Mempertegas Keutamaan Bulan Muharram

Oleh: Ahmad Wiyono

(Resensi Buku Catatan Untuk Felix Siauw, Dimuat di Koran Kabar Madura, 13 September 2019)

Baru saja umat islam di seluruh belahan dunia merayakan pergantian tahun baru hijriyah 1441, salah satu tradisi keislaman yang biasa dilaksanakan oleh umat islam adalah membaca doa akhir dan awal tahun sebagai ritual penyambutan tahun baru islam tersebut, termasuk beberapa kegiatan ibadahlainnya seperti puasa, berseekah dal lain-lain. Sayang, tak semua orang sependapat akan ritual menyambut pergantian tahun baru hijriyah tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Felix Siauw melalui akun media sosialnya, bahwa tidak ada dalil yang menganjurkan agar manusia membaca doa pada akhir dan awal tahun hijriyah. Pernyataan ini dibantah oleh banyak orang, seperti  yang menjadi salah satu ulasan dalam buku berjudul Catatan Untuk Felix Siauw karangan Muhammad Sulton Fathoni ini.

Penulis menegaskan bahwa pandangan Felix tentang tidak adanya dalil untuk membaca doa awal dan akhir tahun hijriyah merupakan kesimpulan yang dangkal, memaknai hadits dengan tergesa-gesa, bahkan cenderung emosional. Pernyataan Felix tersebut oleh banyak orang juga dimaknai lahir akibat minimnya cara tafsir Felix akan hadits dan dalil-dalil lainnya, sehingga tidak bisa memahami teks dan konteks.

Untuk kesekian kalinya, anda menarik kesimpulan dari nash Hadits tanpa melalui prosedur dan sistematika yang berlaku dalam yurisprudensi Islam. Dari nash (Al-Quran dan hadits) tentang keutamaan bulan Muharram telah melahirkan formula ibadah puasa enggak sesempit yang anda simpulkan. (hlm. 124).

Saya juga perlu berkomentar soal anggapan anda tentang enggak adannya dalil dan keharusan berdoa pada awal dan akhir tahun hijriyah. Semua orang tahu, enggak seorang ulama pun mengharuskan berdoa pada awal tahun dan akhir tahun hijriyah. Ulama hanya menganjurkan agar setiap muslim berdoa agar mengakhiri tahun dan mengawali tahun hijriyah berikutnya. Sufi besar Syekh Abdul Qadil Al-Jailani mengajarkan agar setiap muslim berdoa pada akhir tahun hijriyah atau pada akhir bulan Dzulhijjah. (hlm. 127).

Dengan demikian, penulis hendak mempertegas bahwa pernyataan Felix sangatalah mengkaburkan –dengan tidak mengatakan menyesatkan- terhadap umat, karena anjuran berdoa pada akhir bulan hijriyah jelas-jelas sudah muncul dalam ajaran sufi besar sekelas Syekh Abdul Qadil Al-Jailani, sufi yang hingga kini dikagumi dan ilmunya dijadikan rujukan oleh seluruh umat islam di belahan dunia. Penulis juga hendak mempetegas bahwa berdoa pada akhir dan awal tahun hijriyah adalah perbuatan bagus dan banyak faidahnya.

Selain mengulas tentang bantahan seputar bulan Muharram atas penyataan Felix, buku terbitan Imania ini juga mengulas tema-tema  lain yang sudah dibahas dan disebar felix memelui media sosial, catatan-cataan yang diulas dalam buku setebal 225 halaamn ini secara langsung mampu mematahkan pendapat dan pernyataan Felix yang acapkali kontroversial. Kehadiran buku ini bisa menjadi pencerah bagi kita semua bahwa ajaran islam sangatlah indah dan penuh kedamaian. Selamat membaca.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *