lahir seorang raja sekaligus negarawan yang dinamai Gusti Raden Mas Dorodjatun. Pembukaan novel serupa pintu masuk sebelum meneroka lebih dalam kehidupan HB IX. Konstruksi novel, karenanya, terdiri atas tiga bagian primer: (a) pendahuluan yang meliputi Dorodjatun muda, (b) isi yang mengulas Dorodjatun ketika berada pada fase remaja berikut gejolak emosi yang menyertainya, (c) penutup yang menandai naiknya Dorodjatun sebagai penerus dinasti Mataram Islam.
Novel ini memang dimaksudkan penulis sebagai dokumen historis. Membaca novel, menurut Haidar, akan mudah menarik atensi sidang pembaca, terutama generasi milenial, sehingga ia akan menemukan fragmen-fragmen keteladanan HB IX secara privat dan menyenangkan. Pertimbangan terakhir tersebut kerap dijadikan alasan primer masyarakat kenapa cenderung gemar membaca novel ketimbang buku “serius” seperti sejarah.
Pandangan negatif terhadap posisi novel di masyarkat kini berangsur membaik. Novel jamak disenangi bukan sekadar kenikmatan estetisnya, melainkan juga menawarkan dunia kemungkinan yang disodorkan jagat teks kepada pembaca. Teks di sini ialah hasil dari rekonstruksi sejarah yang dilakukan penulis sehingga membentuk bangunan narasi. Api Republik adalah bangunan kisah yang ditulis secara kreatif-estetis berdasarkan temuan observasional.
“Meski ditulis atas dasar penelitian, perlu dicatat bahwa buku ini bukan merupakan hasil riset sejarah murni. Artinya, buku ini ditulis dengan menggunakan bahasa yang populer dan disajikan dalam bentuk novel, yang memang memiliki ruang imajinasi sangat luas. Tujuannya, agar sejarah kehidupan, perjuangan, dan pengorbanan Hamengku Buwono IX lebih enak diikuti. Meski begitu, saya tetap berusaha menulis buku ini dengan menggunakan informasi-informasi yang mendekati kebenaran, sehingga hasil tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan” (h. 15).
Penulis Api Republik berada di posisi ambivalen. Pertama, ia menyadari sedang melakukan rekonstruksi sejarah secara total dengan pembatasan periode tahun 1910-1940. Kedua, beban historis untuk mengungkapkan kebenaran faktual rekam jejak HB IX selama hidup mengharuskan penulis berpikir seperti sejarawan konvensional. Keduanya dirasakan penulis novel ini seperti berada di persimpangan fakta dan fiksi. Sekalipun novel ini dimaksudkan sebagai usaha inheren untuk mempertautkan jejaring informasi ke dalam wacana utuh, ia bukan berarti terlepas (netral) dari intervensi imajinatif penulis.
Ilmu sejarah berorientasi pada kebenaran objektif, sedangkan novel cenderung pada kebenaran subjektif. Yang terakhir ini meniscayakan kedaulatan tafsir penulis terhadap objek. Karenanya, novel tak bisa dibebani oleh kebenaran faktual dan objektif sebagaimana teks sejarah. Pandangan demikian berangkat dari perspektif klasik, khususnya dipegang oleh para formalis abad ke-19. Bagaimana memposisikan novel Api Republik di dalam konstelasi novel sejarah?
Pertama, secara pragmatik novel ini dimaksudkan untuk memberikan alternatif bacaan sejarah kepada khalayak agar menenun tokoh bangsa. Proses kreatif penulisan, dengan demikian, mengikuti prosedur penelitian sejarah yang terikat pada metodologi tertentu. Implikasi dari riset itu adalah temuan historis sebagai bahan pokok penulisan novel. Kedua, pengumpulan data dilakukan penulis secara sistematis. Data tersebut kemudian diolah secara kreatif sehingga membentuk bangunan naratif.
Haidar berhasil mengelaborasikan fakta dan fiksi ke dalam novel bertajuk Api Republik. Usahanya itu juga sekaligus menampik pemahaman komunal mengenai kedudukan novel sebagai karya rekaan. Dengan tangan kreatifnya itu ia menyodorkan sejarah alternatif seorang Dorodjatun dari lahir hingga naik takhta. Novel ini mengisahkan keteladanan seorang raja berjiwa republik yang patut dijadikan pustaka wajib bagi mereka yang mengagumi sejarah sebagaimana mencintai kehidupan.
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *