MEMBEDAH ILUSI IDENTITAS ARAB DI INDONESIA

Oleh: Haidar Bagir

Saya Haidar Bagir Alhabsyi. Tetapi saya tak pernah memakai nama marga saya itu—Alhabsyi—di belakang nama saya. Dan jika ingatan saya benar, saya dengan penuh kesadaran melakukan hal itu. Kesadaran apa itu? Karena saya tak ingin diidentifikasi sebagai “Arab” dan lebih senang dianggap sebagai bangsa Indonesia seperti yang lain (sayang sekali wajah saya: alis, mata, hidung, sama sekali tak menggambarkan keindonesiaan. Apa boleh buat, wong sudah dari sononya begitu…).

Dan ternyata bukan hanya saya saja. Kami delapan bersaudara tak ada satu pun yang menempelkan nama marga kami di belakang nama kami. Dan ayah kami pun, Muhammad Bagir Alhabsyi, bukan saja tak berkeberatan, namun justru mendukung sikap dan keputusan kami. Ayah kami, yang lahir dari seorang ayah migran asli kelahiran Provinsi Hadramaut, Yaman (Selatan), memang menunjukkan preferensi yang sama. Meski beliau seorang ustaz yang sering didaulat untuk berceramah agama, beliau memilih untuk selalu memakai sarung, kemeja (tak jarang dibalut jas), dan songkok hitam khas Nusantara.

Banyak orang menyukai ceramah beliau yang progresif, cenderung rasional, tetapi mudah dipahami. Meski tidak semua, audiensnya adalah sesama orang keturunan Yaman di Solo. Mereka memuji-muji ilmu beliau. Kalaupun ada kritik, maka itu terkait soal pakaian. Sebagai ustaz keturunan Yaman—habib pula—orang berharap ayah saya memakai jubah putih dan kopiah putih juga ala habaib. Tetapi ayah saya selalu menolak. Pakaiannya tak pernah berubah, yakni pakaian umumnya ustaz Indonesia.

Bahkan, bukan itu saja, ayah saya adalah di antara pengambil keputusan dalam perubahan nama sekolah yang dipimpinnya, dari nama berbau Arab ke nama asli Indonesia. Sekolah, yang juga ikut didirikan oleh ayahnya itu, yang asalnya bernama Rabithah al-‘Alawiyah (Perkumpulan kaum ‘Alawi; yakni keturunan ‘Alwi ibn’ Ubaydillah, yang merupakan cucu Imam Ahmad ibn ‘Isa al-Muhajir, migran pertama dari keturunan Nabi Saw. dari Irak ke Hadramaut) menjadi Sekolah Diponegoro. Belakangan malah beliau meninggalkan Solo dan Kelurahan Pasar Kliwon—sebagai wilayah “kampung Arab”, tempat kelahiran dan telah lebih dari 50 tahun menjadi tempat tinggalnya—untuk pindah ke Bandung dan sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk pendidikan keagamaan bersama jamaah yang nyaris tak lagi beridentitas Arab.

Bahkan, di antara alasan hijrahnya itu adalah kurangnya kesejalanan dengan sebagian kelompok keluarga besar ‘Alawiyin terhadap pemikiran-pemikirannya yang sedikit banyak tidak “ngarabi”, dan tidak “ngalawiyini”. Malah, sebaliknya, beliau justru cukup kritis kepada gejala penguatan simbol-simbol kearaban dan ke-‘alawiyah-an yang  merupakan keluarga besar biologisnya. Itu semua karena semata-mata bentuk tanggung jawab kekeluargaan yang memang selayaknya ditunaikannya. Mayoritas jamaah beliau di Bandung adalah mahasiswa-mahasiswa ITB, Unpad, dan universitas-universitas lainnya di kota itu.

Alhasil, bagi keluarga kami, tak pernah ada keraguan sedikit pun bahwa kami adalah orang Indonesia. Bukan saja kami merasa sebagai orang Indonesia, kami bahkan tak pernah secara sadar merasa atau membawa diri sebagai orang “Arab” keturunan migran. Ke Yaman pun saya belum pernah, tak juga saudara-saudara saya yang lain. (Penulis buku ini pun rasanya juga belum pernah).

Ayah saya, sebagai anak tunggal, memang pernah sekali diajak ayahnya ke Hadramaut, untuk selanjutnya berencana bersekolah di Al-Azhar, Mesir. Bahkan kakek saya sempat terpikir untuk kembali tinggal di Hadramaut sambil tetap bisa dekat dengan anak tunggalnya yang akan bersekolah di Mesir itu. Maklum, istri (pertama) beliau di Indonesia belum lama meninggal dunia, sedang beliau masih memiliki keluarga pertamanya di Hadramaut—sebelum migrasi ke Indonesia. Tetapi masa-masa tinggal di Indonesia telah begitu berkesan, bahkan di hati kakek saya itu, sehingga prospek tinggal kembali di Hadramaut sama sekali sudah tak menarik baginya. Bahkan, negeri kelahirannya itu sudah tak lagi menjadikan masa pendek “percobaan” tinggalnya di sana menyenangkan. Ingat, kakek saya itu adalah seorang wulayti (Yaman asli, kelahiran Yaman). (Untuk kisah Muhammad Bagir Alhabsyi, dan ayahnya Hasan Alhabsyi, sila baca Sang Penggugat dari Pasar Kliwon: Biografi Muhammad Bagir Alhabsyi, susunan Mustofa Najib, yang akan terbit tidak lama lagi). Jadi, jangankan generasi saya atau generasi ayah saya, bahkan kakek saya pun lebih merasa nyaman dan belakangan lebih mencintai tinggal di Indonesia ketimbang negeri kelahirannya sendiri. Maka, setelah hanya beberapa bulan di sana, kakek saya memutuskan pulang dan tanpa ragu tinggal di Indonesia sampai akhir hayatnya.

Sesungguhnya banyak orang keturunan Yaman di Indonesia punya perasaan yang sama. Mereka lebih mencintai dan merasa diri sebagai orang Indonesia ketimbang orang Yaman—meski tak sedikit yang tetap menyimpan kerinduan alami untuk, setidaknya, pernah berkunjung ke sana. Bahkan kaum ‘Alawiyin/habaibnya—dan ini berbeda dengan Alawiyin di Malaysia atau Singapura, misalnya—tak ada lagi yang menyematkan gelar sayyid di depan namanya.

Gelar Habib di masa itu hampir-hampir hanya disematkan kepada ulama kelahiran Hadramaut atau yang pernah tinggal lama di sana. Itu pun hanya dari kelompok ulamanya. Maka, perlu ditegaskan di sini bahwa kecenderungan meng-Arab dan meng-habib di kalangan keturunan Yaman di Indonesia ini, khususnya ‘Alawiyin, adalah hal yang relatif baru. Sebuah gejala yang bisa dibilang “mundur” kepada apa yang oleh penulis buku ini disebut sebagai “Ilusi Identitas Arab”. Sebab, sebelum-sebelumnya, selama berabad-abad, para keturunan Yaman ini sesungguhnya telah hidup membaur dengan orang asli/pribumi Indonesia—meski istilah orang asli/pribumi ini pun sesungguhnya amat problematik juga (mana ada orang “asli”? Apalagi setelah teknologi DNA membuktikan bahwa sesungguhnya setiap orang terlahir sebagai campuran ras berbagai bangsa?).

Mulai dari Wali Songo—setidaknya sebagian besar mereka—bahkan Syekh Siti Jenar dan tak sedikit ulama besar pembawa Islam ke Nusantara lainnya, mereka disebut- sebut sebagai keturunan kaum ‘Alawiyin dari keluarga Azhamat Khan (keturunan Abdul Malik ibn ‘Ammul Faqih, yang merupakan keturunan ke-6 dari ‘Alawi ibn Ubaydillah, nenek moyang kaum ‘Alawiyin yang sudah saya sebut di atas). Lalu ada lagi gelombang kedua migrasi orang-orang Yaman yang begitu terampil membaur sehingga mereka sampai diadopsi ke dalam  keluarga raja-raja Nusantara melalui “perkawinan silang”. Bahkan, belakangan, mereka sendiri—atau keturunan-keturunan mereka—didapuk menjadi raja-raja di berbagai wilayah Nusantara.

Kiranya, sebagaimana diungkapkan oleh buku ini, awalnya peng-Arab-an adalah “jebakan batman” Pemerintah Kolonial Belanda yang tak ingin keturunan Arab (baca: Yaman)—yang dihormati di Nusantara—berpihak kepada gerakan perlawanan”pribumi”. Dengan kata lain, Belanda berupaya keras memisahkan keturunan “Arab” dari “pribumi”. Tidak selalu berhasil, memang. Selalu ada orang-orang yang kemudian justru memperkuat gerakan perlawanan bangsa Indonesia tersebut, termasuk di dalamnya mereka yang mendirikan Jamiat Khayr yang amat nasionalis itu. Dan belakangan ada kelompok Partai Arab Indonesia (PAI) maupun juga kelompok non-PAI yang lebih tradisional, yang ternyata tak kalah nasionalisnya dari kedua kelompok yang disebut pertama.

Sayangnya, sebelum kekuatan nasionalis dari keturunan Yaman itu benar-benar telah mencapai posisi final nasionalistik keturunan Yaman yang tak bisa balik lagi (irreversible), sebuah gejala baru, sebuah arus baru yang tidak sejalan, muncul. Sumbernya sebenarnya adalah suatu perkembangan yang otherwise amat baik di Hadramaut, yakni bermunculannya lembaga-lembaga pendidikan yang relatif modern di sana. Yang terkenal di antaranya adalah Rubath Tarim di bawah kepemimpinan Habib Abdullah bin Umar al-Shathiri; Darul Musthofa di bawah kepemimpinan Habib Umar ibn Hafizh; dan Universitas al-Ahgaf yang didirikan oleh Habib Abdullah ibn Mahfuzh al-Haddad.

Bersama dengan masuknya arus para sayyid yang bersekolah dan lulus dari Iran—dan membawa mazhab ahlul bait yang juga memuliakan keturunan Nabi—masuk pulalah arus lulusan dari sekolah-sekolah di Hadramaut tersebut. (Sebetulnya ada juga arus masuknya para keturunan Arab asal Indonesia lulusan sekolah-sekolah di Saudi dan Yaman. Tetapi yang ini beraliran salafi, dan nyaris merupakan antitesis aliran keagamaan kaum ‘Alawi). Tetapi arus ini pun, melalui jalur berbeda, juga memperkuat kecenderungan kearaban, melalui ajaran salafiyah yang mereka bawa.

Memang aliran Salafiyah menganggap bahwa ajaran Islam yang murni adalah ajaran Islam yang dikembangkan oleh para ulamanya sampai abad ke-2 Hijriyah dan bahwa Muslim harus selalu merujuk ke era ini. Dengan kata lain, mayoritasnya adalah ulama-ulama “Arab”. Jadi, lagi-lagi, sejak awal aliran ini sudah serba kearaban dan akan terus demikian. Adanya arus baru “versi” Islam dari Yaman melalui kalangan habaib ini—dengan segala simbol kearaban/kehabaibannya (juga salafiyahnya)—secara cepat bisa merebut tempat dalam panggung dakwah Islam di Indonesia.

Hal ini dipermulus dengan adanya kepercayaan tradisional di kalangan NU—yang merupakan mayoriitas masyarakat Muslim di Indonesia—tentang kemuliaan keturunan Nabi Saw. dan keharusan taat kepada mereka. Tanpa bermaksud mereduksi persoalan, apalagi bersikap sinis, dukungan masyarakat Muslim Indonesia ini sekaligus menguntungkan para pembentuk arus baru ini dalam memastikan posisi sosial-ekonomi yang baik bagi mereka. Apalagi, pada kenyataannya, memang ada gejala kecenderungan penurunan pencapaian sosial-ekonomi di kalangan keturunan Yaman di negeri ini.

Saya sama sekali tak ingin mengatakan bahwa para ustadz keturunan Yaman ini telah berupaya memanipulasi orang dengan keustazannya demi mencari uang—meski penipu model ini selalu ada di kelompok mana pun—tetapi bahwa unsur keagamaan, sekali lagi, bertemu dengan unsur sosial-ekonomi di sini. Kita memang tak bisa  menyatakan bahwa dengan demikian keturunan Yaman di masa ini telah memisahkan diri dari pribumi san menjadi eksklusif. Tidak. Bukan saja mereka pada kenyataannya telah berusaha membaur, bahkan mereka diterima dengan sangat baik oleh “pribumi”—setidaknya di kalangan cukup banyak kelompok masyarakat ini.

Meskipun demikian, pada saat yang sama mereka seperti memperkuat identitas kearaban atau kehabiban mereka. Betapa tidak, bukankah identitas ini yang menyebabkan mereka diterima dan mendapatkan tempat yang baik di negeri Nusantara ini—dengan cara yang relatif mudah dan tak banyak membutuhkan kerja keras (labour) intelektual dan aktivistik,  sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka di zaman migrasi awal, sampai sebelum abad 19-an itu?

Saya tak akan lagi berpanjang-panjang dengan kata pengantar ini. Namanya juga kata pengantar. Maka, baiklah, saya silakan para pembaca untuk mendaras buku yang mencerahkan dan membuka mata kita ini tentang fenomena kearab-araban yang menguat belakangan ini di negeri kita. Bukan saja penulis ingin menyatakan bahwa fenomena ini merupakan suatu kemunduran bagi kaum keturunan migran Hadramaut (Yaman), tetapi sesungguhnya identitas kearaban yang mereka gotong-gotong itu sesungguhnya secara historis adalah sebuah ilusi.

Identitas Arab sesungguhnya, menurut penulis buku ini, adalah identitas penutur bahasa Arab. Arab adalah suatu kategori bahasa, bukan ras, apalagi ras unggul. Arab meliputi berbagai bangsa dan ras yang berbeda-beda, persis seperti bangsa-bangsa dan ras lain. Maka, menegaskan identitas Arab seolah-olah itu adalah suatu identitas monolitik adalah bukan saja suatu kemunduran, melainkan juga kesalahan. Malah itu bisa menjadi  kontraproduktif bagi perkembangan dakwah Islam serta kesatuan dan integritas bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia telah memiliki identitas kenusantaraan, yang bukan cuma luhur, tetapi juga bukan tak sejalan dengan ajaran para habaib itu. Bukankah interaksi antara Bangsa Nusantara dan bangsa Yaman (Hadramaut) sudah terjadi bahkan sejak sebelum masa Wali Songo, yakni di abad 12/13 bersama kunjungan Syekh Mas’ud al-Jawi ke negeri itu? Dan bukankah sejak itu sesungguhnya pengaruh pemahaman Islam di Hadramaut sudah bekerja dalam perkembangan pemikiran Islam di Nusantara melalui Wali Songo dan para ulama pada era yang sama? Juga pada era perkembangan faham Martabat Tujuh Wujudi atas banyak ulama Islam sejak Makassar (Syekh Yusuf Makasari), Aceh (setidaknya pada Syekh Nuruddin ar-Raniri dan para muridnya), sampai Jawa (Syekh Muhyiddin, K.H. Hasan Mustopha, dll.), hingga masa-masa sebelum pendirian NU sampai sekarang ini, yang di dalamnya para pendiri dan tokoh NU belajar dari para ulama Habaib dari Yaman, dan memakai buku-buku karya mereka di pesantren-pesantren yang mereka kembangkan? (Lihat tulisan penulis pengantar ini yang berjudul Napas Cinta dari Hadramaut dan Jaringan Ulama Nusantara dengan Ajaran Para Habaib Sepanjang Sejarah: Sebuah Outline, serta Peran Habaib dalam Pengembangan Islam Nusantara).

Maka, bukan saja sudah seharusnya identitas keindonesiaan ini dipelihara sebagai identitas sejati para keturunan Yaman di Indonesia, pada kenyataannya identitas kenusantaraan pun sudah mengapropriasi identitas keyamanan, setidaknya di bidang pemahaman keislaman. Dan para keturunan Yaman, yang mayoritasnya  bukan penutur bahasa Arab asli, sudah seharusnya menegaskan dirinya sebagai pemilik identitas tunggal Indonesia: secara tegas, tidak ambigu, dan bukan hanya merupakan lips service saja sebagaimana banyak terkesan selama ini.

Akhirnya, meski penulis buku ini sudah memberikan disclaimer bahwa buku ini lebih merupakan sebuah eksplikasi fenomenologis ketimbang sebuah karya ilmiah berdasarkan penelitian mendalam, tak urung buku ini merupakan suatu otokritik dan analisis tajam yang membuka mata tentang isu yang dibahasnya. Diharapkan seluruh elemen bangsa Indonesia—baik yang selama ini disebut “keturunan Arab” maupun yang biasa disebut “pribumi”—bisa mengambil manfaat darinya dalam upaya meluruskan dan menjernihkan kesadaran dan persepsi mereka semua tentang identitas kearaban, sehingga darinya bisa diharapkan lahir sikap dan pandangan yang proporsional, lurus, dan konstruktif bagi perkembangan Islam dan kebangsaan di Indonesia.

Selamat. Semoga juga penulisan buku ini membawa banyak berkah bagi Sdr. Musa Kazim Alhabsyi sebagai penulisnya, dan selamat menikmati serta mengambil manfaat bagi semua pembaca.*

Share:

1 thought on “MEMBEDAH ILUSI IDENTITAS ARAB DI INDONESIA

  1. Saya berterima kasih sekali bisa membaca tulisan ini.
    Saya sedang prihatin dengan sikap kurang baik, yang muncul dalam keluarga saya. Mereka memang bukan orang yang berpendidikan Agama sih. Kesan mereka terhadap “habib” akhir-akhir jadi kurang baik. Menurut pemahaman mereka, habib itu bengis, kejam, suka memaki dan seterusnya. Kesan itu muncul mungkin karena level pengetahuan yang terbatas. Saya memakluminya.
    Atas kejadian itu, saya memilih untuk membaca beberapa buku dan tulisan tentang fenomena habib di Indonesia. Ada novel “Di Antara Dua Cinta, karya Musataf Najib”, dan beberapa tulisan yang linknya diberikan oleh Mas Zainal Abidin Bagir, guru saya. Saya juga mendengar ulasan Prof. Quraish Shihab di dalam podcstnya. Sungguh mencerahkan. Bacaan itu sangat membantu saya, hingga saya bisa sedikit menjelaskan kepada keluarga saya, bahwa kesan habib mereka selama ini tidak benar. Banyak sekali jasa yang telah diperjuangkan oleh para habib di Nusantara ini. Sekali lagi terima kasih. Semoga kita selalu bisa memberikan pencerahan sekecil apapun kepada orang terdekat.

    Salam
    Ahsan Jamet Hamidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 − nine =