Roh Islam dalam Budaya Jawa

Membaca buku ini cukup menyenangkan. Kita seperti dituntun untuk bersama penulis “menapaki jalan” yang walaupun sudah pernah kita lalui, membaca atau mendengar beberapa informasi dari sumber lain. Terasa berbeda.

Judul Buku: Orang Jawa Mencari Gusti Allah Cipta-Rahsa-Karsa

Penulis: B Wiwoho

Penerbit: Pustaka IIMAN

Cetakan: I, November 2020

Tebal: 404 halaman

ISBN: 978-602-8648-34-9

Buku yang diberi komentar sejumlah tokoh ini berupaya menggambarkan bagaimana agama Islam masuk ke Indonesia, khususnya Jawa. Sebagian isi buku ini berasal dari buku B Wiwoho terdahulu, Pengembaraan Orang Jawa di Lorong Kehidupan (2009). Ditambahkan, meskipun banyak cerita dari keadaan masa lalu masyarakat Jawa, buku ini bukanlah buku sejarah dalam arti karya ilmiah, melainkan kumpulan catatan pemikiran dari kehidupan spiritual penulis, yang dituliskan seperti apa adanya.

Islam Abangan

Sejak lama, dalam masyarakat Jawa dikenal istilah ”Islam Abangan” dan  ”Islam Putihan”. Mereka yang dapat terbuka menerima ajaran-ajaran Islam yang dikemas dengan adat istiadat atau kebudayaan Jawa disebut kelompok “Islam Abangan”.

Adapun mereka yang berpegang pada pandangan bahwa ajaran-ajaran Islam harus disyiarkan sebagaimana “aslinya” disebut kelompok “Islam Putihan”. Segala adat istiadat yang tidak sesuai dengan “ajaran asli”, menurut mereka, harus langsung dibuang agar di kemudian hari tidak timbul salah paham yang membingungkan. Islam harus diajarkan secara murni dan bersih dari segala tata nilai budaya lokal atau adat istiadat yang mengotorinya, bagaikan kain putih yang harus bersih dari segala kotoran (hlm 35-36).

Tetapi pendapat itu dipatahkan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga yang khawatir dakwah akan gagal apabila memaksakan kehendak tanpa memahami kondisi sasaran dakwahnya. Penjelasan ini akhirnya bisa diterima oleh para wali golongan Islam Putihan yang pada akhirnya ikut memberikan sumbangan berarti dalam pengembangan kebudayan Jawa yang bernapaskan Islam.

Lalu lahirlah tembang-tembang ”Dhandhanggulo” (Sunan Kalijaga), ”Asmaradana” dan ”Pucung” (Sunan Giri), ”Durno” (Sunan Bonang), ”Maskumambang” dan ”Wijil” (Sunan Kudus), ”Sinom” dan ”Kinanti” (Sunan Muria), sedangkan ”Pangkur” diciptakan oleh Sunan Drajat.

Penulis yang mengaku sebagai ”anak Jawa abangan” masih ingat di masa kecilnya, dalam pandangannya, Islam identik dengan jorok, kawin-cerai, tidak ramah, tidak kasih terhadap anak kecil, tidak memiliki jati diri bangsa dan cenderung menyelesaikan masalah dengan pedang dan darah (hlm 58).

Ia tidak hanya mengikuti pendapat yang ada, tetapi menyaksikan sendiri saat bermain di beberapa pesantren di tahun 1950-an dan menemui sebuah pesantren yang terbuat dari bambu, sangat sederhana dan kumuh. Dengan bau kotoran yang menyengat karena fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus) yang seadanya dan kolam wudu yang keruh.

Bahkan empat dasawarsa kemudian (di tahun 1992), ia pernah mengurungkan dan menunda shalat Maghrib karena kolam wudunya adalah empang, dalam perjalanan menuju Sukabumi.

“Saya sujud syukur tanpa berwudhu, kemudian duduk tafakur, merenungkan keadaan”.

Penulis menggambarkan kegalauannya dengan indah. ”Di rumah Gusti Allah yang sangat sederhana, gelap lagi pengap itu, saya bersimpuh. Berbeda dengan masa kanak-kanak, kini saya terhempas sedih menyaksikan kebodohan, keterbelakangan, dan kemelaratan saudara-saudara seiman. Saya sujud syukur tanpa berwudu, kemudian duduk tafakur, merenungkan keadaan. Shalat magrib saya jamak di rumah dengan shalat isya. Saya bersyukur telah dikaruniai iman Islam. Bersyukur dikaruniai kepedulian dengan keterharuan, dan rasa sedih sekaligus terhadap keterbelakangan saudara-saudara seiman” (hlm 59).

Pengaruh dongeng ibu

Penulis memiliki ibu yang selain suka mendongeng kepada anak-anaknya sebelum tidur juga senang mengidungkan tembang-tembang yang sarat makna. Tembang ”Cublak-cublak Suweng”, ”Sluku-Sluku Bathok”, dan ”Jamuran” yang menggambarkan suasana bermain yang penuh canda serta dongeng-dongeng yang menggambarkan kepahlawanan sudah didengar sejak kecil, seperti  kisah Angling Dharma, Damarwulan, Wong Agung Menak, juga kisah kerajaan Singasari sampai Majapahit.

Ia merasakan betul kekuatan dongeng yang menanamkan nilai-nilai kemuliaan dan keutaman. Dari ibu dan pengasuhnya (Bude Sastro), penulis dibiasakan berpuasa, bahkan juga bermeditasi sejak kecil. Puasa Senin dan Kamis dan puasa hari weton merupakan kebiasaan penduduk pesisir Pulau Jawa.

Pengaruh kidung-kidung Jawa, dongeng, dan pendidikan budi pekerti dalam keluarga akan membekas sangat dalam pada diri seseorang. Nilai dan budi luhur itu seolah mencerminkan nilai mulia kehidupan Baginda Rasul SAW dan para sahabatnya. (Pada bagian lain tulisannya, penulis menyayangkan sirnanya kebiasan mendonbgeng yang dampaknya, antara lain, menjadikan remaja kita menjadi kurang memiliki sifat welas asih, cenderung mencari kambing hitam ketika berhadapan dengan masalah, kurang peduli pada etika dan lain-lain.)

Apabila metode mendongeng ini yang merasuk ke pikiran anak-anak dan mencerna serta mengingatnya untuk waktu yang lama, dikaitkan dengan metode dakwah yang dilakukan para wali yang berdakwah di Pulau Jawa di antara masyarakat Hindu-Budha dan Syiwa-Budha yang telah memiliki tradisi budaya yang mapan, bisa dipahami pengajarannya disusupkan sampai menjiwai kepercayaan tersebut.

Sebagai contoh kepercayaan memberi sesaji kepada dewi penguasa pertanian, yaitu Dewi Sri. Kebiasaan ini terus berlanjut dengan sebutan sedekah bumi atau zakat dan infak hasil bumi yang dibagikan kepada masyarakat.

Masyarakat yang bangga dengan peradabannya yang maju seperti itulah yang dihadapi Wali Songo atau Wali Sembilan dalam menyebarkan agama Islam di Jawa. Para feodal dan pemuka masyarakat Jawa berpendapat tidak ada kelebihan orang Arab atas orang Jawa. Sejalan dengan bunyi sebuah hadis, para ulama menyetujui pandangan tersebut, dan melengkapi dengan ajaran bahwa tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit putih dan sebaliknya, kecuali takwa. Kita semua diturunkan dari Adam dan Adam adalah debu (hlm 118).

B Wiwoho memuji para ulama (yang disebutnya sebagai komunikator hebat) yang memasukkan roh Islam dalam kehidupan masyarakat dengan tidak membuat syariat-syariat baru, tetapi dengan memanfaatkan tradisi dan acara-acara yang sudah ada.

Prosesi yang mengiringi perjalanan kehidupan manusia sejak lahir sampai kematian tetap dipertahankan dengan diberi roh Islam. Bukankah itu bagian dari adat dan bukan syariat. Masyarakat sudah terbiasa dengan selametan ”selapanan” usia bayi, ”sunatan”, tiga, tujuh, empat puluh hari hingga seribu hari peringatan orang meninggal. Sesaji hanya diubah niatnya menjadi sedekah.

Kekuatan magis suluk

Membaca buku ini cukup menyenangkan. Kita seperti dituntun untuk bersama penulis ”menapaki jalan” yang walaupun sudah pernah kita lalui, pernah membaca atau mendengar beberapa informasi dalam buku ini dari sumber lain, kita masih bisa menikmati buku ini.

Penulis menyisipkan beberapa tembang dengan terjemahan bahasa Indonesia, memberi ruang kepada pembaca untuk berhenti sejenak dan meresapi arti dari setiap kata yang disusun secara indah, bahkan puitis oleh para pendahulu kita.

Di bawah ini kutipan satu bait dari suluk ”Singgah-Singgah” karya Sunan Kalijaga yang sangat disenangi oleh penggemar seni karawitan Jawa, apa pun agamanya. (Penulis pernah mendengar kaum kristiani mendendangkannya.)

Singgah-singgah kala singgah

Tan suminggah Durgakala sumingkir

Sing asirah sing asuku

Sing atan kasatmata

Sing atenggak sing awulu sing abahu

Kabeh pada sumingkira

Hing telenging jalanidi

Terjemahan bebasnya:

Menyingkirlah wahai segala hal yang jahat

Tidakkah kalian mau menyingkir, padahal dewa kejahatan kalian Betari Durga dan Bathara Kala pun sudah menyingkir

Wahai kalian segala makhluk, baik yang memiliki kepala maupun yang memiliki kaki

Yang tak tampak mata

Yang memiliki leher, yang berbulu dan yang memiliki bahu

Kalian semua menyingkirlah

Pergi ke dasar samudra

Suluk di atas dipercaya mempunyai kekuatan magis dan konon sangat diyakini oleh masyarakat pada abad ke-15  hingga abad ke- 16. Jika dikaji secara mendalam, suluk di atas membangkitkan kekuatan bawah sadar kita untuk membangun sugesti diri menghadapi semua bentuk kekuatan buruk (hlm 264).

Sungguh membaca buku ini membuat banyak kenangan masa kecil muncul (untuk yang dilahirkan dalam keluarga Jawa yang penuh dengan tradisi), namun yang lebih penting adalah pembaca mendapat gambaran bagaimana dahulu para Wali Sanga menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan.

Bagi saya, kalimat yang menarik dari penulis (antara lain) adalah: ”Dalam berdakwah mereka menghindari kata-kata kotor, ancaman dan gambaran-gambaran yang menyeramkan. Tidak ada nuansa pedang dan darah. Tidak ada gambaran siksa kubur dan api neraka seperti sinetron televisi di awal abad 21. ..”

Terakhir, sebagai catatan, kalau boleh saya usul akan lebih baik jika Bab XIII Tafsir Wirid Hidayat Jati, yang di buku ini letaknya sebelum Komentar-Komentar ditempatkan di depan, setelah Pengantar (hlm 11). Agar membantu pembaca mendapat bekal wawasan untuk memasuki bagian demi bagian buku ini.

Threes Emir

Penulis buku

Sumber:
https://www.kompas.id/baca/buku/2021/05/16/roh-islam-dalam-budaya-jawa/?utm_source=bebasakses_kompasid&utm_medium=whatsapp_shared&utm_content=sosmed&utm_campaign=sharinglink

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *