Buku ‘Habibie & Soeharto’: Membantah Isu Habibie Berniat Jadi Wapres

Andi Makmur Makka, ingin meluruskan sejumlah isu yang dia anggap tak benar selama ini terkait kedekatan antara BJ Habibie dengan Soeharto. Kisah itu diungkap dalam buku ‘Habibie & Soeharto’ yang dilaunchingnya, Senin (17/2).

Dalam buku itu, Andi menulis kisah Habibie yang tak ingin lagi masuk dalam kabinet usai menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia.

Dia menjelaskan, Habibie tak ingin lagi masuk dalam kabinet Soeharto, karena ingin beristirahat di Jerman. Bahkan, ia sempat meminta izin atau berpamitan terlebih dahulu kepada Soeharto sebelum terbang ke Jerman.

“Dengan buku ini akan membantah dengan sendiri. Pertama tadi Pak Habibie itu sudah mau mundur tidak mau lagi ikut dalam kabinet berikutnya, dia merasa cukup dan ingin istirahat di Jerman. Semua sudah dihubungi, asiten rumah tangganya, rumahnya minta diperbaiki, diberisihkan, dia sudah pamit ke Pak Harto,” kata Makka di The Habibie Center, Jakarta Selatan, Senin (17/2).

Ternyata, keinginannya itu tak terpenuhi. Karena, justru ia mendapatkan panggilan oleh Soeharto untuk menjadi orang nomor dua di Indonesia.

“Tapi dia tiba-tiba dapat surat lagi dipanggil Pak Harto dan ternyata itu ternyata usulan pencalonnya sebagai wakil presiden. Dia ingin istirahat di Jerman, tapi diisukan dia ingin jadi Wapres,” ujarnya.

Lalu, terkait soal cover buku ‘Habibie & Soeharto’ yang menaiki motor gede alias moge secara berboncengan. Itu menjelaskan, jika keduanya memang pernah berboncengan dengan cara bergantian.

“Foto sebetulnya yang diambil oleh Setneg seperti itu, dia cuma divisualisasi dengan lukisan. Jadi pernah satu hari saya enggak tahu kapan, Pak Harto dengan Pak Habibie gantian Moge, tapi di dalam Istana,” jelasnya.

Tak hanya itu, foto itu juga menandakan atau menjadi simbol kedekatan antara Habibie dengan Soeharto.

Andi Makmur Makka seorang pria asal Parpare, Sulawesi Selatan. Andi menjelaskan, karya tulisnya itu bukan merupakan karya akademik. Melainkan sebuah karya jurnalistik.

“Ini karya jurnalisik yang tidak sampai dua bulan digarap. Jadi, ini bukan karya akademik,” kata Andi.

Selama dua bulan itu, setiap minggunya ia bisa mendapatkan 22 halaman dalam menulis karya jurnalistik tersebut.

“Kami membuat laporan utama itu dalam satu minggu, satu orang menulis, satu orang menulis, mewawancara, mengedit itu dua halaman koran itu satu minggu. Jadi, kalau satu minggu kira-kira halaman buku ini bisa 22 halaman. Minggu kedua, 22 halaman, Minggu ketiga 22 halaman, keempat akhirnya memang tidak sampai dua bulan ini digarap,” jelasnya.

(mdk/rnd)

Sumber

https://m.merdeka.com/peristiwa/buku-habibie-soeharto-membantah-isu-habibie-berniat-jadi-wapres.html

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *