Karya Buya Hamka Diburu Mahasiswa Luar

Oleh: Ahmad Soleh*

Teringat saat kuliah dulu, dalam beberapa mata kuliah sastra, karya-karya Buya Hamka kerap dijadikan bahan untuk dikaji. Karya-karya ulama dan pujangga bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu disebut sebagai karya yang luar biasa, masterpiece, dan menginspirasi tidak hanya bagi pembaca di Indonesia, tapi juga di level Asia dan mungkin lebih luas lagi. Lebih-lebih, ketokohannya sebagai ulama dan mufasir yang menjadi rujukan umat Islam di Asia ketika bicara soal agama.

Sewaktu kuliah, saya memang tak begitu akrab dengan karya-karya Buya Hamka. Yang pertama kali saya tahu dan saya baca waktu itu adalah novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Itu pun setelah lama difilmkan. Di Bawah Lindungan Ka’bah difilmkan pada 2011 dan dibintangi oleh Laudya Chintia Bella dan Herjunot Ali. Salah satu motivasi saya membaca novelnya, meski sudah menonton versi filmnya, adalah untuk membandingkan. Karena biasanya jika novel difimlkan ada bagian yang hilang atau berubah dari novelnya.

Awalnya, memang berat sekali membaca dan memahami novel Buya Hamka—sampai saat ini pun kadang saya masih merasa demikian. Gaya bahasa sastra bernuansa Melayu begitu kental pada karya-karyanya. Konflik yang ditonjolkan pun lebih pada sebuah penggambaran sekaligus kritik terhadap budaya dan tradisi masyarakat. Bagi yang belum tahu bagaimana budaya dan tradisi sebenarnya akan sukar membayangkan apa yang disajikan Buya Hamka. Misalnya, ketika kita menonton film dari karyanya yang lain, yakni novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Setidaknya itulah perkenalan saya dengan karya Buya Hamka.

Kira-kira pada 2014, saya sempat berburu buku-buku lawas ke lapak buku bekas di sekitar Taman Mini. Waktu itu saya sedang gemar-gemarnya mengoleksi buku-buku bernuansa wacana Islam. Ketika di lapak saya menemukan beberapa buku Buya Hamka yang kemudian saya beli. Yaitu novel Merantau ke Deli dan Dari Hati ke Hati yang berisi catatan Buya Hamka tentang perkembangan dunia Islam di Indonesia pada masa-masa Orde Baru. Keduanya merupakan buku lawas, saya lupa cetakan keberapa. Kedua buku itu pun masih ada di tumpukan rak tempat tinggal saya.

Yang menarik dari perburuan buku lawas itu bukan cuma ketika saya menemukan buku Buya Hamka. Melainkan, ketika saaya mendengar sebuah pernyataan dari sang penjual buku. Penjual buku itu mengatakan bahwa dirinya merasa miris dengan mahasiswa Indonesia. Hal itu lantaran mahasiswa Indonesia justru tidak akrab dan bahkan tidak kenal siapa itu Buya Hamka, baik sebagai pengarang maupun ulama.

Saya pun tersentak. Apalagi, saat itu saya mahasiswa di universitas yang jelas-jelas menyandang nama besar Buya Hamka, yakni UHAMKA. Waktu itu yang saya tahu hanyalah Hamka sebagai tokoh ulama Muhammadiyah dan MUI. Dipikir-pikir memang miris juga kalau saya ini tidak baca barang satu buku dari sekian banyak karya Buya Hamka.

Terlebih, penjaga lapak buku itu juga bercerita bahwa dia pernah didatangi sekelompok mahasiswa dari luar Indonesia. Ya, mahasiswa luar negeri itu datang sengaja ke Indonesia, ke lapak bukunya, untuk mencari buku-buku karangan Buya Hamka. Entah ini bagian dari cara dia memasarkan bukunya kepada saya atau tidak, yang jelas saat itu saya merasa menemukan berlian yang amat berharga dari tumpukan buku yang agak berantakan di lapak buku itu.

Kedua buku yang saya dapatkan itu pun kemudian menjadi koleksi buku Buya Hamka pertama saya. Adapun Buku Hamka yang sebelumnya saya baca di perpustakaan kampus dan meminjam punya teman. Kemudian, dalam perjalanan mengenal Buya Hamka pelan-pelan saya dikenalkan dengan Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Lembaga Hidup, Ghirah, dan lainnya. Yang kini menambah koleksi buku-buku karangan Buya Hamka di rumah.

Buku-buku tersebut sebagian besar masih ada yang terbit, di antaranya melalui penerbit Republika dan ada juga yang diterbitkan penerbit Gema Insani Press. Sehingga kita lebih mudah jika ingin berburu karya-karya Buya Hamka. Selain menelusuri karya-karya Buya Hamka yang memang sangat banyak itu, yang saya pun belum membaca secara tuntas dan belum memiliki semua secara lengkap, banyak juga penulis yang membahas kisah, kehidupan, pemikiran, dan teladan dari sosok Buya Hamka.

Misalnya saja, buku Ayah… yang ditulis Irfan Hamka, anak kandungnya. Selain itu, ada juga karangan Rusydi Hamka, yang juga anak kandungnya, berjudul Martabat dan Pribadi Buya Hamka. Keduanya menghadirkan sosok Hamka dari sudut pandang seorang anak. Beberapa karya lain tentang hamka juga ditulis dalam bentuk novel biografi seperti yang ditulis Akmal Nasery Basral dan Haidar Musyafa.

Akmal Nasery Basral menulis novel Tadarus Cinta Buya Pujangga yang berkisah tentang masa kecil Buya Hamka dan yang terbaru Setangkai Pena di Taman Pujangga. Sementara Haidar Musyafa menulis beberapa jilid tentang Buya Hamka, di antaranya Buya Hamka; Novel Biografi, Hamka; Novel Biografi, Jalan Cinta Buya, dan Memahami Hamka; The Untold Stories.

Oh iya, satu lagi. Pada 2018 saya sempat mengisi diskusi kawan-kawan IMM Jaktim. Seusai diskusi itu saya dihadiahi sebuah buku karangan James Rush tentang biografi Buya Hamka. Buku tersebut judul aslinya adalah Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (2016), yang dalam versi terjemahannya berjudul Adicerira Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern (2017). Terkait isi pembahasannya, akan saya sajikan di tulisan berikutnya.

***

Beberapa tulisan saya di website ini pun sengaja menghadirkan percik-percik pemikiran Buya Hamka. Tak lain adalah sebagai pengingat bagi diri saya sendiri agar bisa memahami dan mengenal Buya Hamka lebih dalam, sebab saya masih merasa apa yang saya ungkapkan soal Buya Hamka ini masih berada pada lapisan kulit saja. Selain itu, tentu saja agar bisa dibaca oleh siapa pun yang mampir di website ini.

 *Pengasuh Website Madrasah Digital

Sumber :https://madrasahdigital.co/1979/wacana/admin/karya-buya-hamka-diburu-mahasiswa-luar/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *