Pertemuan “Dua Fajar” Barat dan Timur

Oleh: Muhammad Sapi’i

Sukarno dan John F. Kennedy adalah sepasang cahaya di tengah muramnya dunia karena tingginya tensi Perang Dingin. Sukarno menyinari dari Timur, Kennedy menyambutnya di Barat. Keduanya membangun hubungan sebagai sahabat, untuk kemudian bergandengan tangan mewujudkan sebuah mimpi perdamaian dunia tanpa eksploitasi dan imperialisme. Di masa kejayaan keduanya, perseteruan antara Blok Barat dan Timur berusaha diakhiri. Di masa kedekatan keduanya, masalah Irian Barat dapat terselesaikan tanpa perang dan pertumpahan darah.

Wajah muka bumi seolah mulai dipoles menuju “perdamaian abadi” kala keduanya bersinergi. Namun, tragedi Dallas yang berujung kematian Kennedy sontak membuyarkan segalanya. Barat dan Timur kembali bersitegang, dan Sukarno lengser dari kekuasannya sebagai tawanan politik di rumahnya sendiri. Perdamaian abadi seolah tinggal mimpi.

Kisah 1000 hari persahabatn Sukarno dan Kennedy dapat memberi kita sebuah pelajaran penting: bahwa hubungan anatarnegara dapat kokoh berdiri jika difondasi oleh persahabatan para pemimpinnya yang tulus dan jujur. Buku ini menelisik begitu istimewa dan menariknya hubungan personal kedua tokoh yang belum banyak tersiar.

Secara ideologi, Sukarno dan kennedy sama-sama menentang kolonialisme, diskriminasi rasial, peperangan, dan perlombaan senjata nuklir. Mereka sangat merindukan terwujudnya perdamaian dunia bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Persamaan-persamaan inilah yang membuat keduanya saling mengagumi, mempercayai, dan bergandengan tangan untuk menyelesaikan berbagai masalah ketidakadilan dunia yang terjadi pada masanya.

Kennedy selalu di hati Sukarno yang paling dalam, begitu pula bagi rakyat Indonesia. Pada masa pemerintahan Kennedy yang singkat itu, hubungan bilateral Indonesia-AS terjalin begitu mesra. Pada masa tersebut masalah Irian Barat dapat diselesaikan secara damai dan bermartabat yang sebelumnya terkatung-katung selama hampir dua belas tahun. Pada era Kennedy juga krisis hubungan bilateral Indonesia-AS berangsur-angsur reda, termasuk dibebaskannya seorang tawanan, Allen Pope, anggota CIA yang tertawan setelah membantu pemberontakan Permesta pada 1958. Masih pada era pemerintahan Kennedy, masalah atau konfrontasi Malaysia hampir saja terselesaikan secara damai atas peran dan mediasinya (hlm 21).

Kennedy juga menginstruksikan agar seluruh jajaran pemerintahannya proaktif membantu Indonesia. Keputusan ini sebagai upaya jangka panjang pemerintahan Amerika untuk mengurangi pengaruh komunis, sampai benar-benar bisa pergi dari Indonesia.

Sebagai ungkapan terima kasih, Sukarno mulai bersikap akomodatif dan terbuka dengan inisiatif-inisiatif yang ditawarkan Kenndedy, antara lain pengiriman misis Peace Corps ke Indonesia. Sukarno juga bersedia bekerja sama dengan AS untuk terlibat langsung dalam progran pemulihan ekonomi nasional (hlm 211).

Sangat menarik mengulas sisi personal atau humanisme antara Kennedy dan Sukarno yang kerap lolos dari bingkai sejarah. Sebagai seorang pemimpin, politisi, dan kepala negara. Sukrno dan Kennedy berhasrat menjalin pertemanan dan persahabatan khusus, lebih dari sekadar hubungan biasa sebagai pemimpin negara dua negara besar yang hendak membentuk tatanan dunia baru yang lebih aman, damai, dan adil tanpa peperangan (hlm 261).

“Buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia ini menganalisa hubungan diplomatik antara Presiden Sukarno dan Presiden John F. Kennedy. Buku ini menyajikan hubungan erat antara Sukarno dan Kennedy yang menyebabkan kunjungan antar pemimpin saat memuncaknya Perang Dingin pada tahun 1960an. Hubungan kedua tokoh menjadi dasar meningkatnya dukungan pemerintah AS di ers transisi setelah era kolonial dan munculnya Indonesia sebagai kekuatan regional di era Suharto. Penulis buku ini adalah lulusan Program Pasca Sarjana Kajian Amerika Universitas Gadjah Mada yang disponsori oleh pemerintah AS, yang juga sebagai seorang diplomat yang mengagumkan. Penelitian impresif yang dilakukan penulis dapat dilihat dari berbagai sumber bibliografi terbaru dan multi-lingual, serta analisis sejarah yang dihasilkan dari berbagai pengalaman-pengalaman penulis dalam hubungan diplomatik internasioanl.”

~Dr. Kenneth R. Hall, Profesor Sejarah Ball State University, Amerika Serikat, pernah menjadi Fulbright Profesor di Kajian Amerika, Universitas Gadjah Mada, saat ini sebagai Fulbright Senior Scholar di Pune University, India

Pernah dimuat di: Harian Singgalang edisi Minggu, 1 Maret 2020

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *