Buku ‘Habibie & Soeharto’ ‘Luruskan’ Asumsi Masyarakat

Banyak asumsi dan persepsi masyarakat mengenai hubungan Habibie dengan Soeharto. Penulis buku “Habibie & Soeharto”, Andi Makmur Makka, mengatakan, buku ini menggambarkan interaksi dua bapak bangsa dengan segala kelebihan serta kurangannya dan untuk meluruskan beberapa opini masyarakat terkait hubungan Habibie dengan Soeharto.

“Saya ingin meluruskan beberapa persepsi yang masih keliru dalam masyarakat, walaupun tidak perlu ditanggapi karena tidak masuk akal,” kata Makmur Makka saat peluncuran buku “Habibie & Soeharto”, di The Habibie Center, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/2).

“Dengan adanya buku ini, akan membantah sendiri asumsi-asumsi seperti itu,” ujarnya.

Salah satunya, isu yang mengatakan Habibie meminta untuk menjadi wakil presiden. Makmur Makka menjelaskan, setelah selesai menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, Habibie ingin keluar dari pemerintahan dan kembali ke Jerman karena beliau merasa pengabdiannya sudah cukup.

“Pertama tadi, Pak Habibie itu sudah mau mundur tidak mau lagi ikut dalam kabinet berikutnya. Dia merasa sudah cukup dan ingin beristirahat di Jerman. Semua sudah dihubungi, rumah tangganya, rumahnya diperbaiki, dibersihkan, dia sudah pamit Pak Harto. Tapi tiba-tiba dia dapat surat lagi dipanggil Pak Harto dan ternyata itu usulan pencalonannya sebagai Wakil Presiden,” katanya.

Menurut Makmur, isu yang mengatakan Habibie ingin menjadi wakil presiden itu tidak benar.

Buku ini mengangkat terutama mengenai kenapa Soeharto tidak lagi mau berkomunikasi dengan pak Habibie. Ada empat rumor yang dijelaskan dan terbantahkan dengan data-data. “Tapi kita tidak tahu sebetulnya apa [yang terjadi],” ujarnya.

Untuk menggambarkan kedekatan Habibie dan Soeharto, cover buku tersebut memakai foto yang kemudian diilustrasikan saat Habibie memboceng Soeharto menggunakan motor gede (moge).

“Foto sebetulnya yang diambil oleh Setneg seperti itu, dia cuma divisualisasi dengan lukisan. Jadi pernah satu hari saya enggak tahu kapan, Pak Harto dengan Pak Habibie gantian boncengan moge, tapi di dalam Istana,” katanya.

Makmur menjelaskan, buku ini merupakan produk jurnalistik karena menerapkan prinsip kode etik jurnalistik yang berimbang dan adil.

Peluncuran buku ini juga dihadiri oleh Menteri Agama era Habibie yang juga anggota Dewan Pembina The Habibie Center, Abdul Malik Fadjar dan Parni Hadi.

Reporter: FBA

Sumber :

https://www.gatra.com/detail/news/469550/gaya-hidup/buku-habibie–soeharto-luruskan-asumsi-masyarakat

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *