Pentingnya Memahami ke-Maha Asyik-an Tuhan

Oleh: Ashimuddin Musa

Kita harus berdamai dengan siapapun, sebab Nabi Muhammad Saw, panutan seluruh umat, suka berdamai dengan siapapun, termasuk dengan non-muslim. Kedamaian sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Perbedaan tidak lagi menjadi soal untuk berdamai dengan siapapun, karena iman harus membawa rasa aman dan menjadikan seseorang mempunyai dan menjalankan amanat.

Buku “Tuhan Maha Asyik” karya Sujiwo Tejo dan Dr. MN. Kamba penting dibaca oleh masyarakat luas. Keduanya merasa prihatin dengan orang-orang yang mengaku paling beriman namun melupakan misi Islam substantif, yaitu persaudaraan. Persaudaraan dalam Islam  begitu sangat ditekankan. Sehingga Nabi Muhammad Saw menganalogikan persaudaraan ini sebagaimana bangunan yang saling kokoh tiangnya. Apabila salah satu tiang bangunan itu roboh, maka dapat dipastikan rusak pulalah bangunan tersebut. Itulah alasannya mengapa kita harus saling kokoh, saling mengisi, memahami satu sama lain. Mengingat bahwa penduduk Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama, hal itu sangat berpotensi konflik.

Menurut penulis buku ini, perbedaan seharusnya tidak usah menjadi faktor utama yang dapat menghambat persahabatan bangsa. Keragaman warna kulit, asal-usul etnis, ras dan adat seharusnya menjadi peluang bagi kita untuk membangun persahabatan demi mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah SWT (hlm. 170-171).

Ketika umat Islam mengaku beriman namun di dalam hatinya masih menyimpan rasa dendam, iri, hasut, dengki terhadap siapapun, jangan-jangan mereka masih belum memiliki iman. Ciri-ciri orang beriman biasanya suka membangun kebersamaan tanpa memasang sekat-sekat yang dapat memisahkan mereka satu sama lain.

Melalui spirit ke-bhineka-an inilah sesungguhnya menjadi misi agama-agama mengingat iman kepada Tuhan menyiratkan kesatuan sangkan paraning dumadi. Sangat ironis ketika umat Islam membangun sekat-sekat, apalagi dalam komunitas atau kelompok masih terjadi tindakan diskriminasi, intimidasi maupun provokasi rasial terhadap warga yang berbeda keyakinan, ras, suku, bangsa, dan adat (hlm. 170).

Sejatinya, agama memberikan panduan terhadap pemeluknya agar manusia dalam keadaan apapun tetap terkoneksi dengan Tuhannya. Ajaran agama dimaksudkan tidak sekadar menunaikan perintah Tuhan, atau menghindari apa larangan-Nya. Yang lebih penting adalah ajaran-ajaran agama dimaksudkan sebagai panduan untuk menjaga agar koneksitas dengan Tuhan tetap terjalin.

Seseorang yang telah terkoneksi dengan Tuhannya, ia akan mampu menjalankan peran dan fungsinya bagi kehidupan. Semangat kerja dan berkarya adalah buah hasil koneksitas dengan Tuhannya, meskipun yang bersangkutan kerap kali tidak menyadari. Ajaran-ajaran agama awalnya sangat sederhana. Memberikan panduan menuju Tuhan. Menurut penulis, tujuan utama agama adalah menebar kebijaksanaan dan kearifan hidup. Namun, manusialah yang terkadang membuat ajaran agama menjadi kompleks, ketika dalam komunitas agama muncul otoritas agama (hlm. 98-99).

Melalui buku ini, Sujiwo Tejo dan Buya MN Kamba mencoba mengajak pembaca bermain-main untuk memperkenalkan ke-Maha Asyik-an Tuhan. Bagaimana, Tuhan Yang Maha Asyik itu betul-betul dicerna oleh hamba dengan sebaik-baiknya. Karena itu, dengan memahami sifat-sifat Tuhan pada gilirannya manusia pada umumnya dan kita khususnya akan membawa misi luhur untuk kesatuan kehidupan dalam kesetaraan, keadilan dan kedamaian sehingga akan membawa kesejahteraan dan keamanan bagi kehidupan manusia di dunia.

 

*) tulisan ini bisa anda baca di: http://harian.analisadaily.com/mobile/resensi-buku-mimbar-islam/news/pentingnya-memahami-ke-maha-asyik-an-tuhan/787079/2019/08/30

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *