Santri Nasionalis dari Bumi Minang

Tanggal 22 Oktober merupakan Hari Santri. Terkait ini, ada baiknya mengenal santri yang menjadi tokoh. KH Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) adalah santri nasionalis hasil didikan pesantren yang memiliki wawasan ilmu keagamaan luas. Karyanya mencakup tafsir, tasawuf, maupun sejarah Islam. Dia santri Indonesia zaman itu yang dipercaya Kerajaan Arab Saudi sebagai imam Masjidil Haram.

Hamka berdarah Minang, kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Masyarakat Minang memberi gelar “buya” sebagai panggilan khas kiai Minangkabau. Buya dari kata abi atau abuya (bahasa Arab) yang berarti ayahku atau orang dihormati.

Buku ini menyoroti kiprah dan sepak terjang Hamka sebagai santri Muhammadiyah. Dia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan bergabung dengan barisan para pejuang Sumatera Barat. Dia ikut bergerilya dengan para pejuang lainnya, keluar-masuk pelosok pedalaman-pedalaman daerah Sumatera Barat, demi menjaga agar kedaulatan NKRI tidak dirampas atau jatuh ke tangan penjajah (hal 18).

Menurut Hamka, dalam diri santri yang baik akan tumbuh kesadaran untuk menjaga dan merawat tanah airnya. Dia rela berkorban, berbuat demi kemajuan bangsa. Inilah yang selalu ditegaskan, cinta Tanah Air bagian dari wujud keimanan. Keimananlah yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan, membangun pekerti luhur, dan menumbuhkan semangat juang membangun peradaban bangsa. Sebaliknya, tanpa iman hanya akan membuat seorang santri menjadi pribadi pemalas, gemar berbuat zalim, serta berkhianat terhadap bangsa dan negaranya (hal 16–17).

Hamka juga aktif dalam mengikuti berbagai organisasi Islam dan tak takut berjuang mengusir penjajah. Dia juga banyak menyampaikan pemikirannya tentang Islam lewat karya-karya. Inilah wujud kecintaannya terhadap Tanah Air dan bukti keimanan sebagai seorang muslim.

Banyak episode perjalanan hidupnya dalam buku ini yang belum terekspos para penulis sebelumnya, di antaranya riwayat hidup dan pemikirannya yang belum banyak dijamah. Misalnya, informasi bahwa Hamka ternyata berasal dari keluarga broken home dan berpoligami.

Tak ketinggalan, pemikiran Hamka tentang Pancasila juga dihadirkan dalam buku ini. Guna menunjukkan kecintaan pada negeri, Hamka tak segan menanggapi penafsiran Presiden Soekarno tentang Pancasila lewat tulisan Urat Tunggang Pancasila. Tulisan tersebut merupakan pandangan Hamka untuk menafsirkan Pancasila sebagai dasar negara (hal 27).

Buku ini mengingatkan anak-anak agar tahu ada santri yang menjadi tokoh bangsa. Sungguh miris melihat anak muda sekarang yang tidak mengenal figur hebat bangsa. Pemuda sekarang butuh teladan orang-orang terbaik masa lalu. Semoga para santri milenial saat ini tebuka wawasannya dalam meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa.

Penulis: Qorina Ziba Putri, Alumni UIN Walisongo Semarang, dimuat di: http://www.koran-jakarta.com/santri-nasionalis-dari-bumi-minang23102019/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *