Menelusuri Jejak Sejarah Etika Pesantren

Keberadaan pesantren memang selalu memberikan daya tarik yang cukup  memikat untuk dijadikan sebagai objek studi penelitian. Sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional, ruang pesantren seolah-olah menyimpan “harta” yang berlimpah dalam maujud kebudayaan. Harta tersebut tentu saja memberikan kontribusi terhadap sarana dakwah Islam serta pusat persemaian Ilmu keagamaan.

Aguk Irawan MN dalam buku yang berjudul Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara: dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebu Ireng dan Ploso membeberkan seluk beluk menyoal etika pesantren. Mulai dari segi historis, praktik, dan peran serta hubungan sebagai kultur sebuah pesantren. Pelbagai sumber referensi ditelusuri kemudian digali demi sebuah bukti kesejarahan yang otentik.

Pembaca dapat melihat kesungguhan Aguk Irawan dalam proses pergulatan menelusuri akar sejarah etika pesantren.  Referensi berupa naskah kuno dan kitab tarikh menjadi rujukan dasar dan penting. Kehadiran buku ini pada akhirnya melengkapi khasanah ilmu pengetahuan terkait etika pesantren. Pun mengisi kekosongan atas jawaban dari mana proses keberlangsungan etika di pesantren itu lahir.

Seperti yang Aguk Irawan tandaskan dalam buku bahwa etika pesantren tidak lahir begitu saja tanpa melalui perkembangan suatu apapun. Proses inkulturasi menjadi jalan bagi kemunculan etika yang menjadi bagian kecil dari peradaban pesantren. Lantaran peradaban pesantren muncul melewati dialektika panjang antara sesuatu yang baru dari Islam dan sesuatu yang lama dari peradaban hindu-Buddha, maka etika pesantren menjadi lebih kompleks. (hlm. 84)

Secara langsung maupun tidak langsung, perjumpaan dengan aneka kebudayaan pada masa lalu juga memberikan pengaruh kuat pada kehidupan pesantren. Kemampuan sekaligus kelihaian para ulama, kiai, dan wali dalam merajut bingkai Islami melalui proses inkulturasi adalah kata kunci kesuksesan dalam proses mengajarkan Islam kepada masyarakat setempat. (hlm. 130) Pendekatan kebudayaan melalui serangkaian pembudayaan jadi jalan memberikan kemudahan penyebaran Islam di Nusantara.

Persentuhan dengan pelbagai kebudayaan yang sudah mengakar di nusantara membuat kultur pesantren mengandung nilai-nilai etika yang beragam dan universal. Konsep dari etika tersebut menjadi identitas yang khas dari kultur pesantren. Perilaku hasil inkulturasi yang kemudian membentuk dasar etika itu masih dapat disimak pada beberapa pesantren di Indonesia.  Sebut saja pada praktik barokahijazah, mematung atau membungkukkan badan, mencium tangan, slametansowanboyongan, dan sistem ma’had (asrama).

Anggapan ihwal barokah seorang guru, dan ijazah terhadap ilmu atau mantra yang diajarkan sudah menjadi manifes dalam realitas kehidupan masyarakat Nusantara sejak masa lampau. Kepercayaan ini menjadi tradisi yang diwarisan secara turun-temurun. Ditelusuri sesuai aspek kesejarahan, pada masa agama Hindu di Jawa dan Bali mayoritas masyarakat menganut ajaran Saiva-Siddharta. Aliran ini sangat esoteris, seperti yakin akan kemampuan guru kepada murid, hal-hal yang musti dilakukan murid sebelum menerima ilmu, dan pemberian ijazah keilmuan yang telah diperoleh seorang murid. (hlm. 85)

Penghormatan kepada guru terjadi pada sebelum dan seusai menempuh pendidikan. Laku hormat terhadap guru itu mewujud dalam sikap ta’dzim dan tawadhu’. Do’a dan restu dari seorang guru menjadi harapan sekaligus jalan bagi kemudahan dalam mencari ilmu.

Ada pula Sowan kepada Kiai sebelum belajar dan boyongan pasca belajar sejatinya telah membudaya pada tradisi masyarakat Hindu-Budha. Praktik sowan, atau mengahadap seorang yang menguasai ilmu pengetahuan untuk belajar, minta petuah, pendapat, serta pandangan atau hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan telah dilakukan masyarakat sejak berabad-abad silam. Kenyataan akan keberadaan praktik sowan dan boyongan ini terdapat dalam berita Tiongkok peninggalan abad ke VII dan ditemukan di Jawa Tengah, yakni prasasti  Tuk Mas dan prasasti Sojomerto. (hlm. 100)

Perjalanan melalui rentang waktu yang panjang bermuara pada suatu sistem nilai etika dan karakter yang khas. Komposisi santri, Kiai, masjid, kitab kuning, dan asrama menampakkan indigenositas ruang pesantren. Interaksi seorang santri kepada Kiai tentu saja merupakan pernyataan akan sebuah bentuk kepatuahan idealisme, cita-cita, etika dan akhlak serta kebenaran perilaku. Meskipun secara sadar santri memasrahkan diri kepada Kiai dan merelakan diri di bawah pengaruh dan kuasa Kiai. (hlm. 327)

Ikhtiar mempertahankan tradisi adiluhur senantiasa dilakukan dalam lingkungan pesantren. Etika pesantren tradisional (salaf) memiliki akar dan jejak-jejak sejarah panjang mengacu ke peradaban pra-Islam yang dapat ditelusuri. Berawal dari uraian demi uraian dalam buku ini siapa saja bakal mendapat pemahaman bahwa etika pesantren adalah hasil inkulturatif dari kearifan lokal dan syari’at Islam.

Buku hasil konversi dari disertasi Aguk Irawan ini begitu kaya akan informasi. Keberhasilan Aguk Irawan dalam menghadirkan keterangan antropologis memberi penerangan bahwa etika pesantren itu bukanlah suatu sistem yang memaksakan kebudayaan. Buku penting untuk mengenal pesantren lebih dekat.

Penulis: Adib Baroya Al Fahmi

Pernah dimuat di: https://iqra.id/menelurusi-jejak-sejarah-etika-pesantren-220727/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *