SAUDARA SEPERIBUAN, AYAT YANG TIDAK DIFIRMANKAN

Emha Ainun Nadjib dalam Kata Pengantar Buku Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad Saw., (Pustaka IIMaN, terbit Juli 2019)

Buku, ilmu, pengetahuan dan hikmah seperti inilah yang manusia hari ini dan esok memerlukannya, sesudah Al-Qur`an dan pitutur mutawattir Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kenapa?

Kumpulan manusia yang terlibat dalam perkembangan peradaban modern, dipenjara oleh karangan atau khayal mereka sendiri, misalnya Negara dan lembaga-lembaga formal lain. Konsep Negara diselenggarakan dengan dua sisi mata fungsi. Pertama untuk menciptakan batas keselamatan dari kelompok manusia lain. Kedua sebenarnya diam-diam untuk meneguhkan tercapainya nafsu pemilikan mereka atas kesejahteraan hidupnya, dalam suatu skala teritorial di bumi.

Kumpulan manusia yang menyebut dan merasa dirinya modern ini menyebut saudara-saudaranya yang tidak bergabung dalam ide Negara, yang hidup di hutan rimba, sebagai manusia primitif. Siapa saja manusia lain yang menentang kudeta manusia modern atas pemilikan Tuhan (atas dan) di bumi, disebut makar. Di semua Negara, otoritas dan pemilikan Tuhan diklaim oleh dan sebagai otoritas dan pemilikan manusia. Setiap jengkal tanah dan seluruh bulatan bumi disertifikasi oleh manusia sebagai miliknya. Itulah yang disebut Sekularisme, yang manusia modern memperhalus atau menyamarkan atau mengeufemisasikan pemakaiannya sebagai “pemisahan antara Agama dengan Negara”. Karena makna riilnya adalah “kudeta atas pemilikan Tuhan menjadi milik manusia, kemudian dipersempit lagi menjadi milik Negara, dan kalau warganegara butuh memilikinya maka ia harus membayar kepada Negara “.

Tuhan bukan tidak diakui eksistensi-Nya. Ia bahkan sangat disebut-sebut, tetapi dipalsukan hakikinya dan dijadikan alat untuk melegitimasi otoritasnya dan menghias-hias pembangunannya. Nama Tuhan digoreskan sebagai icon, firman-firman-Nya dihafalkan, tetapi segala sesuatu milik Tuhan di bumi diresmikan melalui Negara sebagai milik manusia. Retorika narasi politik manusia sangat menjunjung Tuhan dalam teks, tetapi kebenarn logis sejarah-Nya dipenggal oleh birokrasi Negara. Dan barangsiapa menampilkan ide bahwa segala sesuatu, termasuk manusia sendiri, adalah milik Tuhan, sehingga (terpeleset) outputnya adalah Negara Agama, maka itulah gagasan yang buruk dan paling dikutuk oleh manusia modern.

Peradaban manusia abad 19-21 dicelakakan oleh khayalannya sendiri tentang Negara dan kejahiliyahannya sendiri tentang Agama. Semua itu bermula dari cara berpikir yang dilandasi dengan konsep Negara, kemudian kelompok manusia lain menjadi terdesak dan terpojok, sehingga bertindak reaksioner dengan cara memahami dan menampilkan Agama secara materiil, pragmatis dan institusional. Agama, juga Islam, diterapkan sebagai identitas materiil, tidak menghormati Rasulullah saw yang sangat jelas pernyataan substansialnya: “Sesungguhnya aku diutus oleh Tuhan untuk mengutamakan kemuliaan akhlak”.

Negara adalah hasil perebutan kekuasaan di antara manusia atas bumi. Tidak ada Negara yang memberlakukan “la haula wa la quwwata illa billah”. Manusia mengkudeta kekuasaan Tuhan dengan kemutlakan kekuasaan Negara. Manusia merebut kekuatan Tuhan dengan kekuatan Pemerintahan dengan memalaikatkan Tentara dan Polisi.

Kaum Muslimin yang tidak sependapat terhadap konsep dan aplikasi Negara, terjebak untuk bertindak dengan juga berpikir Negara, dengan menyusun barisan Polisi dan Tentaranya sendiri. Atau putus asa oleh tradisi kemalasan amaliah Islamnya, juga oleh sangat sempitnya ruang untuk menterjemahkan Islam dalam kehidupan, sehingga yang tersisa adalah “yang penting menghafal Qur`an, siapa tahu diterima oleh Tuhan dan tidak ditagih amalan atau manifestasi peradabannya”.

Ketika ada yang menentangnya, mereka terperangkap untuk menampilkan benteng Agama dengan konsep Negara juga. Tidak ada kalangan Muslimin yang mempelajari dan belajar dari Negeri (bukan Negara) Madinah, di mana Rasulullah tidak menjadi Khalifah, Raja, Presiden atau Perdana Menteri. “Piagam Madinah” tidak pernah menjadi bahan utama diskusi sejarah Kaum Muslimin.

Kelompok-kelompok Muslimin lelah terus-menerus dikuasai dan kalah, sehingga jawabannya adalah ingin berkuasa secara Negara. Otak dan jiwa mereka seperti lumpuh dan jenuh dijejali oleh wacana dan narasi tentang Negara, globalisasi, materialisme, kapitalisme, hedonisme, takut miskin, khawatir tidak kebagian proyek, takut tidak jadi pejabat atau wakil rakyat, takut naik motor dan tak punya mobil, takut makan di warung padahal kehormatan terletak di restoran, dlsb – maka satu demi satu mereka terseret untuk ikut berebut dan berlomba khayalan keduniaan.

Bahkan mereka tidak sempat merenungkan perbedaan antara “masyarakat”, “rakyat”, “kaum”, “ummat” dan karakter jam’iyah lainnya di antara manusia. Semua itu diartikan sama: kumpulan atau gerombolan. Ummat Islam secara filologis, epistemologis dan linguistik, membiarkan dirinya diseret oleh pola pandangan mainstream Negara. Ringan-ringan saja menyebut  “ummat Islam” bersamaan dengan “ummat manusia”. Atau tanpa beban tafakkur menyebut “kaum muslimin” paralel dengan “kaum sarungan”. Satu kata saja malas menyelami, apalagi menjadi khalifah di dunia.

Sampai-sampai saya sendiri pun terkontaminasi untuk menjadi malas menjelaskan kepada siapapun yang memang tidak merasa memerlukan penjelasan. Misalnya tentang “ummat”, “ummun”, “ibu”, “seperibuan”. Atau “Qiyam”, “qoum”, “kaum”, “muqim”. Juga “ra’iyah” dan “rakyat”. “Musyarokah” dan “masyarakat”. Yang sudah mengerti, tak memerlukan penjelasan. Yang tidak mengerti juga tidak pernah mengerti bahwa mereka perlu penjelasan. Manusia di abad ini adalah manusia paling “gebyah uyah” (tidak perlu penerjemahan dan penjelasan juga), paling ngawur, seenaknya dan semaunya sendiri. Manusia zaman ini adalah makhluk yang paling “adigang adigung adiguna” terhadap nilai-nilai.

Kalau entah kapan ternyata kita bisa berdialog dengan para Malaikat, saya akan cenderung menghindar karena malu. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu (manusia) yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Manusia yang menyebut dirinya modern adalah terdakwa utama atas pasal-pasal yang disebut oleh para Malaikat kepada Tuhan di atas. Jangan-jangan pengkaplingan bumi menjadi Negara-Negara itu lahir dari ketidakpercayaan kolektif dan global manusia terhadap manusia. Dan manusia membutuhkan entah berapa milenium untuk merintis kembali hubungan saling percaya di antara mereka. Atau jangan-jangan hal itu takkan pernah tercapai.

Maka sampai hidup hampir 70 tahun coba saya lakukan serpihan-serpihan Negeri Madinah dengan thariqah politik dan kebudayaan yang jangan sampai bisa disentuh oleh Negara. Sederas-deras hujan Negara, ruang-ruang di sela-sela lebatnya hujan, tetap lebih luas dibanding volume titik-titik hujan deras. Semoga Allah memperkenankan aku dan anak cucuku berlindung dan berpayung “La tudrikuhul abshar wa Huwa yudrikul abshar, wa Huwa al-Lathiful Khabir”.

Maka pun saya syukuri terbitnya buku ini, dan tidak pernah hati saya berhenti memohon agar Allah menganugerakan hidayah kepada lebih banyak manusia, agar mengerti buku apa yang sangat mereka butuhkan untuk mereka baca setelah AlQur`an, misalnya buku di tangan Anda ini.

Bahkan semakin sering saya nekad menyebarkan anjuran “temukanlah ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan, atau firman-firman yang tidak diayatkan”. Bukankah “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kehadiran, piwulang, kekuasaan, kasih sayang) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Contoh yang paling utama adalah Negeri Madinah yang disumberi dan diayomi, didorong seperti sungai dan ditarik seperti kereta api, oleh wibawa dan akhlak Rasulullah Muhammad saw. Wahai anak cucuku di hari esok, kalau memang harus kau pakai kata dan istilah Negara, Negeri Madinah itulah Negara Sejati.

Emha Ainun Nadjib

Yogyakarta, 24 Juli 2019

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *