Gerakan Dakwah Ideal Sunan Ampel


Buku ini berbicara dakwah Sunan Ampel, salah satu sesepuh dewan para waliyullah di kota Surabaya. Dalam konteks dakwah, Kanjeng Sunan mengajarkan etika dakwah yang baik dan benar sesuai dengan prinsip dan ajaran dakwah yang pernah dilakukan oleh baginda nabi Muhammad SAW: dakwah yang harus disampaikan dengan hikmah dan mau’idzah hasanah (hal. 201).

Buku ini terdiri dari lima bab. Di bagian bab pertama diperkenalkan biografi Sunan Ampel. Mulai dari nasab tersebut, beliau adalah keturunan dari Rasulullah SAW yang ke 21 jika dilihat pada versi naskah negarakerthabumi (Wangsakerta Cirebon tahun 1695). Menurut versi silsilah Sunan Giri, beliau keturunan Rasulullah SAW yang ke 22. Sebagai bagian dari keturunan Rasulullah, tentunya menjaga keotentikan dakwah Islam menjadi tanggung jawabnya. Tanggung jawab tersebut dapat dibuktikan melalui usahanya mendirikan pesantren di Ampeldenta.

Sunan Ampel dalam mendidik para santrinya yaitu dengan penuh perhatian dan keteladanan. Beliau mengajarkan arti penting sebuah kehidupan yang harus dibingkai dengan nuansa keagamaan, dan dipupuk dengan pondasi tasawuf (akhlakul karimah). Melalui cara pandang serta pendekatan tersebut sehingga Sunan Ampel berhasil melahirkan kader-kader santri ideal: ada Sunan Kudus, yang cakap di bidang fikih; Sunan Gunung Jati, yang cakap menjadi panglima perang; ada kader negarawan, Raden Fatah, misalnya; kader waliyullah, dan lain sebagainya. Dari tangan para santri inilah kemudian masyarakat Nusantara–sekarang Indonesia–berhasil memeluk agama Islam dengan damai.

Gerakan dakwah wasathiyah yang diajarkan Kanjeng Sunan Ampel tersebut adalah merupakan sebuah gerakan dakwah yang terkenal unik dan menarik, karena pada saat itu sebelum kehadirannya ke tanah Jawa, banyak daripada para pendakwah sebelum beliau yang datang dari Arab bisa dibilang belum berhasil mengislamkan masyarakat. Karena sebelumnya mereka telah kental dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu kepercayaan kepada benda-benda yang dianggap memiliki energi sakti dan kepercayaan kepada arwah leluhur. Kepercayaan ini ada pada ajaran agama Kapitayan–yang sudah dipeluk orang Jawa sebelum datangnya agama Islam.

Menurut Kiai Agus Sunyoto, dulunya tanah Jawa dikenal sangat angker. Banyak makhluk halus dan jahat menjadi penghalang dakwah mereka. Berkah karomah Kiai Subakir yang bisa bisa menetralisir serta bisa mengusir para dedemit tersebut pergi menjauh dari Nusantara dan tidak lagi mengganggu perjalanan dakwah mereka.

Selanjutnya, mengapa dakwah wasathiyah begitu penting? Di buku ini dijelaskan, seandainya dakwah yang ditampilkan meniru cara lama dalam berdakwah, artinya menggunakan pendekatan kekerasan dan paksakan, sebagaimana pernah dipertontonkan dalam percaturan politik masa lalu, justru itu hal itu malah mencerminkan perjalanan politik yang gagal. Hal itu bertentangan dengan dakwaan sebagaimana diajarkan oleh sang baginda Rasulullah. Selain itu, orang Indonesia akan sulit menerima Islam, karena dari sejak sebelum datangnya Islam masyarakat sudah memeluk agama Kapitayan. Mereka akan menolak ajakan untuk masuk ke dalam agama Islam.

Rupanya benar adanya. Bahwa, dakwah wasathiyah mampu menggiring kepercayaan masyarakat yang awalnya menyembah roh jahat berpindah kepada keyakinan yang benar, yaitu percaya kepada Allah SWT. Kanjeng Sunan Ampel tidak membenarkan apabila dakwah dilakukan dengan cara kekerasan. Sebagaimana kanjeng Sunan Ampel pernah melarang cara dakwah Raden Fatah, yang ingin memerangi ayahnya sendiri, Brawijaya V, yang saat itu belum masuk Islam.

Menurut Kanjeng Sunan, bahwa peperangan bukan bagian dari karakter dakwah Islam yang diajarkan para wali. Ajaran Islam menurut kanjeng Sunan adalah harus disampaikan dengan hikmah dan mau’idzah hasanah (hal.133-134). Penjelasan kanjeng Sunan seperti dirujuk pada naskah Serat Sejarah Demak (Kodeks BL Add 12313):

“Sang wiku [kanjeng Sunan Ampel] angandika: ” Aja mangkono sira ki bayi, ramanira, apa nora nyegah, wong kang mangsuk agamane. Kanjeng Sunan Ampel berujar dengan tegas kepada Raden Fatah yang memaksakan diri mau memerangi Majapahit: kamu, Raden Fatah, jangan bersikap demikian (negatif,sembrono) kepada ayahandamu sendiri. Apakah beliau pernah mencegah dan melarang orang-orang masuk agama Islam?” (hal. 201).

Rupanya pelarangan kanjeng Sunan Ampel melakukan pemaksaan dan peperangan dalam berdakwah karena beliau menghormati kekuasaan Brawijaya V yang telah memberikan kesempatan kepada kanjeng Sunan untuk mengislamkan masyarakat Majapahit saat itu. Sehingga, di Surabaya ini (pesantren Ampel yang difasilitasi oleh Kerajaan Majapahit) menjadi pusat pengislaman penduduk.

Adapun alasan lain kenapa kanjeng Sunan juga melakukan pelarangan kekerasan dalam berdakwah, karena Rasulullah SAW sendiri tidak melakukan pemaksaan kepada pamannya sendiri, Abu Thalib. Bukan hanya Rasulullah, banyak dari para Nabi yang lain yang juga belum berhasil mengislamkan keluarganya tetapi mereka tidak memaksakan.

Seperti pengakuan Abu Thalib yang dikutip buku ini: “Dia (Muhammad (juga tidak marah kalau kita tidak menjadi pengikutnya. Contohnya, aku sendiri masih tetap memeluk agama nenek moyang kita. Muhammad tidak pernah memaksaku memeluk Islam” (hal. 204).

Buku ini menarik dibaca, terutama bagi mereka yang pada saat yang bersamaan sedang menekuni di bidang dakwah agar kehadiran buku ini menjadi pertimbangan dan solusi serta menjadi panduan dalam melakukan gerakan dakwah wasathiyah tersebut. Selamat membaca.
________________________________________
Ashimuddin Musa, Santri Pesantren Motivator Qur’an Indonesia, Bogor Ciampea.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − three =