Pak AR dalam Teropong Milenial

Oleh Nasihin Masha

Haidar Musyafa, nama yang sudah lama bikin penasaran. Anak muda ini sangat produktif menulis buku. Hingga kini sudah ada 20 buku yang ia tulis. Ia menulis buku-buku tentang bagaimana menjalani hidup secara optimis, bervisi, serta berbasis agama. Namun kemudian ia lebih moncer menulis biografi tokoh-tokoh. Yang menarik, buku biografinya umumnya ditulis dalam bentuk novel. Walaupun ada juga yang dalam bentuk nonfiksi. Ia lebih suka menulis biografi orang yang sudah meninggal dan ia sukai. Nah, ini yang terpenting: buku-buku biografinya laris manis. Di antaranya ia menulis tentang Ki Hadjar Dewantara, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Haji Agus Salim, dan yang teranyar adalah Pak AR Fachruddin.

Beruntung saya kemudian dikenalkan Bang Lukman Hakiem, senior saya seorang penulis dan peminat sejarah. Haidar ini anak muda, kelahiran 1986. Dalam pembabakan generasi terkini, ia termasuk Gen-Y, yaitu generasi milenial (kelahiran 1981-1994). Warna milenial itu begitu kental dalam buku-buku biografinya. Hal ini kemudian didukung oleh sampul yang ngepop, berwarna kuat, namun tetap dalam keanggunan. Hal ini selain faktor ketokohan orang-orang yang ia tulis, juga karena faktor Yogya yang melekat pada seorang Haidar.

Ya, Haidar seorang milenial yang membumi. Dalam profil dirinya di buku yang ia tulis, ia mengenakan blangkon dan beskap. Dengan posisi tangan ngapu rancang (menyilangkan tangan di depan dan lurus ke bawah), khas kesantunan Jawa. Wajah imut dan mudanya seakan menjadi kontras, yang justru menguatkan tampilan milenialnya. Haidar memang jawa bener: santun, rendah hati, bersikap. Di balik kelembutannya ada kekokohan akar yang tak mudah diterpa angin.

Yogyakarta yang menjadi tempat kelahiran dan asal-usul orangtua serta tempat tumbuh besar dan tinggal dirinya benar-benar optimal pada diri Haidar. Dalam buku Pak AR & Jejak-jejak Bijaknya, yang terbit April 2020 ini, misalnya, ia membuat 668 catatan kaki. Wow! Ini memperlihatkan keseriusan seorang Haidar dalam menulis. Catatan kaki itu sebagai keterangan wawancara yang ia lakukan maupun mengungkap rujukan yang ia petik. Yogyakrata adalah kota pelajar, tempat kampus dan sekolah-sekolah bertebaran. Kota bagi anak seluruh pelosok negeri Indonesia menuju untuk mengolah pikir. Karena itu, tradisi literasi di kota ini begitu kuat mengakar. Toko-toko buku, bursa buku, penerbit-penerbit buku, percetakan-percetakan buku, cerdik pandai, dan beragam tradisinya begitu mudah ditemui.

Saya sengaja mengulas cukup panjang tentang sosok Haidar dan sekaligus menyemburkan kekaguman saya untuk pilihan hidupnya menjadi penulis buku. Hal ini penting sebelum saya masuk untuk mengulas buku teranyarnya yang nekad diterbitkan di era pandemi Covid-19. Ini menunjukkan optimisme penerbitnya bahwa nama Haidar menjadi jaminan bahwa buku ini tetap diminati pembaca. Padahal wabah virus corona ini telah membuat banyak penerbit menunda menerbitkan buku karena daya beli sedang menurun dan daya minat baca juga sedang susut. Selain faktor Haidar, tentu mereka berharap nama Pak AR bisa ikut mendongkrak penjualan buku ini. Ya, siapa yang tak kenal dengan Pak AR? Dialah ketua PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990).

Sebelum buku ini terbit, di era sosmed ini, sudah biasa penulis atau penerbit meminta pendapat pada publik tentang pilihan sampulnya. Namun ternyata, sebelum bukunya terbit, desain sampulnya sudah dicomot dulu oleh online untuk menjadi ilustrasi sebuah tulisan. Tentu itu tidak etis. Dalam teori marketing itu juga bisa berdampak, misalnya sampul itu jadi melekat pada tulisan itu atau jika tulisan itu bernada negatif maka akan memiliki dampak negatif juga pada sampul itu. Namun di sisi lain, desain sampul itu menunjukkan diterima oleh publik. Ya, sampulnya memang menarik: Pak AR sedang berkendara motor bebeknya yang biasa ia gunakan untuk berdakwah. Berkain sarung, berpici, dan tubuh besarnya yang nangkring di motor kecil itu menjadi begitu mudah melekat dalam benak publik. Sampul ini benar-benar mewakili sosol Pak AR yang sahaja dan adem. Kaca mata tebal dan wajahnya yang lembut serta teduh membuat orang yang melihatnya ada rasa kharisma dan kehangatan sekaligus.

Buku setebal 460 halaman ini dibagi dalam 54 fragmen. Saya lebih suka menyebutnya fragmen, bukan bab. Karena buku ini ditulis tidak dalam kategorisasi tema, tapi fragmen cerita atau kisah. Mirip pembabakan dalam sebuah novel. Ya, karena Haidar terlatih menulis novel biografi. Pembabakan tulisan dalam bentuk fragmen kisah ini, juga membuat pembaca bisa bebas memilih mau membaca bagian mana. Bisa mulai dari tengah, dari belakang, atau secara kronologis dari awal hingga akhir. Atau bahkan dipilih secara serabutan sesuai mood saat membacanya. Selain itu, Haidar menulisnya dengan gaya ringan dan bertutur. Kita tak perlu mengerutkan dahi saat membacanya. Namun jangan dikira tak berisi, justru di sana-sini kita bisa menemukan pemikiran, pandangan, bahkan petikan-petikan kalimat yang bisa kita kutip. Inilah gaya menulis milenial: bebas, ringan, berisi.

Pak AR, demikian orang memanggilnya. AR adalah singkatan Abdur Rozak. Sedangkan Fachruddin adalah nama ayahnya. Ia asli orang Yogyakarta. Lahir pada 1916 dan wafat pada 1995. Ia mempersonifikasikan dirinya sebagai orang desa, di Kulonprogo. Ia hanya berpendidikan Sekolah Rakyat Muhammadiyah, lalu melanjutkan ke Mu’allimin Muhammadiyah. Tapi di sini ia hanya dua tahun. Orangtuanya tak cukup uang untuk melanjutkan pendidikan AR kecil. Selanjutnya ia mengaji kitab di kampungnya, sambil aktif di Muhammadiyah. Selanjutnya ia tumbuh menjadi muballigh dan da’i serta guru. Jalan hidupnya sebagai pendakwah dan pendidik dimulai dengan penugasannya di Palembang pada 1935, tiga tahun kemudian pindah ke Sekayu, Musi Ilir, selanjutnya pada 1941 dipindah ke Sungai Batang, pada 1942 balik lagi ke Palembang. Akhirnya, setelah sekitar sembilan tahun di Sumatra, pada 1944, AR muda kembali ke kampungnya di Bleberan, tetap menjadi guru dan pendakwah. Di masa agresi Belanda, Pak AR ikut memanggul senjata. Setelah itu ia istiqomah di jalur pendidikan dan dakwah.

Dengan riwayat hidupnya yang seperti itu, Haidar dengan tepat mengawali bukunya dengan fragmen Pak AR sebagai pendakwah di bawah judul Berislam dengan Gembira. Di sini kita akan menemukan perumpamaan-perumpamaan Pak AR dalam seni dakwah. Dalam menghadapi karakter orang, ia umpamakan seperti menulis. “Jika menulis di atas kertas, maka dia harus menggunakan pulpen dan tinta.  Tetapi jika hendak menulis di papan kayu atau tembok, tidak tepat jika menggunakan pulpen dan tinta, karena lebih pas menggunakan kuas dan cat,” seperti ditulis Haidar di halaman 26-27.

Pak AR juga mengumpamakan pemahaman dan keberislaman masyarakat dengan filosofi buah kelapa. Bermula dengan manggar (bunga kelapa), lalu bluluk (kelapa yang masih pentil), terus cengkir (kelapa yang masih berisi air), selanjutnya degan (kelapa dengan daging yang masih lembut), dan akhirnya kelapa (buah kelapa yang sudah tua). Dengan tahapan buah kelapa ini, Pak AR sedang menggambarkan tahapan dan perkembangan masyarakat dalam memahami dan menghayati Islam. Para da’i, muballigh, ulama, dan guru harus memahami filosofi itu agar tidak menyamaratakan.

Dengan cara itu, Pak AR, seperti ditulis Haidar, mengelompokkan objek dakwah dengan menyarikan kearifan lokal sebagaimana dilakukan ulama-ulama terdahulu. Pengalaman panjang sebagai pendakwah lapangan, membuat Pak AR panjang akal. Sebagai juru dakwah gerakan purifikasi tentu butuh kesabaran dan penghayatan yang kuat dalam menghadapi tantangan di lapangan agar tetap sejuk. Salah satunya adalah ketika Pak AR menyelesaikan permohonan menshalati jenazah dari warga Tionghoa yang tak beragama Islam. Akhirnya, umat Islam terselamatkan dari batasan fikih yang mengharamkan shalat jenazah bagi nonmuslim, pada sisi lain, keluarga mayit juga merasa terlayani oleh Islam.

Sebagai pendakwah, tentu harus punya jurus melucu. Ini semata-mata agar jamaah yang hadir tidak bosan. Pak AR dikenal dengan kepiawaiannya dalam membuat kelucuan. Namun ternyata, selera humornya juga ia perlihatkan saat ikut ujian SIM (Surat Izin Mengemudi) pada 1956. Ia ikut ujian tulis, selanjutnya tes ujian praktik. Ia mengendara sepeda motornya, dan polisi yang menguji duduk di belakang. Saat berkendara di jalan raya, semua bisa dilakukan dengan mudah. Namun ketika diminta polisi penguji untuk masuk ke gang sempit, Pak AR yang bertubuh besar itu memilih turun. Ia menuntun sepeda motornya. Ia sadar bahwa tubuh besarnya akan sulit menjaga keseimbangan di jalan sempit. Hal ini ditegur polisi penguji, Pak AR menjawab: “Lha tujuan saya ikut ujian SIM untuk mencari selamat di jalan je, Pak. Makanya itu, kalau saya ketemu jalan yang sulit dan licin seperti ini, saya lebih baik turun dan menuntun motor saya, daripada jatuh dan membahayakan diri sendiri.” Ia pun lulus dan berhasil meraih SIM.

Masih banyak hal yang diulas, seperti soal asas tunggal, aliran kebatinan, poligami, cinta Tanah Air, menolak menjadi anggota DPR, MPR, maupun menteri. Di buku ini kita juga akan banyak menemui kisah kesederhanaan hidup Pak AR dan pergaulannya dengan yang berbeda paham dan berbeda agama, dengan tetap teguh pada prinsip yang diyakininya. Prinsip yg selalu dipegangnya adalah: semakin tinggi ilmu, semakin sedikit menyalahkan orang lain.

Buku ini layak berada di rak buku siapapun, yang pas menjadi cermin wajah Islam dan umat Islam. Dalam buku ini, Haidar bisa menyajikan sosok Pak AR untuk pembaca milenial yang peduli pada local wisdom. Apalagi buku ini dilengkapi dengan komik. Selamat membaca.

 

Sumber: https://republika.co.id/berita/qc0pq7385/legenda-muhammadiyah-ar-fachruddin-dalam-teropong-milenial-part1

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *